Selasa, 28 Februari 2012

KETIKA AKHIR MAMPU BERCERITA

Malam terasa  sangat dingin. Ditemani lolongan anjing dan bau busuk sampah di ujung selokan. Angin berhembus melalui fentilasi jendela. Sebagian ranting pohon berderik. Bernyanyi bersama. Nyanyian malam yang menakutkan.
Aku dan Flo sedang menghabiskan makan malam bersama. Di atas meja hanya ada semangkuk sereal ditemani sebotol susu dingin.
Flo membuka matanya. Lebar. Mata itu menerobos kegelapan malam yang selalu menghadirkan suasana hantu berkeliaran. Hati Flo patah.  Orang yang ia cintai mematahkannya. Membuangnya bersama seonggok sampah di selokan.
                Flo terus berjalan diiringi malam yang sakit. Semilir angin menerpa rambutnya. Meniupkan aroma kerinduan yang menusuk dadanya. Flo sayang, lupakan kesedihan ini. Suara yang sama. Suara seseorang yang mencintai aku dan Flo. Flo dan aku. Sementara aku hanya memandang mata Flo, tatapan yang dingin dan kosong.  Jika saja waktu bisa ditarik mundur. Ketika kami hanya dua gadis kecil berkepang yang hidup bahagia.  
                Aku dan Flo sepasang adik kakak yang selalu baik-baik saja. Keluarga kami cukup bahagia. Aku mencintai Flo. Dan Flo mencintai aku. Meskipun toh tak pernah ada orang lain yang mengisi kehidupan kami. Yakinlah, Aku dan Flo selalu baik-baik saja.
Maafkan aku, apakah aku bercerita terlalu cepat? Mungkin saatnya bagiku bercerita tentang keberadaanku yang cukup aneh tinggal bersama Flo. Flo saja. Tak ada yang lain. Kemana orang tua kami? Jangan tanyakan itu padaku. Tanyakan saja pada langit. Entah kemana Ia membawanya. Ayah dan Ibu kami bercerai lima tahun lalu. Lalu ayah kami yang orang belanda itu kembali ke negrinya. Kabar yang aku dengar, ia telah menikah lagi dan memiliki anak. Sementara ibu kami. Seminggu setelah perceraian itu ibu menghilang. Menyisakan secarik kertas yang mengatakan bahwa ia ingin pergi untuk tenang.
Aku rasa orang tua cukup egois. Pergi begitu saja. Meninggalkan dua anak yang tak pernah mengenal dunia luar. Aku dan Flo tidak punya teman. Kami tinggal di perkebunan besar dan menyewa belasan orang untuk merawat kami. Orang tua kami memilih program Home schooling , alasannya sekolah di kota cukup jauh. Selain itu, konon anak keturunan bangsawan tidak boleh bergaul dengan anak pribumi.
Tapi beberapa tahun kemudian keadaan kami memburuk. Perkebunan kami bangkrut. Dan kami harus menjual sedikit demi sedikit tanah perkebunan untuk menyambung hidup kami. Pak Tom, pengacara ayah yang selalu mengurusi semuanya. Aku tidak pernah tahu pasti kondisi keuangan perkebunan ini, aku hanya mendengarnya dari Pak Tom. Sementara ayah dan ibu kami menghilang. Sama sekali mereka tak mengirimkan kabar sejak tiga tahun silam. Hanya tinggal aku dan Flo di rumah belanda yang cukup besar ini. Aku dan Flo yang sangat kikuk terhadap dunia luar.
Pembantu kami juga dipecat satu persatu. Kami tak sanggup lagi menggajinya. Hingga yang terakhir. Bik Inah, yang rela hidup dengan kami tanpa digaji sepeserpun.  Kondisi perkebunan kami memprihatinkan. Semakin gersang. Dan tak sekoin pun kami hasilkan dari perkebunan. Terlebih setelah Pak Tom jatuh sakit. Keuangan kami semakin memburuk.
                “Non Flo, ayo dimakan Non...!” Teriak Bik Inah.
                “Iya Flo ayo makan,” kataku.
                “Nggak kak, Flo nggak lapar,” Jawab Flo. Air mata Flo menggenang dibawah kelopak matanya. Aku memeluk Flo. Gadis berusia 14 tahun itu hanya terisak lirih di pelukanku.
Bik Inah memandang kami. Ia tersenyum sabar melihat sikap manja Flo,
                “Non, harus makan.. Non nggak boleh nangis lagi, nggak boleh sedih. Disini ada Bibik, ada Non Clara yang selalu nemenin Non Flo,” ujar Bik Inah.
Flo masih sedih. Masih mendekam di pelukanku. Aku merendahkan posisiku. Hingga kini wajahku dan Flo berada dalam posisi sejajar.
                “Flo mau apa sekarang biar nggak nangis?” tanyaku sambil menghapus butiran air di pipi Flo.
                “Tidur yuk Kak...” jawab Flo.
Aku tersenyum.
                “Mau kakak temenin?” Tanyaku.
Flo mengangguk. Dan kami berjalan menuju ujung lorong. Tempat kamar Flo berada. Aku naik ke atas ranjang. Flo mengikutiku. Kemudian ia membaringkan tubuhnya di dekat tubuhku. Dan aku memeluknya. Mendekap tubuhnya yang mungil dan dingin.
                Mata Flo terpejam. Akhirnya, mata itu berhenti juga mengeluarkan air. Aku belum bisa terlelap. Angin dingin di luar masuk melalui celah jendela dan membuat aroma ketakutan kembali tersirat di benakku. Jadi teringat peristiwa malam itu. Aku lupa tepatnya. Yang aku ingat malam itu angin juga berhembus keras seperti malam ini.
                Gerombolan laki-laki. Mereka mengetuk keras-keras pintu rumah kami. Siapa yang datang semalam ini?  Flo membukakan pintu dan ia sangat terkejut melihat beberapa orang laki laki bertubuh besar menghadang pandangannya di depan pintu.
                “Siapa kalian?”
Lelaki-lelaki itu tertawa cekikikan sembari menatap wajah Flo.
                “Kami mau menagih untang Bapak kamu.”
                “Utang apa? Aku nggak ngerti maksud kalian.” ucap Flo.
                “Bapak kamu punya utang banyak. Dan dia menyerahkan rumah ini beserta isinya sebagai jaminannya!”
Aku mengintai Flo dari ruang makan. Sepertinya, Flo dalam kondisi yang buruk. Aku menghampiri Flo dan aku sangat terkejut melihat lelaki-lelaki bertubuh kekar itu sedang berbicara dengan Flo.
                “Tapi utang apa? Kami sama sekali nggak ngerti.” Tanya Flo.
                “Utang untuk membesarkan kalian. untuk merawat perkebunan ini! Untuk memberi makan kalian! Sudah jangan banyak tanya! Minggir! Saya mau masuk!”
                “Nggak! Kalian nggak boleh masuk!”
Flo menghadang di depan pintu. Gadis kecil itu tampak lebih berani malam ini. Sesaat kemudian Terdengar dua letupan senapan. Satu mengarah ke kepala Flo satu mengarah ke dadaku. Tepat di jantungku.
Flo mati. Dan aku menyusulnya. Bik inah berlari ke ruang tamu dan Ia melihat tubuhku dan Flo terkapar di lantai. Bik Inah memeluk haru tubuh kami. Gerombolan lelaki itu tak berhenti begitu saja. Mereka menembak kepala Bik Inah dan membuatnya hancur seketika. Kami. Tiga mayat yang terkumpul di dalam ruang tamu. Bik Inah mati memeluk aku dan Flo. Hanya dia yang menyayangi kami. Kemudian gerombolan lelaki itu menarik tubuh kami. Menyeret kami satu persatu ke halaman belakang dan menguburkannya bersama para cacing dan tanah basah.

Minggu, 26 Februari 2012

REDUP


Aku mau jadi pengantinmu dengan kerudung putih, gaun, dan mahar. Tapi kamu adalah malaikatku. tak ada pernikahan, tak ada perkawinan. Yang aku tahu aku hanya terus mencintai dan menyayangi, sampai kapan? Entahlah, sampai tak tentu  waktu.

Kamu yang berjalan didepan. Aku yang mengikutimu di belakang.
Kau bilang ingin bermain. Aku menunggumu hingga kau selesai bermain. Kamu bilang aku membosankan. Carilah kawan yang lain, yang tidak membuatmu bosan. Dan aku tetap menunggu menunggu dan menunggu. Hingga kamu yang pergi bukan kerena pernikahanmu atau pernikahanku. Tapi karena kita bukan lagi sepasang sayap yang bersama.

Selamat mejauh, sementara hatiku terus mengenangmu.aku sahabatmu, dan aku mantan wanitamu. Aku dan kamu sama sama tak tahu, mana batas antara sahabat dan kekasih hati.
Kamu dan aku menjalani semua berdua. Makan berdua. Minum berdua. Aku tak lengkap tanpa kamu, tapi apakah kamu lengkap tanpa aku? Iya katamu. Tapi nyataya kamu meninggalkanku.

