Selasa, 13 Maret 2012

SESUATU YANG TERTINGGAL DI KAMAR KOSAN

Ada yang aneh. Setelah lebih dari dua minggu aku pindah dari kosan hantu itu. Tiba-tiba aku ingat pada sebuah kotak kecil di dalam lemari yang lupa aku buka saat aku pindah. Rasanya ada sesuatu yang ketinggalan. Tapi aku nggak tahu apa. Rasanya itu penting. Aku pingin balik ke kosan itu hanya untuk sekedar memeriksa. Tapi aku beneran nggak berani. Berani sih. Tapi aku. Ahh. Aku udah nggak pingin lagi berurusan sama hantu atau makhluk-makhluk lain penghuni kosan itu.

Ini foto lemari kalau malem :
Dan ini foto Lemari kalau siang:



Dua hari lalu aku ketemu Dhea. Dia Tanya gimana kabar kosan baru aku. Aku bilang Baik. Dan aku juga Tanya sebaliknya dan Dhea juga bilang hal yang sama. Aku seneng lihat dia baik-baik aja. Aku juga seneng,akhirnya kita masih bisa ketemu lagi dalam keadaan baik-baik aja dan masih sama-sama hidup. Hehehehe. Syukurlah. Dalam hatiku.
Aku masih inget kata-kata Sapi (orang yang udah bantuin aku liat hantu di kamar kos+nasehatin macem2) kalau aku harus cepet pindah dan nggak boleh ada satu barangku pun yang ketinggalan disana. tapi bodohnya aku. Aku melakukan hal itu. Ada barangku yang ketinggalan di kosan lama. Aku nggak tahu apa. Tapi aku rasa penting.
Masa iya aku harus balik ke kosan itu lagi. Nengokin si mbah yang seremnya minta ampun. Naik di tangga kosan yang baunya bau kuno dan masuk ke kamar tidur itu lagi. Apa nggak bahaya ya. Aku pingin banget kesana. Tapi kayaknya, hatiku sendiri nglarang aku untuk pergi ke sana.
Emang sih nggak pernah ada suara ketukan dari dalam lemari waktu malem-malem. tapi, kotak yang ada di dalam lemari itu beda. rasanya aneh aja. buat apa ada kotak kaya gitu di dalam lemari. Ukurannya kecil. Cuma seukuran 3 x20centi. Aku masih inget dulu waktu pertama aku nempatin kosan itu. Aku sempet nemuin kertas bon laundry dengan nomer hp yang ada di sana. Punya siapa lagi? Pasti punya orang yang tinggal di kamar ini sebelum aku. Aku sempet coba hubungin dia untuk Tanya masalah kamar kosan waktu itu dan alasan kenapa dia pindah. Sms dan telfonku masuk. Tapi sama sekali nggak ada jawaban dari dia.
Apa mungkin memang udah takdirnya kali barang ketinggalan di kotak itu. Kayak nya sih seingetku, aku naruh kwitansi bank bekas pembayaran uang kuliah satu semester yang ada alamat lengkap beserta nomer hape ku disana. tapi kayaknya ada barang lain lagi. Ada rasa nggak enak di hati. Ada sesuatu yang mengganjal. Yang nggak mungkin terobati kalau aku nggak datang ke kosan itu lagi dan memeriksa kotak kecil di dalam lemari itu.
Aku pikir-pikir emang kayaknya udah takdirnya kali ya. Ada identitas pemilik sebelumnya di dalam lemari itu. Sapi juga pernah bilang ada yang janggal dari lemari itu. Sapi bilang bisa jadi sumber hal-hal janggal  yang ada di kamar kosanku itu berada di lemari itu. Awalnya aku nggak percaya. Tapi. Setalah aku pikir-pikir iya. Lemari ini ada di setiap kamar yang mbah kos yang mbah sewain di dalam rumah itu. Bisa jadi di setiap lemari emang ada penunggunya. Atau bisa jadi juga Cuma lemariku aja yang aneh.
Aku jadi keinget tulisan di dalam lemari:

Tulisan ini, emang nggak jelas. Modelnya semacam tulisan hias. Tapi masih bisa dibaca dan tulisan ini bacanya : “LAKSMI”.
Bisa di pastikan kalau pemilik nama itu dulu pernah tinggal di kamar ini. Tapi bisa jadi nama Mamanya. Atau neneknya mungkin. Tapi kemungkinan itu Cuma sedikit. Buat apa juga dia nulis nama mama atau neneknya di balik lemari? Kalau mungkin iya nama itu adalah nama nenek atau mamanya yang udah nggak ada. Dan dia tulis untuk di kenang. Apa nggak tambah serem ya kalau namanya di tulis di balik lemari gitu. Tapi yang jelas itu Nama kuno. Nama kuno yang serem. Itu kaya nama di film-film horror milik seorang nenek-nenek atau milik seseorang yang berhubungan dengan masa lalu atau juga yang berhubungan sama hantu. Hari gini pasti jarang banget ada orang seumuran kita yang punya nama LAKSMI. Kalaupun ada jumlahnya pasti sedikit. Semasa aku sekolah mulai TK, SD, SMP, SMA, aku nggak ketemu nama LAKSMI dalam daftar absen di kelasku. Kalau di daerah rumahku, laksmi itu nama nenek-nenek yag usianya udah lebih dari 60 taun. Dan ternyata banyak juga orang seumuran dia yang namanya LAKSMI juga. Mungkin nama itu dulu sempet jadi trend.  

Lalu inget tulisan di bawahnya?

Masih dengan tinta spidol yang sama dan bacanya adalah DIP perkebunan, 85-88. Nggak tahu maksudnya apa. Aku sempet mikir dia kuliah di jurusan perkebunan tahun 1985-1988. tapi DIP nya singkatan dari apa aku juga nggak tahu. Tapi kayaknya nggak ada jurusan perkebunan di universitas manapun di deket sini. Yang ada pertanian. Tapi aku juga nggak yakin waktu tahun itu udah ada. Atau mungkin dia kerja di perkebun? Tapi di deket sini setauku nggak ada perkebunan. Taruhlah mungkin memang yang tinggal di kamar itu dulu namanya Laksmi, dan dia paling ngga pada tahun 1985an berusia 20 tahun. Berarti sekarang umurnya udah sekitar 45 tahunan. Berarti dugaanku sebelumnya meleset. Laksmi bukan berumur 60 tahun keatas. Melainkan 45tahunan kalau dia masih hidup sih. Oh my god. Tiba-tiba pikiranku melayang ke suatu tempat yang menakutkan. Kalau Laksmi sekarang udah nggak ada atau udah meninggal. Bisa jadi nama-nama yang ada di lemari itu nggak akan berumur panjang dan jadi sasaran hantu di kamar kosan itu berikutnya.  Setelah Laksmi Cuma ada nama anak yang tinggal di kamar itu sebelum aku. Dan kalau bener kwitansi Bank ku yang tertinggal di lemari itu. Berarti disana juga ada namaku sekarang…
Ahh. Nggak.nggak. nggak. Aku terlalu jauh berpikir kayaknya. Nggak boleh mikir gitu nggak boleh mikir gitu. Jodoh, mati, maut di tangan tuhan bukan di tangan setan. Semoga aku baik-baik aja. Dan aku nggak mati muda :”( amin. Serem. Aku jadi takut.
Aku bener-bener mengurungkan niatku untuk pergi ke kosan itu hari ini. Aku nggak siap menantang maut. Apapun yang tertinggal disana. semoga itu bukan barang penting dan semoga itu nggak membawa dampak buruk apapun.

tapi ada yang bilang, aku harus ke kosan hantu itu lagi dan melihat ke dalam kotak kecil di dalam lemari. dia bilang hal ini pertanda urusanku dengan makhluk-makhluk penunggu itu belum selesai. dan buruknya aku sendiri yang harus menyelesaikannya.

berpikir.

Selasa, 06 Maret 2012

KOSAN HANTU

Real story.
Awalnya, aku juga nggak percaya apa itu hantu. Apa itu setan. Apa itu alam ghoib. Serta  bermacam-macam dedemit lainnya. Yang aku tahu, dunia mereka ada. Tapi mereka juga nggak bakalan ganggu kalau kita nggak ganggu. Tapi semua anggapanku tentang hantu hantu itu berubah seiring kenyataan tentang dunia mereka yang bener-bener terjadi dalam hidup aku.
Bermula dari kos baru. Setelah ayah mutusin rumah yang aku huni seorang diri dikontrakin. Akhirnya aku nyari kos. Dan alhasil dapet beberapa pilihan. Salah satunya rumah tua milik seorang nenek-nenek tua yang pernah menikah tiga kali tapi sama sekali ngga di karuniai anak nyarisnya lagi tiga suaminya meninggal. Serem. Entah apa yang ada di pikiranku. Aku milih kos di rumah itu. Kamarnya besar. Ranjangnya kuno. Semacam kaya besi tua milik orang-orang jaman dulu. Lantainya ubin. Lemarinya jati. Pintunya jati dan satu-satunya pencahayaan di kamar itu Cuma lampu yang menyorot dari samping (lampunya di temple di dinding, bukan di atap).