Kamu dan aku sama sama tahu, semua akan berakhir dengan lilin yang mati, dengan kegelapan. Apa yang kulakukan, kau lakukan? Semua tanpa arti. Lalu kemana berikutnya? Apakah aku harus menjauh dan pergi? Lari dan mati atau diam dan menanti, yaa.. menanti semua selesai, semua kisahmu dan aku, sayangmu dan sayangku, semua berakhir.sudah.. semua berakhir.


Lentera malam masih dengan lilin yang berbinar.
Mengenangmu sayang, menantimu memelukku saat dingin menyertaiku.

“aku menyayangimu” katamu.

“benarkah, lalu?”

“aku ingin bersamamu selamanya.” jawabmu.

“kenapa?” tanyaku.

“aku hanya mau bersamamu, bukan bersama yang lain” jelasmu.

Tapi itu dua tahun lalu, sementara kini.

“masihkah kau menyayangiku?”

“tak tahu” jawabmu.

“masikah kau ingin bersamaku?”

“tak tahu”

“kenapa kau tak tahu?”

“karena aku tak lagi mau menjawabnya.”

“kenapa?”

“takut air matamu mengalir bila jujur”

“katakan, aku ingin dengar!” desakku.

“tidak”

“KATAKAN!”

“hmh..” kau menghela nafasmu.

“ya, aku tak lagi menyayangimu” lanjutmu.

Air mataku meleleh jatuh di pipi.
Kamu memandangku. Tak berkata apa-apa, tak ingin memelukku atau apa. Kamu hanya diam, diam, diam, dan terus diam.

“aku sudah tau kamu akan mengangis.” akhirnya mulutmu berkata.

“kau suka dengan tangisanku ha? Kau suka dengan air mata ini?” aku menatap murka ke arahmu. Kamu tersenyum, sedikit menyengir.

“siapa suruh kamu menangis? Bukannya kamu yang memaksaku berkata jujur? Dan bila kejujuranku melukaimu, apakah itu salahku?”

aku tak menjawab pertanyaan sadismu. Jahat sekali.
Sahabatku, mantan wanitaku, atau musuhku, entah dengan nama apa aku harus memangggilmu. Kamu melukaiku. Taukah kamu tentang hati yang menyayangi lalu ditinggal pergi dan disayati? ya. Itu hatiku. Sahabatmu, mantan wanitamu, yang mencintamu

Kembali ke kamarku. Menulis catatan detik detik sebelum kematian. Diantara cahaya dan kegelapan. Diantara berjalan dan mematung. Diantara bernyanyi dan menangis. Diantara bersedih dan tak punya hati. Diantara nayala lilin yang hidup dan mati REDUP ya, itu aku. Wanitamu.

Kamu tak lagi ingin memanggilku 'sayang' sebagai tanda kau menyayagiku. Baiklah panggil aku 'musuh'.

“tak mau” jawabmu.

“kenapa?'

“aku bukan musuhmu!”
“lalu kamu siapa? Kamu tak lagi menyayangiku bukan? Mau kau panggil aku jahanam pun aku terima”
terdiam sejenak.

“hmh..” ka
mu tersenyum bengis.

“ya, aku tak menyayangimu lagi, tapi aku bukan musuhmu. Aku mantan kawanmu. Mantan wanitamu. Untuk apa aku memanggilmu jahanam? Untuk melikaimu? Bodoh..” kamu menghela nafas dingin.

“bodoh sekali.. kamu sudah cukup terluka karena kepergianku. Lantas Kenapa aku harus membuatmu luka lagi?” lanjut
mu, dan kau semakin tampak tak berperasaan.

“JAHANAM KAU!” hujatku.

“bangga sekali kau membuat luka itu! Biar apa ha? biar apa?biar aku mati karena lukamu?jahanam!” aku naik pitam. kau memandangku tanpa ekpresi.

“agar kau dan aku terlepas, sebelum semuanya semakin sakit” Jawabmu

“semakin sakit, apa maksudmu? Tidakkah kamu mengetahui aku sudah cukup sakit saat ini?”

“aku tau. Tapi lebih sakit lagi bila melepasmu nanti..” kau menunduk, memutus kalimat yang belum kau selesaikan.

“nanti.. ketika rasa sayang itu semakin besar, aku takut aku dan kamu malah semakin sulit dipisahkan” lanjutmu.
Aku terisak. Air mataku menetes. Tak kau hapus.

Aku disudut kamar gelapku. Sementara kau di atas ranjang tidurku yang kotor dan berantakan. Tubuhmu mendekat, berjalan setapak demi setapak ke arahku. Semakin dekat. Apakah kamu akan memelukku? Kuharap iya. Aku rindu bahumu. Pelukanmu. Dan kamu.
Jantungku berdegup kencang tak berirama. Jarak yang sangat dekat denganmu. Limapuluh sentimeter didepanku
Kamu berhenti. Tak lagi maju dan mendekap erat tubuhku. Kamu diam. Menatapku. Aku juga menatapmu. Dalam.

            “kenapa berhenti menangis? Lanjutkan, aku ingin mendengar tangisanmu, yang lebih keras” ucapmu kejam.
Aku terisak lagi. Kata-katamu terus menyayat. Tingkahmu membuatku tenang sesaat kemudian kembali melukaiku.
Kamu tersenyum, bengis, puas, sadis. Makhluk seperti apa didepanku ini? Senyummu, menyakitkan. Aku mendorong tubuhmu. Berlari menuju pintu, menyusuri anak tangga. Berlari. berlari terus berlari dan keluar rumah. Tetap menangis.

Menjadi manusia lingling di dalam malam yang pekat. Hiruk pikuk. Orang-orang berlarian. Kendaaan. Bunyi klakson. Suara pedagang. Suara tawa tangis anak kecil yang merengek meminta pemen. Apa yang kalian lakukan, aku bingung, kalian membuat otakku meledak.

            “aaaaaaaaaaa!” aku berteriak . Semua mata memandangku. Kemudian aku tersenyum frustasi. Dengan air mata yang tentu saja belum mengering.

Kemana kamu? Kemana kamu yang dulu? Sahabtku, mantan wanitaku yang selalu menjagaku. Kamu raib, kamu hilang. Hanya memori lama berputar kembali di otakku.
Aku dan kamu bertemu di sore yang cerah. Berjalan bergandengan menyusuri trotoar. Tersenyum, berdua, brcanda, tertawa, kemudian saling bercerita. Aku menuturkan kisahku yang pilu. Butiran air keluar dari sudut mataku, kamu menghapusnya. Kembali bercanda, membuatku tertawa. Memelukku, dan kamu berkata 'aku menyayangimu' hanya memori. Aku tak ingin semua terulang  tapi tak mungkin lagi! tak akan lagi!

tak ada aku dan kamu lagi. Tak ada KITA BERSAMA lagi. Semakin deras, air mata meleleh tak terhenti. Mengenangmu. Semua sudah berakhir sayang.
Kamu datang. Kamu diseberang alan membaa payug besar, kamu berubah pikiran?

Aku senang bukan kepalang.
Tersenyum dengan butiran air mata yang belum hilang.
Jesi!” aku melambaikan tanganku ke arahmu.
Kamu yang menoleh kana-kiri kebingungan, mendapatiku yang ada di seberang jalan.
Dihadapanmu, tepat lurus didepanmu.
Wajahmu memandangku, aku girang. Tersenyum.
Menoleh kanan dan kiri jalan, bersap menyeberang menuju tempatmu.
Sabar, sebentar lagi sayang, aku datang. Mobil masih tampak jauh.
Aku berlari, tapi..aku kembali terpaku.
Melihat sosok lain menghampiri tubuhmu.
Serang perempuan yang kenal, berteduh dibawah payungmu. Sembari memberikan sekaleng minuman soda kepadamu.
Kamu menerimanya. Menyambutnya dengan senyum. Ia tak menggandeng tanganmu, atau bersikap manja sepertiku biasanya padamu. Dia hanya membuatmu tertawa, sekaligus juga membuat aku menangis. Kembali kecewa, merasa sakit yang luar biasa. Kamu punya cara sendiri menunjukkan kebenarn yang menyakitkan.
Merasa bersalah, serta hancur dan yakin pasti kehilanganmu.
Inikah persahabatan yang semestinya? Ya. kau benar sahabat, mantan wanitaku. Kau sudah melaksankan tugasmu. Memberitau diman salahku. Membiarkan mataku berair dalam kesalahan itu, bahkan meninggalkanku.

Kamu benar kawanku, tapi,

-SAKIT! KAMU TETAP MEMBUATKU SAKIT,
MAMU MENINGGALKANKU! KAMU JAHANAM!

KAMU MENYAKITIKU, KAMU MEMBUATKU MENANGIS.
“AAAAAAA...” aku kembali berteriak seperti orang gila.
Megeluarkan air mata.
Sementara truk besar melaju kencang ke arahku. Dan mataku hanya mampu menghalangi sinarnya.
...


sahabatmu yang benar itu merangkulmu, menjauh. membiarkan aku terkapar diantara orang-orang yang mungkin tak lagi mengenali jasadku. Kamu tak menangis, hanya diam terpukul tragis kematianku. Bukankah persahabatan yang salah pasti akan berakhir, tunggu waktu saja. Cepat lambat, sakit tidak. Keduanya akan terpisah karena ada di jalur yang salah. Harunya kamu meninggalkan lebih awal. Sebelum sayangku semakin besar, hingga tak mampu melepasmu, Biarkan saja lilin yang redup itu menyala tanpa kehadirnmu. Bukan malah mati dihadapanmu sebagai sahabat, dan mantan wanitamu.

Selasa, 14 Februari 2012

KINGDOM

Ku beri tahukan padamu tentang istana besar bernama rumah. besar. bagus. tapi, siapa yang mampu bertahan tinggal di dalamnya? jika yang mendiami rumah itu adalah dua monster. Yang sehari dua hari berwajah baik, namun setelah seminggu dua minggu mereka akan menyiksa siapa saja yang ada di dalamnya. Sekalipun itu, anak-anak mereka. Buah cinta yang konon katanya menjadi tombak harmonisnya suatu rumah.
harmonis apa?
tiga anak monster yang tinggal dirumah ini saling membenci. Satu diantaranya bernama Saya. Saya membenci segala yang berhubungan dengan rumah ini. Apalagi saat ramai. saat anggota keluarga monster berkumpul. Saya ingin menutup telinga saya rapat-rapat. pergi ke kamar saya. Mengungsi. Membiarkan suara-suara gaduh itu meraung.
hingga senyap-
dan saya baru memberanikan diri mendekati dapur. Mengambil sesuap nasi untuk makan. Siapa sangka jika dalam istana bernama rumah sebesar ini ada perempuan kecil yang harus mengendap-endap terlebih dahulu untuk menculik sesuap nasi. Ironi. 
tahukah anda ketika saya di kurung di dalam rumah yang lebih mirip tempat penyiksaan ini.rasanya, saya ingin keluar. karena setiap sudut dari rumah ini hanya ditenun oleh bayangan-bayangan penderitaan saya di masa lalu.
terlalu sakit untuk saya ungkapkan. Saya masih ingat saat rambut saya dijambak oleh monster laki-laki yang saya panggil ayah. Dengan bengisnya ia menarik rambut saya dan menyeret tubuh saya mengitari rumah. Saya hanya perempuan sembilan tahun saat itu. Lalu tahukah anda apa yang kemudian di lakukan lelaki bengis itu dengan rambut panjang saya? Ia memangkas rambut saya. Mahkota saya. Dan membiarkan saya menangis bersama sisa-sisa rambut panjang saya yang berserakan di lantai. Itu sebabnya, seumur hidup saya tak pernah memiliki rambut panjang. Saya takut. Saya trauma. Saya tak ingin lelaki itu melakukan hal yang sama pada saya. Lagi.  
Lalu tembok ruang tamu. Saya juga masih ingat saat kepala mungil saya dibentur-benturkan ke tembok itu, Lagi-lagi oleh laki-laki yang saya sebut ayah. Bahkan terkadang hanya karena masalah sepele, hanya karena saya merengek meminta izin keluar rumah untuk bermain.
Lalu sudut dapur. Saya masih ingat tangan besar lelaki itu terus memukul tubuh saya hingga seluruh tubuh saya memar. Dan saya terjatuh di lantai. Kulit saya yang memar bersentuhan dengan lantai yang dingin. Rasanya perih. Dan lebih perih lagi saat saya menyadari Orang biadab yang telah menyiksa saya itu adalah ayah saya. Ayah kandung saya. Entah apa yang meracuni otaknya. Tapi saya rasa, memukul saya adalah kegiatan yang paling ia sukai.
Dan tahukah anda apa yang saya katakan ketika keesokan harinya teman-teman saya bertanya apa yang terjadi pada tubuh saya, saya hanya bisa berdusta. mengatakan saya jatuh.
saya berdusta karena saya benar-benar malu dengan keadaan keluarga saya.
satu-satunya tempat yang saya rasa paling aman adalah kamar saya. tempat saya berbagi nafas dan tangis. Tempat saya menyembuhkan perih-perih memar di tubuh saya sendiri. Tempat saya bercanda dengan teman-teman saya melalui handfon. atau tempat saya berkhayal dan terus menulis melalui laptop kecil saya.
Sejuta rahasia saya simpan rapat-rapat di dalamnya. Di kolong meja, bawah ranjang, bawah tempat tidur. tulisan tentang orang-orang yang saya cintai, obat-obatan yang sering saya gunakan saat aku frustasi bahkan silet, jarum,dan juga bekas darah yang saya sembunyikan. Saya memang penuh dengan rahasia.
Tiga anak monster yang tinggal dirumah itu, menjadi anak cacat yang tak pernah terungkap. kakak laki-laki saya adalah seorang pemerkosa kecil, yang pernah hampir membunuh saya saat saya ingin mengadukannya. Lalu saya, saya rasa saya adalaah psikopad kecil, yang tumbuh dengan luka, dan sangat mencintai darah. Sementara adik laki-laki saya, lebih beruntung. Ia memilih pergi meninggalkan rumah ini saat ia masih benar-benar kecil. Ia memilih tinggal di tempat dimana ia tak akan menerima banyak luka seperti kedua kakaknya.
 Saya lupa menceritakan pada anda tentang ibu saya, ia adalah perempuan yang tak mempercayai saya bahkan saat saya mengadukan kakak laki-laki saya yang hampir meniduri saya.
***
Saya. panggil saja begitu. Saya tak ingin menyebut nama saya karena saya malu dengan kehidupan yang saya miliki. Saya tujuh belas tahun sekarang. Saya korban dari keluarga palsu yang punya nama dan harta. Kakak laki-laki saya pernah hampir meniduri saya saat saya berusia delapan tahun. Ayah saya suka memukul saya. membenturkan kepala saya ke tembok dan menarik paksa rambut saya. Sementara ibu saya selalu semangat menyoraki ayah saya yang sedang menyiksa saya. Kulit tubuh saya banyak terkelupas cakaran ibu dan ayah saya. Saya perempuan yang membenci hidup saya. Saya perempuan sakit yang masih bertahan hidup dengan kondisi keluarga saya yang sebenarnya jauh dari kata baik. Berulangkali pasang mata melihat saya dan hidup saya. mereka katakan itu sempurna.
orang tua yang baik? kakak yang pandai?
kamuflase.
Anda tak pernah melihat apa yang saya lihat. Anda tak pernah melihat ketika wajah baik-baik mereka terkadang dapat berubah menjadi monster saat mereka menyiksa saya dengan bengisnya.
Anda tak pernah rasakan apa yang saya rasakan, ketika saya harus menerima kenyataan ketika orang yang menghancurkan hidup saya adalah keluarga saya sendiri.
Anda tak pernah mengerti berapa bekas luka yang tercecer di tubuh saya dari ujung rambut ke ujung kaki. lengkap. Dan tahukah anda jika saya yang membalut bekas luka itu sendiri. Sejak kecil, saya terbiasa berteman dengan perih.
Saya ingat semua luka yang pernah dibubuhkan di tubuh saya oleh orang-orang yang seharusnya melindungi saya. Keluarga saya. Dan tahukah anda hal itu membuat saya tumbuh menjadi perempuan sakit?
Saya memilih hidup dengan cara saya. Saya pengkonsumsi obat dalam dosis besar. Saya penghisap rokok. Saya suka melukai diri saya sendiri. Saya menghabiskan berlinting-linting tembakau saat saya sedang frustasi atau berbutir-butir pil saat saya merasa terlalu lelah untuk bertahan hidup. bahkan terkadang berpuluh puluh sayatan saat seseorang yang saya percaya menyakiti saya.
Yang membuat saya tak mengerti adalah, saat ayah saya mengetahui bekas sayatan di tangan saya karena saya frustasi dengan kondisi keluarga saya. Ia menangis. Menyatakan menyesal. Meminta maaf dan berjanji tak akan menyakiti saya lagi. Saya pikir ia benar-benar menyesal telah membuat hidup saya menderita.  Saya pikir ia dapat berubah menjadi malaikat dalam keluarga saya. Saya pikir. Dan saya mencoba mempercayainya.
Tapi lihat? Apa yang dia lakukan. Belum genap tiga hari setelah ia meminta maaf kepada saya. Hari ini ia kembali memukul saya. menampar saya. menjambak rambut saya. Menyeret tubuh saya dari ruang tamu ke kamar mandi.
Lagi?
saya berteriak. dan dengan semakin senangnya ia memperlakukan saya.
SEPERTI BINATANG. 
kulit saya penuh lebam dan hati saya berpuluh kali lebih lebam dari tubuh saya. saya jadi tak mengerti apa itu keluarga. kata guru saya saat saya kecil, keluarga tempat berlindung. tapi tahukah anda? jika satu satunya yang melukai saya adalah keluarga saya sendiri?
Sementara ibu saya yang tak perduli dengan keadaan saya itu kembali menyoraki memberi semangat pada ayah saya untuk terus memukul saya. Keluarga macam apa ini?
Saya menangis. Menghabiskan waktu saya di kamar. Memandang pilu berbagai luka yang terlukis di tubuh saya. Saya sudah tujuh belas tahun dan saya tetap disiksa. Haruskah saya pergi dari tempat ini? Sungguh, saya ingin berteriak. Saya benci keadaan seperti ini.
Tubuh saya sakit, dan hati saya lebih sakit lagi. Saya menjejali mulut saya dengan obat tidur. banyak sekali, agar saya lekas tertidur. Agar luka di tubuh saya dan di hati saya tidak terasa sakit lagi.
saya menangis. hanya menangis. dan tidur seperti orang mati. Lama sekali.