Dari dua bulan aku ngekos di rumah itu jujur aku Cuma tidur di situ tujuh hari. Satu hari sebagai permulaan dan enam hari sebagai penebus rasa bersalah ke orang tuaku. Karna sudah di kosin mahal-mahal nggak tahunya nggak ditempati. Mubadzir dong.. sambutan pertama masih aku inget banget. Waktu aku mau nyetorin uang kos untuk dua bulan ke depan. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Pintu tengah rumah kos kebuka sendiri dari keadaan semula tertutup. Kalau pintu kebuka terus nutup sendiri kan biasa. Nah ini kebalikannya. Pintu ketutup terus kebuka sendiri. Aku juga nggak tahu apa yang aku rasain. Sama sekali nggak ada rasa takut. Udah tahu keadaan kaya gitu. Tetep aja uang yang ada di tanganku aku kasih ke mbah (nenek-nenek yang jaga kosan). Aku nggak tahu apa yang terjadi.  Tanpa berprasangka buruk. Rasanya tuh semacem kaya di hipnotis. nglakuin hal yang sebenernya nggak aku pingin.
 Karna nggak mau di bilang buang-buang duit dengan mubazir. Akhirnya aku beraniin diri tidur di kosan. Dan ini hari pertamaku tidur di kosan itu. Aku nggak bisa masukin motor ke dalam kosan. Akhirnya aku minta tolong sama anak kamar sebelah untuk masukin motor. Pas uda gitu. Aku masuk ke dalam kamarku. Nggak nglakuin apapun. Cuma diem. Kayaknya Cuma sepuluh menit. Tapi nggak tahunya aku diem dalam waktu 2 jam. Agak nggak masuk akal juga. Lalu aku keluar kamar buat cuci muka. Keadaan kamar mandinya jorok. Ngga di tekel porselen. Cihh. Tapi yaudahlah. Aku betah-betahin. Habis tu balik ke kamar lagi. Dan aku lihat jam udah nunjukin angka 9 malam. Bermaksud untuk keluar kamar lagi ngambil air minum di jok motor. Kejutan kedua datang. Pintu kos nggak bisa di buka sama sekali. Padahal keadaannya ngga terkunci. Awalnya aku panik. Aku ada di dalam kamar dan pintu nggak bisa di buka. Sementara lampu kamar udah aku matiin dan saklarnya ada di luar kamar. Kebayang kan seremnya? Tapi entah kenapa ga ada perasaan takut meskipun kondisinya kalau dipikir pake logika semestinya aku harus takut. Dengan pasrah aku tidur dan besok paginya secara ajaib pintu kamar kosan dapat di buka dengan mudah. Ngga ngerti deh-
Pagi-pagi banget aku mandi mau berangkat kuliah. semula aku nggak takut mandi biasa, ganti baju biasa. Baru lima langkah keluar dari rumah kos ga tau kenapa ada rasa takut datang dan aku semakin nggak ngerti dengan apa yang aku alami.
Simpelnya gini. Aku memang takut di kos itu. Tapi waktu ketakutan dan hal-hal aneh itu terjadi. Aku malah nggak ngerasa takut sama sekali. Nggak tahu kenapa. Aku tuh kayak di hipnotis biar nggak takut.  Tapi setelah keluar dari kos itu rasa takut itu datang. Dan aku baru mendapatkan diriku sendiri. Bukan orang lain.
Setelah kejadian itu. Aku nggak mau tidur di kosan lagi. Waktu ujian akhir semester aku mutusin untuk pulang ke rumah aja. Ya meski agak capek dan bahaya juga. Soalnya aku baru bisa naik motor. Tapi ngga apa lah. Dari pada mati ketakutan.
di sela-sela liburan aku sempet nengokin kosan sama bawa temenku, dan waktu dia buka lemari baju. dia nemuin tulisan aneh. ada beberapa tulisan dan mataku terpaku pada tulisan ini:
 



Ada juga tulisan lainnya. yaitu :













dan :
 