Minggu, 01 Januari 2012

CEMBURU


Apa yang kau rasakan jika kekasihmu masih memikirkan perempuan lain ketika ia bersamamu?
Masih mencintai perempuan lain ketika ia menghabiskan waktunya bersamamu?
Masih merindukan perempuan lain ketika ia menggenggam tanganmu?
Kau sangat mencintai kekasihmu itu.
Kau sama sekali tak meminta apapun darinya.
Kecuali satu, hatinya.
Kau ingin hatinya untukmu.

Tapi lihat. Lihat dia. Dia. Perempuan busuk yang mengambil hati kekasihmu. Hubungan mereka tak selama kau dengan kekasihmu. Apa yang ia berikan juga tak lebih dari yang kau berikan pada kekasihmu. JAHANAM! Apa yang kau lakukan pada kekasihku sehingga tiap detiknya telingaku harus tersiksa oleh namamu. Aku ingin kau mati! Aku ingin kau tak pernah ada dalam hidup kekasihku.
                Tapi hati memang lancar bicara. Tak seperti mulut yang kaku berkata. Setiap kekasihmu menyebut namanya kau hanya bisa diam. Diam. Diam. DIAM. Karena itu satu satunya yang bisa kau lakukan. Ketika kau marah pada kekasihmu, maka ia akan balik memarahimu. Itulah kekasihmu. Kau harus bersabar. Karena itu yang membuatnya tetap bersamamu. Tetap disampingmu.
                Apapun kau lakukan untuk merebut hati kekasihmu. Kau rela lelah. Kau rela mati untuknya. Apapun yang bisa kau berikan padanya, pasti kau berikan. Apa yang ia inginkan, pasti kau turuti. Karena kau mencintainya. Benar-benar mencintainya. Tapi lihat, apa yang kekasihmu lakukan padamu. Dia menyebut nama perempuan itu. Lagi. Lagi. LAGI? Ini untuk ke berapa kali sayang? Hatimu remuk. Patah berjatuhan. Kau membiarkan mulut kekasihmu menyebut namanya. Bercerita tentang perempuan busuk itu lagi padamu. Sementara hatimu. Hancur. Sanggupkah kau membayangkan sakitnya? Kau sudah melakukan apapun untuk kekasihmu. Kau rela kesucianmu direngutnya. Tapi dihatinya tak ada namamu. Yang ada nama perempuan lain. Perempuan jahanam.
                Kau ingin mengiris nadimu? Kau ingin mati? Iya. Jika aku menjadi kau aku juga pasti ingin melakukannya. Tapi tentu saja sestelah aku menyingkirkan nama perempuan itu dari hati kekasihku. Aku ingin membunuh perempuan itu. Aku ingin perempuan itu mati lebih dulu! Aku ingin kekasihku tahu, jika aku mencintainya. Jika aku yang paling mencintainya. Lebih dari siapapun.
                Kekasihmu itu. Membual. Katanya ia akan hidup selamanya denganmu. Katanya Cuma kamu yang mengisi hatinya. Mengisi dadany. Tapi, lihat. Apa yang ia lakukan padamu. Malam ini ia kembali mereobek hatimu. Ia tahu kau terluka, tapi ia sama sekali tak ingin tahu. Tak ingin berkata maaf. Dia tak perduli padamu.
                Air matamu mengalir. Membasahi lantai yang penuh dengan darahmu. Entah darah darimana saja. mungkin darah tikus. Darah mensturasi. Atau darah apa saja boleh. Kau ingin tenang malam ini. Tapi kau benar-benar tak bisa. Di otak mu hanya ada kekasihmu itu dan perempuan jahanamnya.
                Akhirnya, lagi lagi kau menegak obat tidur. Ini hal buruk kedua yang sering kau lakukan ketika kau merasa terlalu sakit untuk hidup normal. Oh ya, aku lupa memberitahumu. Hal buruk pertama yang sering kau lakukan adalah menyayat kulitmu. Dengan benda apapun. Pisau dapur, jarum, pines, atau apapun. Ketika darahnya merembes keluar. Rasa tenang mengikutinya. Dan akhirnya kau dapat tertidur. Tidur yang sakit.
                Suatu hari ketika kekasihmu melakukan hal yang sama padamu. Lebih buruknya kali ini ia melakukannya setelah ia bercinta denganmu. Kekasihmu kembali menyebut nama perempuan itu. Perempuan bangsat itu. Hatimu remuk sejak sore tadi. Terus remuk hingga kau berusaha setenang mungkin didepan kekasihmu. Padahal pikiranmu terbang kemana mana. Melayang ke semua luka yang dibuat kekasihmu. Kau ingin marah. Tapi kau tak bisa melakukannya.
                Kau menelan kesakitanmu sendiri. Seperti menelan lendir yang bercampur air ludah. Sangat susah. Sebab kau sama sekali tak ingin menelannya. Kau hanya tak ingin bertengkar dengan kekasihmu. Kau hanya menjaga hubunganmu dengan kekasihmu. Kau hanya ingin tak ada pertikaian. Karena kau sangat menyayangi kekasihmu. Sementara kau, kau yang harus menikmati lukamu. Memendamnya jauh jauh di dalam hatimu. Agar air matamu tak meluber kemana mana. Kau hanya ingin, kau dan kekasihmu baik-baik saja. sebab kau sangat mencintai kekasihmu.
                Tapi malam berkata lain. Malam memberikan kau waktu yang terlalu panjang untuk kau merasakan sakit. Malam kembali meneteskan air garam pada lukamu. Membuatmu merintih. Dan ini benar-benar membuatmu sakit.
                Kau mencoba bersembunyi di balik selimut hangatmu untuk mendapatkan ketenangan. Tapi tak berhasil. Kau panik. Kau meminum semua obat yang ada di dalam tas mu. Obat apa saja. kau hanya ingin tidur. Tidur, dan semuanya akan tak terasa sakit. Dan benar, obat-obatan itu berhasil membuatmu tertidur. Kau merasa tenang. Tenang yang sesungguhnya sakit.
                Hingga pagi menjemput. Sinar matahari memaksa masuk kedalam matamu. Kau membuka matamu perlahan. Membiasakan sedikit demi sedikit cahaya untuk mengisi pupil matamu. Tanganmu digenggam oleh seseorang yang sedang menangis. Siapa dia? Dari ubun-ubunnya saja kau tahu, jika dia adalah kekasihmu. Kau menggerak-gerakan tanganmu, memberi tahu pada kekasihmu itu jika kau sudah terbangun dari tidurmu. Kekasihmu menyadari gerakan kecil di tanganmu serta mata indahmu yang sedikit demi sedikit terbuka. Ia tersenyum,
                “Kamu udah baikan sayang?” Tanya kekasihmu. Ia mencemaskanmu.
                “Udah, tapi mataku berat banget rasanya…”
                “Kamu kenapa? Kamu marah sama aku?”
                “Nggak…” Jawabmu datar.
                “Kamu kenapa sayang? Aku kuatir sama kamu..” kata kekasihmu dan ia mulai menangis.
Kamu membelainya. Mencoba menghapus butiran air mata yang jatuh di pipinya.
                “Aku nggak papa.. Udah jangan nangis,” Jawabmu lembut, dan kamu memeluknya.
                “Nggak papa apanya? tangan kamu, kamu sayat-sayat kayak gini kamu bilang ngga papa…”
                “Udah, nggak usah dibahas.. Aku sayang sama kamu ”
                “Denger, sebentar lagi kita nikah. Aku nggak mau kamu kayak gini lagi.. Aku nggak suka…”
                “Aku ngerti. Maafin aku sayang,”
                “Apa aku yang buat kamu kaya gini sayang?”
Kamu terdiam. Mencoba menelan kebohongan dari mulutmu.
                “Udah… nggak papa… nggak usah dipikir lagi,”
                “Gimana aku nggak mikir. Kamu sampai kaya gini dan itu semua pasti karena aku. Meski aku nggak tahu salahku dimana, maafin aku sayang… aku nggak mau kamu kaya gini lagi…”
Kekasihmu mengeratkan pelukannya di tubuhmu.
                “Aku takut kehilangan kamu. Aku takut kamu mati…” Kata kekasihmu.
                “Aku Cuma tidur, aku belum mau mati sayang….”
                “Iya, tapi aku bener-bener takut kehilangan kamu..”
Kamu terdiam.
                “Aku juga. Aku cinta sama kamu..” jawabmu kemudian.
Dunia serasa berada di tanganmu. Kau merasa benar-benar dekat dengan kekasih yang menyita hatimu.  Andaikan waktu akan terus berada di detik-detik seperti itu. Tapi ku ingatkan padamu jika kau dan aku sama sekali tak mengerti apa yang terjadi pada menit-menit kemudian. Mungkin saja hatimu akan tergores oleh nama perempuan lain yang diucap oleh mulut kekasihmu. Apapun itu, aku hanya ingin hatimu tak lagi mudah terbakar. Aku ingin kau lebih mempercayai kekasihmu. Sebab tahukah kau? Jika kekasih yang paling mencintaimu adalah kekasih yang menikahimu.  Kubisikan rahasia kecil ini padamu, agar kelak kau menjadi perempuan yang bahagia.

Senin, 26 Desember 2011

DEAR

Kau adalah jawaban siapa aku sekarang. 
Kau yang mampu mengusir semua luka dihatiku. 
Taukah? Sebelum kau hadir, 
Aku hanya membagi hatiku dengan tuhan?
Tahukah? Tak ada seorangpun yang mengisi hatiku sejak kepergiannya? 
Tahukah jika aku tak mampu jatuh cinnta. Tapi kamu, Kamu beda. 
Kamu membuatku berlutut dan mengatakan aku mencintaimu. 
Selamat datang sayang, 
Ketahuilah bila aku mampu membawakan pelangi ke hidupmu.
Ketahuilah bila aku sanggup melakukan apapun untuk kebahagiaanmu.
Kemarilah. Peluk aku.
Sayaang? Bolehkah aku memanggilmu begitu. 
Peluklah aku. 
Jangan lepaskan aku seperti kekasihku yang dulu. 
Peluklah aku. Lagi. 
Kelak kau tak akan menyesal pernah kucintai.
DEAR? Bolehkah aku memanggilmu begitu?. 
## 
Dear. aku sendiri. maafkan aku mengusik hidupmu, aku hanya terlalu lemah untuk berjalan. terlalu lemah untuk melangkah. aku datang padamu. aku menginginkan pundakmu, aku ingin menangis. Dear terimakasih telah berada disitu.Aku senang kebaikanmu padaku. Hay dear, lihatlah banyak orang yang mendekatiku. Lihat aku. Tatap mataku. Bukankah mereka mengerti apa yang kurasakan? Lantas mengapa tidak sedikit dari mereka, yang selanjutnya berkata,
"aku mencintaimu," 
Tak sedikit dari mereka yang mencoba menciumku. Mencoba menjamah. Memperlakukan aku seperti perempuan yang bebas dijamah. Itu sebabnya aku menolak mereka. Jika suatu hari nanti mereka yang sering merasa sempurna itu bertanya padamu mengapa sampai aku menolak cintanya. Inilah alasanku. Karena mereka tak menghargaiku. Tapi dear, kamu berbeda. Kamu tak seperti mereka. Kamu tak pernah menyentuhku sebelum aku menginginkannya. Waktu terus berjalan. satu hari. dua hari, seminggu. dua minggu. Aku telah pergi kemana saja untuk mencari belahan jiwa. Entah berapa butiran air mata yang terjatuh. atau entah berapa orang yang telah melihatku menangis. Atau entah berapa orang yang datang dan pergi. Aku tak tahu bagaimana cara memperbaiki hidup. Aku tak tahu dimana aku harus berhenti dan belajar mencintai. Lagi. 
Aku hanya berdoa pada tuhan. meminta sesuatu yang abadi, Tuhan membawaku ke depan gereja. Tempat seseorang yang pernah aku lukai tengah berdoa. Aku panggil dia “Dear”  
aku tak tahu apa yang aku lakukan. Angin apa yang membawaku kemari atau mengapa aku disini. Tapi yang pasti aku merasakan sesuatu yang berbeda. sesuatu yang sanggup membuatku berlutut dan berkata, "aku mencintaimu," 
#5 Desember 2011
sebelum malam ini berakhir. dan sebelum mataku terpejam. ijinkanlah aku berdoa untukmu. yang kini ada disampingku dan menemani hari-hariku. mengisi kerinduanku, dan memegang erat tanganku. Dear, aku mencintaimu. lantas apa yang kau pikirkan setelah sesuatu terjadi padamu dan aku. apakah kau lantas pergi meninggalkanku seperti orang2 lain.yang mengaku mencintaiku tapi ternyata hanya mencintai ragaku. dear, jangan lakukan itu. sanggupkah kau berjanji untuk selalu menemaniku?
"aku tak mau membuat janji yang menyakitkan. tapi aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tetap bersamamu." Jawabmu.
Aku mulai menangis. Jawabanmu terdengar tak pasti di telingaku. Tapi aku selalu mencoba mempercayaimu dear,
Dear. tahukah jika aku takut kehilanganmu.aku takut sesuatu menghancurkan apa yang kita miliki.aku takut kembali jatuh dan terpuruk.
Dear, aku tahu kadang kau tak mengerti kata2ku. tak mengerti apa yang aku pikirkan. tapi sungguh, aku hanya ingin bersamamu. 
Dear, kupikir malam ini kau yang akan terjaga. tapi ternyata aku yang terjaga.
Dear. tahukah kau aku sedang bicara pada tuhan. agar tuhan membuatku baik, dan membuatku hanya untukmu.
Dear, aku mencintaimu. 

Dear, lihat aku. Aku melakukan segalanya untukmu. Lihat aku. Pahamilah aku sangat mencintaimu. Ini sudah hampir tigapuluh hari kau menggenggam tanganku. Masihkah kau ingat apa yang telah kita jalani bersama? Aku memilihmu karena aku mempercayaimu. Lantas, masihkah kini kau mencintaiku Dear? Seperti dulu. Beberapa bulan lalu. Atau beberapa hari lalu?
Dear, aku sangat membutuhkan keberadaanmu disini. Aku mencintaimu dengan segala kekurangan dan kelebihanmu Dear. Aku berusaha meletakkan namamu dihatiku. Dan berusaha meletakkan namaku dihatimu. Entah apakah aku bisa melakukannya? 
Tapi dear, apakah kau tak mengerti bagaimana aku mencintaimu. Suatu hari Kau menamparku Dear, tahukah kau jika hal itu benar-benar menyakitiku? Aku tak menyangka jika kau tega melakukannya padaku. Dear, lihat air mataku mengalir. Aku tak pernah menangis didepanmu. Namun kali ini, kau benar-benar menyakitiku Dear. Aku tak sanggup menahannya. Rasanya seperti ada yang meremuk jantungku ketika kau menamparku. Aku tak menyangka setega itu kau melakukannya padaku. Aku jadi ingat orang-orang di masa laluku. Ayah. Kekasihku. Dan semua orang yang selalu bahagia ketika menyakitiku. dengan mudah mereka menamparku. Mendorongku ke tembok. Membenturkan kepalaku. Membuat wajahku lebam. Berdarah. SAKIT! Dan aku hanya bisa menangis. kemudian tanpa kata maaf, mereka bertingkah seperti biasanya lagi dihadapanku. Mengajakku bercanda seperti tak pernah terjadi apa-apa. Mereka SAMA SEKALI TAK PERDULI PERASAANKU! Tak perduli, bagaimana hatiku terluka. Dan BURUKNYA, kini kau yang melakukannya padaku.
Aku hanya ingin menangis. merasa tuhan memang tak meletakkan kebahagiaan di hidupku. Entah apa yang aku pikirkan. Entah beginikah caramu menghargaiku. Entah seberapa bodoh diriku yang tetap memelukmu setelah kau menamparku. Masih belum mengertikah kau, jika tak mungkin aku melakukan hal ini jika aku tak benar-benar mencintaimu?
Aku berusaha menarik nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskanya ke udara. #Sesak#. Sepertinya tak pernah ada cukup oksigen untuk mengisi paru-paruku. 
Sejak tiga hari yang lalu, sampai saat ini. Aku terus memikirkanmu. Dear, apakah kau benar-benar tak mengerti? bila kau belum mengerti aku akan memberitahumu tentang sesuatu, jika ketika kau menyakiti orang yang sangat mencintaimu. Maka orang itu akan benar-benar terluka karenamu. Kusampaikan ini padamu dan seluruh kekasih hati di dunia agar mereka tak lagi menyakiti. Agar tak ada lagi hati manapun yang dilukai kekasihnya. Dear, Aku memaafkanmu. Karena aku mencintaimu.
Loveyou dear :”*