Menjelang minggu terakhir jatah kosku. Aku mutusin buat maksain diri tidur di kosan biar ga ngrasa bersalah udah bayar, tapi ngga nempati kosan. Hari pertama aku tidur. Ngga terjadi apa-apa. aku sempet foto-foto juga malem itu dan ini fotonya, nggak tahu kenapa malem ini aku sendiri merinding lihatnya.
 Hari kedua, malam ini aku mulai di ganggu lagi. Aku tidur malem seperti biasa. Tapi kali ini aku mimpi aneh dan cukup serem. Aku mimpi tiga kuntilanak sama hantu seorang nenek-nenek. Aku ngerasa aku ada di suatu tempat semacem ruangan dan aku lihat tiga kuntilanak muter-muter di depanku.sementara setan nenek-neneknya megangin pundakku. Aku kebangun. Jam nunjukin waktu 3 pagi. Tapi aku sama sekali ngga bisa gerak. Orang jawa bilang aku “kelindihen” ya semacam itu lah.
                Hari ke tiga. Dhea, anak kamar sebelah ngajak dua temennya untuk nginep. Aku diajak tidur di kamarnya juga. Sambil nonton-nonton film. Eh ga sengaja liat film aborsi dan disitu ada sosok kuntilanaknya. Terus aku nyeplos,
                “Eh semalem aku mimpi kuntilanak kayak gitu loh tiga”
Salah satu temen Dhea liat aku, dia Cuma diem. Sesaat kemudian dia bilang,
                “Eh waktu pertama kali aku nginep sini, aku pernah denger suara mbah-mbah lagi omong-omongan. Dua orang. Ya dari kamar kamu situ.”
-MERINDING.
Tiba-tiba ada petir gede banget diluar.
                “DUARRR”.
Semua kaget. Aku inget waktu itu akhir bulan februari tepatnya. Waktu ada petir, anehnya di dalem kamar Dhea kilatan cahanyanya warna orange. Padahal semestinya kilatan petir kan putih ya.
Ah gatau deh. Jujur aku merinding sendiri nulis cerita ini. Pas malemnya kita bobo berempat di kamar Dhea. Dhea bobo di paling pojok. Terus aku, ica, lalu ika yang paling pinggir. Pas malem-malem nggak tahu kenapa suasana kamar panas banget. Aku denger suara aneh. Awalnya pelan, terus lama lama keras. Keras banget. Suaranya kaya orang nggarukin bantal. Aku inget Dhea waktu itu bangun dia sempet bangun liat HP ngecek SMS. Tapi anehnya dia nggak denger apa-apa.
Besok malemnya ica memulai topik pembahasan Misteri. Dia denger suara orang nggarukin bantal itu, terus dia Tanya ke aku, dhea sama ika. Aku denger. tapi Dhea sama ika nggak denger sama sekali. Padahal suara itu asalnya dari samping ika. Dan Ica bilang dia lihat orbs semalem. Banyak banget di kamar itu.
Takut. Merinding. Malemnya kita bobok berempat lagi. Nggak terjadi apa-apa sih. Cuma nggak tahu kenapa kondisi kamar panas banget. Kita berempat kebangun.
Besoknya lagi. Ika sama ica bener-bener nggak mau tidur kosan. Aku sama Dhea juga gak berani. Pas siang, Dhea bilang dia mau bobo kosan ika aja nanti malem. Dan aku mau-nggak mau aku juga harus pulang ke rumah. Nggak mungkin dong aku tidur di kosan HANTU itu sendirian. Aku  belum pingin mati ketakutan yahhh…
Siangnya, aku ke kosan ngajak temenku yang biasa dipanggil Sapi. Sapi bilang di kamarku ada kuntilanaknya tiga. Dan nenek itu tahu.  Sapi bilang, wajar nggak si orang nikah tiga kali tapi sama sekali nggak punya anak dan suaminya mati semua. Aku semakin ogah aja tidur di kosan. Sapi pesen, malem ini jangan sampai Cuma aku sama Dhea yang tidur kosan. Sapi bilang aku sama Dhea harus cepet-cepet pergi dari rumah ini kalau ngga nyawa kita berdua bisa diincer. Dia bilang orang yang nggak kerasa apa-apa yang paling mbantah kalau di kosan ini ada apa-apanya dia yang paling gede resikonya jadi korban. Dan itu artinya Dhea. Sapi bilang ada yang mati sebentar lagi. Aku nggak ngerti aku harus percaya atau gimana yang aku tahu aku Cuma takut-takut-takut. Aku mulai beres-beres barang biar habis pulang kuliah nanti sore aku bisa langsung pulang. Karena merinding di kosan. Akhirnya aku mutusin ngobrol di luar. Habisnya sapi pulang. Nggak tahu kenapa. Aku tiba-tiba balik ke kosan lagi. Aneh.  Tiba-tiba aku pingin mandi di kosan. Padahal cuaca juga lagi mendung.
Habis itu aku berangkat. Kuliah.  Dan sialnya lagi, pas pulang kuliah. Aku sadar headset hp sama dompetku ketinggalan di kosan. Cuaca juga tiba-tiba ujan. Aku harus balik lagi ke kosan? Nggak nggak nggak.  Aku mulai ngerasa ada yang nggak beres. Akhirnya aku paksain pulang dan di jalan nasibku sial lagi. Mulai nabrak duren. Mau jatuh. mau nabrak orang. Mau keserempet truk. Ya allah aku ini kenapa sih L
Aku beruntung sampai rumah dengan selamat. Di jalan kayaknya ada aja yang hampir buat aku celaka. Besoknya aku mulai cari kos baru dan aku mulai pindahin barang-barangku sedikit-demi sedikit.
Aku belum bilang sama si mbah kalau aku mau pindah. Sampai aku ngangkutin barang-barang yang terakhir aku baru pamit dan mbah, mbah sama sekali nggak marah tapi dia sempet ngomongin Dhea dan justru marah-marah nggak jelas. Kata mbah, pasti Dhea yang ngajakin aku pindah. Nggak tahu kenapa jadi Dhea yang disalahin. Aku jawab nggak. Aku bilang ayah ku suruh aku pulang ke rumah aja.
Ini yang paling buat aku nggak percaya di detik-detik akhir  aku ninggalin kosan hantu si Mbah cerita sendiri kalau tetangga dia habis meninggal. Tiga hari lalu. Tepat waktu malem aku maksa tidur rumah dan Dhea tidur di kos Ika. Kata-kata Sapi bener. Dan aku Cuma bisa diem antara percaya sama ngga percaya tentang keberadaan makhluk lain disamping kita.
sebelum keluar kamar, aku juga sempet foto-foto kamar lagi. ini fotonya:



Malem harinya aku udah nempatin kosan baru.  Disini kamarku wujud kamar. Normal. Nggak singup. Nggak horror. Aku capek banget habis mindahin barang-barang. Aku tidur.
Dan paginya aku bangun. Aku kaget setengah mati. Aku tiba-tiba ada di kosan lama!! Hahahha nggak lah, aku baik-baik aja kok sekarang di kosan baru. semoga ga di ganggu lagi ya. amin deh. 

*kehadian aneh lagi: malem ini waktu aku nulis cerita ini sambil dengerin musik dari laptop pake headset tiba-tiba ada yang telfon di nomer modemku. aku angkat. nggak ada suaranya. lagian, siapa juga yang tau nomer modemku. aduh udah deh ya. udah. aku jadi merinding. bobo di kamar mama aja deh :(
Thanks to:
Dhea-anak kamar sebelah
Mbah-yang jaga kosan
Sapi- yang liatin hantunya +kasih nasehat macem2
Icha 1-aku
Ica 2-temenya Dhea.
Niluh-yang bantuin pindahin barang-barang dari kosan lama ke kosan baru.

Selasa, 28 Februari 2012

KETIKA AKHIR MAMPU BERCERITA

Malam terasa  sangat dingin. Ditemani lolongan anjing dan bau busuk sampah di ujung selokan. Angin berhembus melalui fentilasi jendela. Sebagian ranting pohon berderik. Bernyanyi bersama. Nyanyian malam yang menakutkan.
Aku dan Flo sedang menghabiskan makan malam bersama. Di atas meja hanya ada semangkuk sereal ditemani sebotol susu dingin.
Flo membuka matanya. Lebar. Mata itu menerobos kegelapan malam yang selalu menghadirkan suasana hantu berkeliaran. Hati Flo patah.  Orang yang ia cintai mematahkannya. Membuangnya bersama seonggok sampah di selokan.
                Flo terus berjalan diiringi malam yang sakit. Semilir angin menerpa rambutnya. Meniupkan aroma kerinduan yang menusuk dadanya. Flo sayang, lupakan kesedihan ini. Suara yang sama. Suara seseorang yang mencintai aku dan Flo. Flo dan aku. Sementara aku hanya memandang mata Flo, tatapan yang dingin dan kosong.  Jika saja waktu bisa ditarik mundur. Ketika kami hanya dua gadis kecil berkepang yang hidup bahagia.  
                Aku dan Flo sepasang adik kakak yang selalu baik-baik saja. Keluarga kami cukup bahagia. Aku mencintai Flo. Dan Flo mencintai aku. Meskipun toh tak pernah ada orang lain yang mengisi kehidupan kami. Yakinlah, Aku dan Flo selalu baik-baik saja.
Maafkan aku, apakah aku bercerita terlalu cepat? Mungkin saatnya bagiku bercerita tentang keberadaanku yang cukup aneh tinggal bersama Flo. Flo saja. Tak ada yang lain. Kemana orang tua kami? Jangan tanyakan itu padaku. Tanyakan saja pada langit. Entah kemana Ia membawanya. Ayah dan Ibu kami bercerai lima tahun lalu. Lalu ayah kami yang orang belanda itu kembali ke negrinya. Kabar yang aku dengar, ia telah menikah lagi dan memiliki anak. Sementara ibu kami. Seminggu setelah perceraian itu ibu menghilang. Menyisakan secarik kertas yang mengatakan bahwa ia ingin pergi untuk tenang.
Aku rasa orang tua cukup egois. Pergi begitu saja. Meninggalkan dua anak yang tak pernah mengenal dunia luar. Aku dan Flo tidak punya teman. Kami tinggal di perkebunan besar dan menyewa belasan orang untuk merawat kami. Orang tua kami memilih program Home schooling , alasannya sekolah di kota cukup jauh. Selain itu, konon anak keturunan bangsawan tidak boleh bergaul dengan anak pribumi.
Tapi beberapa tahun kemudian keadaan kami memburuk. Perkebunan kami bangkrut. Dan kami harus menjual sedikit demi sedikit tanah perkebunan untuk menyambung hidup kami. Pak Tom, pengacara ayah yang selalu mengurusi semuanya. Aku tidak pernah tahu pasti kondisi keuangan perkebunan ini, aku hanya mendengarnya dari Pak Tom. Sementara ayah dan ibu kami menghilang. Sama sekali mereka tak mengirimkan kabar sejak tiga tahun silam. Hanya tinggal aku dan Flo di rumah belanda yang cukup besar ini. Aku dan Flo yang sangat kikuk terhadap dunia luar.