Sabtu, 17 Desember 2011

PEREMPUAN

Hai sayang, lelakiku. Para kekasih-kekasih hatiku, kemarilah. Aku ingin menceritakan sesuatu padamu agar suatu saat kelak kau akan mengerti. Jika akan ada wanita yang lebih mencintaimu dari seorang istri. Jika akan ada wanita, yang akan menggantungkan hidupnya padamu lebih dari sekedar permasuri. Mendekatlah, jangan takut. Dia tak akan menggodamu. Taukah kau? Dia akan mencarimu jika kau tak ada disisinya. Dia akan menanyakanmu pada istrimu jika hingga larut kau tak pulang. Dan dia adalah perempuan kecil yang akan memanggilmu dengan gembira ketika kau tampak di ujung pintu.
Perempuan itu, anakmu.
Iya. Anak perempuanmu. Dan dia adalah aku. Sebut aku. Panggil aku, “Nisa”.
Nisa tumbuh cepat seperti pohon kenari. Semula ia kecil. Hanya benih kecil kemudian tersiram air. Tumbuh dan terus tumbuh menjadipohon kenari besar yang cantik.
Di hari yang gelap. Aku masih ingat. Hari itu hari jum’at. Nisa terbaring di sudut kamarnya. Tangannya robek. Bibirnya memar. Air mata Nisa terus mengalir. Membasahi goresan luka di sudut bibirnya. Nisa sayang apa yang terjadi padamu? Nisa memandangku. Tak mengatakan apapun dan ia terus menangis. Ada apa sayang? Katakana padaku siapa yang membuatmu menangis? Nisa menggelengkan kepalanya.
“Aku takut.” Kata Nisa.
“takut apa?”
“Takut dia memukulku la..gi…” jawab Nisa terbata.
“Dia siapa?”
Nisa menggeleng. Jangan takut sayang. Sebutkan siapa dia. Aku berjanji tak akan ada lagi yang mengetahuinya selain aku.
“Ayahku..” desis nisa parau.
Sementara di kamar yang lain, bermil mil jauhnya dari tempat Nisa berada. Ditempat dimana tak ada cahaya yang mampu menembus rimbuan bambu di halaman samping rumah. Dimana lolongan anjing melengkapi ketakutan setiap derik ranting bambu. Dimana hati seorang perempuan mungil telah remuk di dalam istananya. Lihat sayang, lihat dia. Itu! Disudut sana! Seorang perempuan mungil memeluk erat kedua kakinya. Kukatakan padamu jika perempuan mungil itu juga benama Nisa.
Nisa selalu menangis setiap malam. Pintu kamar Nisa tak pernah tertutup. Pintu kamar Nisa selalu terbuka agar ia mudah melihat ke pintu ruang tamu.
“Jika nanti Ayah pulang, aku yang paling awal memeluknya,” kata Nisa.
Tapi ini bukan malam pertama atau kedua Nisa menanti. ini sudah setahun lebih dari kepergian ayah, dan Nisa mungil itu tetap meananti. Ibu berkata pada Nisa, jika ayah telah pergi bersama perempuan lain dan ia tak akan pernah pulang. Tapi Nisa mungil tak mengerti. Perempuan lain apa? Nisa yakin Ibu berdusta padanya. Ia yakin, ayah pasti pulang.
Ayah, tahukah kau, aku memiliki banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu?
Hari ini ibu guru memberikan aku tugas menggambar.
Dan aku menggambar untukmu ayah,
Aku menggambar kau dan aku.
Aku dan kau.
Kau menggenggam tanganku erat sambil memegang es krim untukku di tanganmu yang lain.
Kita akan bersenang-senang Ayah.
Lekaslah pulang, karena aku ingin kau melihat ini,
Melangkahlah ke tempat lain. Carilah perempuan yang mengunci dirinya di dalam kamar yang gelap dan pengap. Namanya Nisa. Dia perempuan cantik. Hanya saja tubuhnya tidak secantik wajahnya. Belasan bekas tusukan jarum menghiasi tangannya. Puluhan sayatan melintang di tubuhnya. Mulutnya mengepulkan asap rokok ke udara. Apa yang kau lakukan Nisa? Kadang Nisa menangis sejadi-jadinya. Kadang Nisa tertawa lepas. Kadang ia marah. Mengomel tak jelas. Menyebutkan nama orang-orang yang merusak hatinya. Dan kau tahu? Salah satu dari nama itu adalah nama ayah Nisa. Ayah yang tak pernah mengakui Nisa sebagai anaknya. Ayah yang lebih memilih pergi bersama perempuan lain, dan meninggalkan ibu Nisa. Ayah yang tak mau bertanggung jawab atas kehamilan ibu Nisa. Ayah yang tega menyuruh Ibu Nisa untuk membunuh Nisa yang sudah berusia tiga bulan di dalam perut.
Ayah yang sama sekali tak pernah di peluk oleh Nisa.
Ayah yang membuat Nisa selalu disebut anak haram.
Ayah, ayah ayah.. apa salahku hingga kau setega ini padaku?
Tahukah kau jika aku sangat menginginkanmu ada disampingku.
Sama seperti ibu yang menginginkanmu ada di hari kelahiranku.

***
Ini rahasia kecilku,
Tahukah kau, jika setiap bayi perempuan yang lahir itu adalah Anisa?
Ya, benar. A-ni-sa. Yang berarti anak perempuan.
Semoga kelak ia tumbuh dewasa.
Semoga kelak ia menjadi perempuan yang cantik.



***
Melangkahlah di sudut kota lain, dimana matahari tidak akan bersinar terlalu terik di atas kepalamu. Dimana malam akan membeku seiring dentangan ke dua belasnya. Dimana tak akan kau temui kipas angin yang berputar. Ini kota dingin. Tempat para peri dan malaikat bercinta. Melangkahlah limabelas kilo meter dari sudut kota itu, dan kau akan menemui rumah berwarna jingga. Itu rumahku. Datanglah, aku akan memberimu sedikit teh dan camilan. Aku menyukai kedatanganmu. Karena aku mencintaimu.
Duduklah di sofa, tunggulah sebentar. Aku akan memanggilkan dia. Ayahku. Ayahhh… ayah… bolehkah aku berteman dengannya? Dia lelaki yang baik. Ayah… ayah… temui dia. Dia sudah menunggumu di ruang tamu.
“apakah benar kau mencintai anakku?” Tanya ayah.
“Iya, saya mencintai Anisa, anak perempuan Bapak.” Jawab kekasihku.
“Apakah kau sanggup menjaganya lebih dari aku menjaganya?”
“insyaallah saya sanggup Pak!”
“Apakah kau sanggup mencintainya lebih dari aku mencintainya?”
“Insyaallah saya sanggup.”
“Hai anak muda! Janganlah kau mudah berkata sanggup. Karena aku yang aku tak akan membiarkan sedikitpun anakku terluka di tanganmu. Karena aku sangat mencintainya,”
Kekasihku terdiam.
***
Maaf untuk semua waktu yang terbuang,
Ayah. Ayah. Ayah.
Maafkan ketidaksempurnaanku.
Maafkan aku yang baru saja mencintaimu,
Setelah tujuhbelas tahun bersamamu.
Kita tak punya banyak waktu lagi ayah?
Usiaku sudah tujuhbelas,
tak lama lagi akan ada lelaki yang menikahiku.
Tapi jangan takut,
Kau tak akan pernah kehilanganku.
Kita masih punya waktu.
Ayo kita tukar semua waktu yang terbuang,
Genggam tanganku, dan ajak aku ke taman bermain.
Belikan aku boneka…
Setahuku, kau belum pernah membelikannya untukku?
Sejak aku lahir bahkan.
Aku mau yang itu!
Boneka beruang putih.
Biarkan saja ayah dan anak perempuan lain menatapku dengan tatapan aneh. Aku tak perduli. Aku tahu ini taman bermain untuk anak balita. Dan aku bukan balita. Tapi aku sama seperti mereka. Aku ingin bermain ditempat itu. Aku ingin bersama ayahku. Ayah, aku suka boneka beruang putih darimu. Bolehkah aku tetap disini? Lebih lama lagi. Aku masih ingin bermain.
Hai sayang, lelakiku, kekasih hati yang kelak akan menikahiku. Tahukah sebelum usiaku tujuh belas tahun hidupku berkalung duka. Tahukah kau, mengapa aku kehilangan sekian banyak waktu bersama ayahku? Aku ingin memberitahumu. Agar kelak, jika kau menjadi ayah dari anak-anakku. Kau tak akan melakukan hal yang sama. Agar kelak, tak ada lagi Anisa yang sama sepertiku. Agar kelak kau lebih menghargai waktu. Menghargai setiap tarikan nafas. Bersama perempuan yang merebut hatimu lebih dari aku. Bersama Anisa, yang kelak mungkin akan lahir dari rahimku. Aku membertiahukan rahasia ini padamu. Karena aku sangat mencintaimu.
Anisa.

Jumat, 16 Desember 2011

JANTUNG HATI

part 1
hai sayang. mendekatlah.aku akan bercerita padamu tentang sesuatu. Aku menceritakan semuanya padamu. agar kau lebih menghargai hidup. menghargai setiap tarikan nafas.dan menghargai, seseorang yang ada disampingmu.
mendekatlah kemari. lebih dekat lagi. taukah kamu? kekasihku datang padaku hari ini? ia memelukku dan berkata ia berkata ia mencintaiku. aku juga mencintainya. aku memandang matanya, ia berkata ia merindukanku. lalu tuhan memberikan waktu kami untuk bercinta.
tuhan, tuhan, tuhan, aku mencintai kekasihku.
perkenalkan, namaku cha, dan kekasihku fa. aku selalu berdoa pada tuhan, agar fa tetap disampingku selamanya. aku merelakan seluruh hidupku dan apapun dalam diriku, untuknya, dan kuharap fa bersamaku. disisiku. hanya disisiku.
sementara di kamar lain,
sebut saja namanya rhe. begitu saja karena aku benci memanggilnya secara lengkap. rhe memeluk kekasihnya, La. La tak pandai bicara. tapi La mengatakan pada tuhan, jika ia mencintai kekasihnya. aku tak bisa menuliskan banyak hal tentang mereka. karena aku tak tau, apa yang mereka rasakan. aku bukan mereka.
tetaplah disitu, aku belum menyelesaian ceritaku. bacalah dan kau akan mengerti, kenapa seorang wanita bisa hancur karena cinta. karena jantung hatinya pergi. karena jantung hatinya mengkhianati. tetaplah disitu. sekali ini saja. karena aku sendiri, aku tak tahu, harus kepada siapa lagi aku bercerita. semua orang jahat. mereka mendengarkan tapi mereka mengkhianati. seolah di pihakku. tapi sesungguhnya mereka menghancurkanku. aku tidak ingin mendengar nasehat dari siapapun lagi. aku tak dapat mempercayai siapapun lagi.
Part 2
sayang, sudah waktunya aku menceritakan lagi rahasiaku padamu. rahasia yang dulu tersimpan rapat di mulutku karena aku sangat mencintainya rahasia yang kini akan menjadi milikmu. mendekatlah. dengarkan aku bercerita, maaf, mulutku penuh darah. aku sakit sayang. maaf.
rentangkan tanganmu sayang, barangkali kau ingin memelukku karena setelah ini hatiku akan berjatuhan.
suatu malam, ketika aku tidak bersama fa. fa menemui rhe. aku sanggup merasakannya meskipun fa berdusta padaku. fa meminta izin untuk keluar sendiri tanpa aku, aku menangis meminta fa mengurungkan niatnya.
tapi fa memaksa, ia bilang, "aku bukan pembantu, yang setiap saat harus menuruti kamu!"
baiklah. pergilah fa. aku tahu, kau akan menemui rhe.aku tau kau akan membagi cinta dengan rhe.aku tahu sebelum kau melakukannya.aku tahu di saat kau melakukannya. mengertilah.aku sanggup merasakannya fa, aku sanggup merasakan ketika orang yang aku cintai berbagi cinta dengan orang lain. sementara aku terus berdoa pada tuhan sepanjang malam. membaca apa saja, berharap kau berhenti mencintai perempuan itu. hatiku hancur Fa, aku merasakan sesuatu yang salah. tapi aku sama sekali tak bisa melakukan apapun.
ini surat yang aku tuliskan di hatiku untuk fa,
Fa sayang, kekasihku tercinta
sanggupkah kau merasakan aku yang mencintaimu?
sanggupkah kau mengerti tentang kesetiaan?
dengarlah sayang,aku sangat mencintaimu.
ingatkah kau punya mimpi, menghabiskan hidupmu bersamaku?
ingatkah kita punya sejuta mimpi indah.
dan kita akan bahagia nanti, begitu katamu.

ingatlah cincin yang melekat di jarimu sayang.
ingatlah kita sudah berjanji untuk bersama selamanya.
dan aku, membawakan hatiku padamu.
jadi kemanapun kau pergi, aku selalu mencintaimu.
fa, cha.
sayang, siapa saja. peluklah aku malam ini. hatiku berjatuhan ketika aku menuliskannya. sanggupkah kamu merasakan hatiku? jangan katakan apapun. sayang, mendekatlah. peluklah aku. aku ingin menangis. sayang sayang sayang. sanggupkah aku bertahan hingga esok? setiap malam aku merasa seperti itu malam terakhirku.
sayang, sayang sayang aku masih di pelukmu. jangan lepaskan karena jika kau lepaskan, aku akan tetap merasa sakit. sayang sayang sayang, bisakah aku minta tuhan mencabut nyawaku malam ini? aku terlalu sakit untuk bertahan hidup.
taukah? fa datang menjempuku sore itu. fa memelukku.mungkin merasa berdosa dengan apa yang ia lakukan. rasanya perih. kemudian fa tertidur di sampingku. pikiranku melayang kemana-mana. aku takut mrmbayangkan apa saja yang terjadi. aku menangis sepanjang malam. dan hari-hari berikutnya, hal ini semakin sering aku lakukan,
tuhan, jagalah fa tetap di hatiku.
membiarkan air mataku mengalir. kemana saja. aku merasakan ada yang salah, tapi aku sama sekali tak bisa melakukan apa-apa.
aku menyayat kulitku,
satu, dua, tiga,
dan tak lama kemudian menjadi banyak sekali. fa menyadari apa yang aku lakukan, dia bertanya mengapa aku seperti ini, dan aku menjawab,
"aku gini, karena aku ngga bisa berbuat apa-apa lagi sayang.."
fa memelukku.
tuhan? apakah ia ikut merasakan sakitku?

sayang, apakah dia tau? jika aku lebih baik mati dari pada hidup tanpanya? apakah dia tau? jika aku sangat mencintainya. dan aku memaafkan semua kesalahannya sebelum ia meminta.sayang sayang sayang, apakah kau masih disitu? aku rasa darah yang lain keluar dari hidungku,sayang, apakah ini tanda awal kematianku? jangan diam. jawablah,kelak jika aku benar-benar mati. tolong katakan pada fa, jika aku sangat mencintainya.agar ia mengerti apa itu arti kesetiaan. Cha.
Surat untuk seseorang lain yang terluka.
La,
Dan kau tau sekarang La,
Bagaimana hidupku dan kamu berjalan.
Rasanya sama.
Aku ikut menangis setiap kau menangis.
Kadang aku dan kamu lelah.
Dan tertawa..
Bukan karena kita bahagia.
Tapi karna kita terlalu sakit untuk menangis.

Kadang kau mengatakan padaku, jika kau merindukannya.
Aku hanya bisa tersenyum.
Karena ia yang kau rindukan sedang bersama kekasihku.
Mereka sedang memadu kasih La,.
Percayalah Aku mampu merasakannya.
Dan aku hanya berdoa pada tuhan, agar aku dan kamu sanggup merelakan.
Lalu aku menangis,

Ya tuhan, La.
Sadarkah kau. Jika ini sudah limapuluh hari terakhir yang menyedihkan.
Sanggupkah kau tersenyum malam ini?
Untukku saja.
Untuk kita.
Kita yang terlalu lama tidak tersenyum.
Ingatlah semuanya
Kebahagiaanmu, kebahagiian kita,
Yang kemudian menjadi sangat pahit untuk dikenang.

La sayang, sudah jangan menangis..
Ingatlah tuhan sangat mencintai aku dan kamu.
Pejamkan matamu.
Letakan tuhan di hatimu.
Berdoalah, agar mimpi buruk ini cepat berakhir..
Semoga suatu hari nanti, aku dan kamu bahagia.

Seseorang yang sama sepertimu.
Cha.