Pembantu kami juga dipecat satu persatu. Kami tak sanggup lagi menggajinya. Hingga yang terakhir. Bik Inah, yang rela hidup dengan kami tanpa digaji sepeserpun.  Kondisi perkebunan kami memprihatinkan. Semakin gersang. Dan tak sekoin pun kami hasilkan dari perkebunan. Terlebih setelah Pak Tom jatuh sakit. Keuangan kami semakin memburuk.
                “Non Flo, ayo dimakan Non...!” Teriak Bik Inah.
                “Iya Flo ayo makan,” kataku.
                “Nggak kak, Flo nggak lapar,” Jawab Flo. Air mata Flo menggenang dibawah kelopak matanya. Aku memeluk Flo. Gadis berusia 14 tahun itu hanya terisak lirih di pelukanku.
Bik Inah memandang kami. Ia tersenyum sabar melihat sikap manja Flo,
                “Non, harus makan.. Non nggak boleh nangis lagi, nggak boleh sedih. Disini ada Bibik, ada Non Clara yang selalu nemenin Non Flo,” ujar Bik Inah.
Flo masih sedih. Masih mendekam di pelukanku. Aku merendahkan posisiku. Hingga kini wajahku dan Flo berada dalam posisi sejajar.
                “Flo mau apa sekarang biar nggak nangis?” tanyaku sambil menghapus butiran air di pipi Flo.
                “Tidur yuk Kak...” jawab Flo.
Aku tersenyum.
                “Mau kakak temenin?” Tanyaku.
Flo mengangguk. Dan kami berjalan menuju ujung lorong. Tempat kamar Flo berada. Aku naik ke atas ranjang. Flo mengikutiku. Kemudian ia membaringkan tubuhnya di dekat tubuhku. Dan aku memeluknya. Mendekap tubuhnya yang mungil dan dingin.
                Mata Flo terpejam. Akhirnya, mata itu berhenti juga mengeluarkan air. Aku belum bisa terlelap. Angin dingin di luar masuk melalui celah jendela dan membuat aroma ketakutan kembali tersirat di benakku. Jadi teringat peristiwa malam itu. Aku lupa tepatnya. Yang aku ingat malam itu angin juga berhembus keras seperti malam ini.
                Gerombolan laki-laki. Mereka mengetuk keras-keras pintu rumah kami. Siapa yang datang semalam ini?  Flo membukakan pintu dan ia sangat terkejut melihat beberapa orang laki laki bertubuh besar menghadang pandangannya di depan pintu.
                “Siapa kalian?”
Lelaki-lelaki itu tertawa cekikikan sembari menatap wajah Flo.
                “Kami mau menagih untang Bapak kamu.”
                “Utang apa? Aku nggak ngerti maksud kalian.” ucap Flo.
                “Bapak kamu punya utang banyak. Dan dia menyerahkan rumah ini beserta isinya sebagai jaminannya!”
Aku mengintai Flo dari ruang makan. Sepertinya, Flo dalam kondisi yang buruk. Aku menghampiri Flo dan aku sangat terkejut melihat lelaki-lelaki bertubuh kekar itu sedang berbicara dengan Flo.
                “Tapi utang apa? Kami sama sekali nggak ngerti.” Tanya Flo.
                “Utang untuk membesarkan kalian. untuk merawat perkebunan ini! Untuk memberi makan kalian! Sudah jangan banyak tanya! Minggir! Saya mau masuk!”
                “Nggak! Kalian nggak boleh masuk!”
Flo menghadang di depan pintu. Gadis kecil itu tampak lebih berani malam ini. Sesaat kemudian Terdengar dua letupan senapan. Satu mengarah ke kepala Flo satu mengarah ke dadaku. Tepat di jantungku.
Flo mati. Dan aku menyusulnya. Bik inah berlari ke ruang tamu dan Ia melihat tubuhku dan Flo terkapar di lantai. Bik Inah memeluk haru tubuh kami. Gerombolan lelaki itu tak berhenti begitu saja. Mereka menembak kepala Bik Inah dan membuatnya hancur seketika. Kami. Tiga mayat yang terkumpul di dalam ruang tamu. Bik Inah mati memeluk aku dan Flo. Hanya dia yang menyayangi kami. Kemudian gerombolan lelaki itu menarik tubuh kami. Menyeret kami satu persatu ke halaman belakang dan menguburkannya bersama para cacing dan tanah basah.

Minggu, 26 Februari 2012

REDUP


Aku mau jadi pengantinmu dengan kerudung putih, gaun, dan mahar. Tapi kamu adalah malaikatku. tak ada pernikahan, tak ada perkawinan. Yang aku tahu aku hanya terus mencintai dan menyayangi, sampai kapan? Entahlah, sampai tak tentu  waktu.

Kamu yang berjalan didepan. Aku yang mengikutimu di belakang.
Kau bilang ingin bermain. Aku menunggumu hingga kau selesai bermain. Kamu bilang aku membosankan. Carilah kawan yang lain, yang tidak membuatmu bosan. Dan aku tetap menunggu menunggu dan menunggu. Hingga kamu yang pergi bukan kerena pernikahanmu atau pernikahanku. Tapi karena kita bukan lagi sepasang sayap yang bersama.

Selamat mejauh, sementara hatiku terus mengenangmu.aku sahabatmu, dan aku mantan wanitamu. Aku dan kamu sama sama tak tahu, mana batas antara sahabat dan kekasih hati.
Kamu dan aku menjalani semua berdua. Makan berdua. Minum berdua. Aku tak lengkap tanpa kamu, tapi apakah kamu lengkap tanpa aku? Iya katamu. Tapi nyataya kamu meninggalkanku.

Kamu dan aku sama sama tahu, semua akan berakhir dengan lilin yang mati, dengan kegelapan. Apa yang kulakukan, kau lakukan? Semua tanpa arti. Lalu kemana berikutnya? Apakah aku harus menjauh dan pergi? Lari dan mati atau diam dan menanti, yaa.. menanti semua selesai, semua kisahmu dan aku, sayangmu dan sayangku, semua berakhir.sudah.. semua berakhir.


Lentera malam masih dengan lilin yang berbinar.
Mengenangmu sayang, menantimu memelukku saat dingin menyertaiku.

“aku menyayangimu” katamu.

“benarkah, lalu?”

“aku ingin bersamamu selamanya.” jawabmu.

“kenapa?” tanyaku.

“aku hanya mau bersamamu, bukan bersama yang lain” jelasmu.

Tapi itu dua tahun lalu, sementara kini.

“masihkah kau menyayangiku?”

“tak tahu” jawabmu.

“masikah kau ingin bersamaku?”

“tak tahu”

“kenapa kau tak tahu?”

“karena aku tak lagi mau menjawabnya.”

“kenapa?”

“takut air matamu mengalir bila jujur”

“katakan, aku ingin dengar!” desakku.

“tidak”

“KATAKAN!”

“hmh..” kau menghela nafasmu.

“ya, aku tak lagi menyayangimu” lanjutmu.

Air mataku meleleh jatuh di pipi.
Kamu memandangku. Tak berkata apa-apa, tak ingin memelukku atau apa. Kamu hanya diam, diam, diam, dan terus diam.

“aku sudah tau kamu akan mengangis.” akhirnya mulutmu berkata.

“kau suka dengan tangisanku ha? Kau suka dengan air mata ini?” aku menatap murka ke arahmu. Kamu tersenyum, sedikit menyengir.

“siapa suruh kamu menangis? Bukannya kamu yang memaksaku berkata jujur? Dan bila kejujuranku melukaimu, apakah itu salahku?”

aku tak menjawab pertanyaan sadismu. Jahat sekali.
Sahabatku, mantan wanitaku, atau musuhku, entah dengan nama apa aku harus memangggilmu. Kamu melukaiku. Taukah kamu tentang hati yang menyayangi lalu ditinggal pergi dan disayati? ya. Itu hatiku. Sahabatmu, mantan wanitamu, yang mencintamu

Kembali ke kamarku. Menulis catatan detik detik sebelum kematian. Diantara cahaya dan kegelapan. Diantara berjalan dan mematung. Diantara bernyanyi dan menangis. Diantara bersedih dan tak punya hati. Diantara nayala lilin yang hidup dan mati REDUP ya, itu aku. Wanitamu.

Kamu tak lagi ingin memanggilku 'sayang' sebagai tanda kau menyayagiku. Baiklah panggil aku 'musuh'.