EPILOG
Kadang. Bukan kadang. Tapi selalu aku tak mengerti apa yang aku lakukan. Kadang aku pergi ke suatu tempat. Sendiri. Hanya melihat orang berlalulalang. Kemudian menulis. Menulis apa saja yang aku rasakan. Kadang hatiku ada di dalamnya laut. Kadang juga melayang di udara. Kadang jattuh didasar laut. Kadang menangis kadang tertawa. Lalu menangis lagi. Tuhan. Apakah aku sakit?
Dan dari semua orang yang ada disampingku. Aku masih mengingat kamu. Kamu. Kamu. Yang menyakitiku. Ada yang merebus hatiku dengan kecemburuan. Ada yang dengan tanpa rasa salah berselingkuh di depan mataku. Ada yang terdiam disampingku. Menemani aku tapi tak melakaukan apapun. Ada yang selalu disampingku dan membantuku mengerjakan apa saja. Ada yang membuatku tertawa dengan tingkahnya. Hay dear. Tahukah. Itu semua sama sekali tidak menghiburku. Yang aku inginkan adalah kamu. Kamu Tetap disampingku. Kembali ke tempat kita dulu, Dimana hanya ada aku dan kamu. Memuja tuhan, dan saling berbagi kasih satu sama lain. Bukan seprti ini. Membiarkanku sendiri. Membiarkanku dipeluk oleh orang lain. Dear, aku ingin memberitahumu. Jika separuh hatiku terlanjur kau bawa. Dan aku, hanya hidup dengan sebelah hati selama berhari hari. Berbulan bulan. Bertahun tahun. Dan kau adalah satu hati yang membuatku merasa dimiliki. Selain denganmu, aku tak sanggup merasakan cinta. Selain denganmu aku tak sanggup merasakan apapun. Hay dear. Beri tahu aku bagaimana cara melanjutkan hidupku tanpa kamu. Mungkin aku cintamati padamu, Lalu orang lain cinta mati padaku. Dan orang lainnya lagi cinta mati pada kekasihku. Begitu seterusnya. Hingga kau buat aku berteman sakit berhari hari ini. Berbulan bulan. Dan bertahun tahun.
Hay dear. Kuberitahukan padamu jika aku tak pernah baik2 saja. Aku bersyukur memiliki kekasih hati yang baik. Yang mungkin ia akan cinta mati padaku. Semoga,
Kau bilang apapun yang terjadi. Aku harus melanjutkan hidupku. Aku selalu menuruti kata-katamu dear. Sekalipun untuk hal yang tak aku mampu.Aku telah melanjutkannya. Dengan luka yang aku miliki. Denganmu yang tak lagi disampingku. Dengan cinta. Yang kupikir tak pernah ada bayangan lain selain kamu. Dear. Aku sakit. Dear. Bolehkah aku memejamkan mataku. Tahukah kau jika ketika aku bercinta dengan orang lain rasanya sama seperti mengkhianatimu. Tahukah setiap detik dalam hidupku aku selalu memikirkanmu. Tahukah bila waktu terlalu kejam karena tak pernah bisa ditarik mundur. Dan kenyataan adalah mimpi yang semakin sakit untuk aku hadapi. Dear. Sanggupkah engkau mendengar suaraku? Masihkah cincin pernikahan kita melekat di jarimu?
Apakah kau bahagia disana, Dimanapun kau. Bersama siapapun. Aku selalu mencintaimu, Selalu.
Tahukah, jika dulu aku bukanlah perempuan cantik. Menatap lawan jenisku yang tampan, yang cantik. Aku sama sekali tak memiliki keberanian. Dan memilikimu yang sangat rupawan adalah berkah terindah dari tuhan untukku. Aku mencintaimu dan kau yang mengubahku menjadi cantik.
Terimakasih sayang. Itu sebabnya aku sangat mencintaimu. Jadi secantik apapun aku nanti, aku hanya akan mencintaimu. Hanya kamu. Tapi. Kamu mengkhianatiku. Setelah kuberikan semuanya padamu. Tapi kamu menduakanku.Tapi kamu bersama dengan kekasih barumu di depan mataku.JAHANAM!
Lalu apa yang kau rasakan ketika suatu hari nanti aku bersama dengan orang lain? Sanggupkah kau merasahkan ragaku? Yang dulu hanya bersamamu namun kini juga bersama orang lain. Apakah kau merasakan sakit seperti sakit yang kurasakan saat kau melihatku dengan orang lain? Tuhan. Masih sanggupkah hatinya merasakan hatiku. Yang semula satu dan menjadi bagian darinya. Namun kini terpisah dan dimiliki orang lain. Tuhan, masihkah hati kita melekat? Atau sudahkah saling terpisah memiliki jalan yang berbeda. Dipungut dan dipelihara kekasih2 lain. Tuhan, jika kekasihku tahu aku tengah menuliskannya, Ia pasti marah besar. Maka itu kusimpan rahasia ini rapat2. Hanya aku, kau dan Tuhan. Sampaikan salamku padanya, Semoga ia selalu baik2 saja. Endless love. Jantunghati.

Jumat, 30 September 2011

TENTANG HATI

Tak tahukah seperih apa perasaan hatiku?
Ketika kau bersama perempuan lain. Kau. Menggenggam tangan perempuan itu. Sementara aku hanya terdiam. Aku ingin berteriak. Tapi aku yakin, kau akan pergi dariku jika aku melakukannya.
Ini sangat menyakitkan bagiku.
Aku ingin pergi darimu. Dari sini. Dari tempatku berdiri.
Namun bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya? Jika semua tentangmu mengikuti seperti bayangan yang menempel di kakiku?

Dan bagaimana juga membakar habis semua rindu yang berhari hari mengendap dihatiku?
Tahukah kamu? Aku sangat ingin mengakhiri hidupku?
Tahukah kamu? Aku benar-benar hampa tanpamu?
Apa salahku hingga kau lakukan ini padaku?
Setahuku, aku sudah menjagamu setiap waktu.
Tapi mengapa tuhan masih saja mengambilmu dariku?
Tahukah kamu air mataku mengalir setiap hari?
Tahukah kamu jika aku benar-benar mencintaimu?
Aku tak ingin ada cinta yang lain setelahmu.

Kamis, 18 Agustus 2011

HARMONY IN DIVERSITY

Nama : Anisa Elianti
Nama gelar : Valencia
Nama kelompok : 35/Venezuela
Zona : Latin (7)



Harmony in diversiry
Harmony in diversity or uniformity in diversity is a condition in which the various differences that occur in people's lives can be brought together in a container that contains the equation of all parties. This condition often occurs in the life of Indonesia's diverse society. With differences in ethnicity, language, culture, and even indigenous peoples Isti Indonesia can still be united with the basics contained in Pancasila.
Perbedaan dalam kebudayaan masyarakat bukanlah sesuatu yang patut untuk di pertentangkan. Perbedaan harusnya diakui sebagai keberaganman yang menunjukan identitas masyarakat suatu Adaerah. Kebudayaan di Indonesia dikatagorikan dalam diferensiasi social horizontal. Dimana tidak ada kebudayaan dari wilayah tertentu yang statusnya lebih tinggi atau lebih rendah dari kebudayaan lain.
Hal ini juga terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Contohnya dengan adanya berbagai macam jurusan yang ada di Universitas Brawijaya. Masing masing jurusan memiliki cirri khas tersendiri. Akan tetapi semua jurusan tersebut dipersatukan dalam satu institusi yaitu Universitas Brawijaya.
Tuladha lintune wonten ing kahuripan masyarakat ingkang gadah profesi sing mboten sami. Wonten ingkang dados direktur, guru, pedagang, tukang becak lan lintunipun. Profesi punika sakmesthine mboten tansah didadosake perkara. Mboten sakmesthine wonten tukang becak lan pedagang ingkang mboten sios, lajeng tukaran lan ndadosake perkara ingkang gedhe.
Therefore, the existence of mutual respect for each other's differences is indispensable in people's daily lives. Given such attitudes. Contradictions in society can be reduced and lead to a conducive climate between communities that could support the advancement of community life.


Senin, 23 Mei 2011

.ABORSI.

Bulan 1.

Hy Mom.. aku memang hanya 10 sampai 15 senti saja panjangnya.

aku masih sangat kecil.

Aku belum mampu bergerak,

Organ tubuhku juga belum lengkap.

Tapi aku mampu mendengar detak jantung dan suaramu.

Kedua hal itu adalah lagu kesukaanku.



Bulan 2.

Mom, hari ini jari-jariku mulai tumbuh,

aku belajar menghisap salah satunya.

Jika Mom melihatku,

Mom akan tau jika aku adalah bayimu.

Tapi aku masih belum cukup besar untuk keluar.



Bulan 3.

tahukah kamu Mom?

aku anak laki-laki atau perempuan?

aku harap Mom dapat bahagia karenanya,

aku slalu berharap Mom slalu bahagia

karena jika Mom sedih aku pun ikut sedih

dan aku pun ikut menangis walaupun aku tahu,

Mom tidak bisa mendengarnya.



Bulan 4.

Mommy, rambutku mulai tumbuh.

Memang masih pendek dan halus.

Tapi akan tumbuh banyak sekali.

Mom, taukah? Aku ingin segera melihat wajahmu..




Bulan 5.

Mommy pergi ke dokter hari ini,

tapi momm dia bohong kepdamu.

dia bilang kalau aku tak ada,

TAPI AKU ADA!!

MOMM ,DENGARLAH AKU ,AKU BAYIMU .

Mommy ,apa itu aborsi ?



Bulan 6.

aku bisa dengar dokter itu bicara denganmu lagi ,aku tidak suka dia!

dia sangat tidak berperasaan. sesuatu mengancam rumahku Mom... dokter dokter itu bilang itu jarum .

mommy ,apa itu ??

TOLONG , JARUM ITU MENUSUK TUBUHKU ! SAKIT MOM ! AKU MENANGIS TAPI KAU TAK MAMPU MENDENGARNYA. AKU TERBAKAR ! MOM, AKU MOHON HENTIKAN DIA ! AKU TIDAK BISA MELAWANYA !!



MOMMY TOLONG !!


.
Bulan 7.

Hyy Mom, apa kabarmu? aku sangat mencintaimu.

Aku baik-baik saja Mom, Aku sudah bersama TUHAN sekarang.

Tuhan juga telah memberitahu aku tentang apa itu Aborsi..

Hyy Mom, mengapa kau tak menginginkanku?

Taukah bila aku sangat menyayangimu dan ingin selalu berada di pelukanmu?

Mommy, Aku mencintaimu.

Senin, 02 Mei 2011

lihatlah

lihatlah sayang.
lihatlah dengan hatimu.
agar kau tau, betapa aku mencintaimu.
agar kau tau,
aku tak pernah bisa tanpamu.
lihatlah sayang,
dan kau akan mengerti tak pernah ku temukan damai di hatiku.

dulu hanya kepada langit dan tuhan aku bercerita
tapi sejak kau datang,
aku merasakan seluruh kedamaian hadir bersamamu,



lihatlah sayang.
rasakanlah hatiku dengan hatimu.
aku mencintaimu, mencintaimu dan mencintaimu.

sayang.