“tak mau” jawabmu.

“kenapa?'

“aku bukan musuhmu!”
“lalu kamu siapa? Kamu tak lagi menyayangiku bukan? Mau kau panggil aku jahanam pun aku terima”
terdiam sejenak.

“hmh..” ka
mu tersenyum bengis.

“ya, aku tak menyayangimu lagi, tapi aku bukan musuhmu. Aku mantan kawanmu. Mantan wanitamu. Untuk apa aku memanggilmu jahanam? Untuk melikaimu? Bodoh..” kamu menghela nafas dingin.

“bodoh sekali.. kamu sudah cukup terluka karena kepergianku. Lantas Kenapa aku harus membuatmu luka lagi?” lanjut
mu, dan kau semakin tampak tak berperasaan.

“JAHANAM KAU!” hujatku.

“bangga sekali kau membuat luka itu! Biar apa ha? biar apa?biar aku mati karena lukamu?jahanam!” aku naik pitam. kau memandangku tanpa ekpresi.

“agar kau dan aku terlepas, sebelum semuanya semakin sakit” Jawabmu

“semakin sakit, apa maksudmu? Tidakkah kamu mengetahui aku sudah cukup sakit saat ini?”

“aku tau. Tapi lebih sakit lagi bila melepasmu nanti..” kau menunduk, memutus kalimat yang belum kau selesaikan.

“nanti.. ketika rasa sayang itu semakin besar, aku takut aku dan kamu malah semakin sulit dipisahkan” lanjutmu.
Aku terisak. Air mataku menetes. Tak kau hapus.

Aku disudut kamar gelapku. Sementara kau di atas ranjang tidurku yang kotor dan berantakan. Tubuhmu mendekat, berjalan setapak demi setapak ke arahku. Semakin dekat. Apakah kamu akan memelukku? Kuharap iya. Aku rindu bahumu. Pelukanmu. Dan kamu.
Jantungku berdegup kencang tak berirama. Jarak yang sangat dekat denganmu. Limapuluh sentimeter didepanku
Kamu berhenti. Tak lagi maju dan mendekap erat tubuhku. Kamu diam. Menatapku. Aku juga menatapmu. Dalam.

            “kenapa berhenti menangis? Lanjutkan, aku ingin mendengar tangisanmu, yang lebih keras” ucapmu kejam.
Aku terisak lagi. Kata-katamu terus menyayat. Tingkahmu membuatku tenang sesaat kemudian kembali melukaiku.
Kamu tersenyum, bengis, puas, sadis. Makhluk seperti apa didepanku ini? Senyummu, menyakitkan. Aku mendorong tubuhmu. Berlari menuju pintu, menyusuri anak tangga. Berlari. berlari terus berlari dan keluar rumah. Tetap menangis.

Menjadi manusia lingling di dalam malam yang pekat. Hiruk pikuk. Orang-orang berlarian. Kendaaan. Bunyi klakson. Suara pedagang. Suara tawa tangis anak kecil yang merengek meminta pemen. Apa yang kalian lakukan, aku bingung, kalian membuat otakku meledak.

            “aaaaaaaaaaa!” aku berteriak . Semua mata memandangku. Kemudian aku tersenyum frustasi. Dengan air mata yang tentu saja belum mengering.

Kemana kamu? Kemana kamu yang dulu? Sahabtku, mantan wanitaku yang selalu menjagaku. Kamu raib, kamu hilang. Hanya memori lama berputar kembali di otakku.
Aku dan kamu bertemu di sore yang cerah. Berjalan bergandengan menyusuri trotoar. Tersenyum, berdua, brcanda, tertawa, kemudian saling bercerita. Aku menuturkan kisahku yang pilu. Butiran air keluar dari sudut mataku, kamu menghapusnya. Kembali bercanda, membuatku tertawa. Memelukku, dan kamu berkata 'aku menyayangimu' hanya memori. Aku tak ingin semua terulang  tapi tak mungkin lagi! tak akan lagi!

tak ada aku dan kamu lagi. Tak ada KITA BERSAMA lagi. Semakin deras, air mata meleleh tak terhenti. Mengenangmu. Semua sudah berakhir sayang.
Kamu datang. Kamu diseberang alan membaa payug besar, kamu berubah pikiran?

Aku senang bukan kepalang.
Tersenyum dengan butiran air mata yang belum hilang.
Jesi!” aku melambaikan tanganku ke arahmu.
Kamu yang menoleh kana-kiri kebingungan, mendapatiku yang ada di seberang jalan.
Dihadapanmu, tepat lurus didepanmu.
Wajahmu memandangku, aku girang. Tersenyum.
Menoleh kanan dan kiri jalan, bersap menyeberang menuju tempatmu.
Sabar, sebentar lagi sayang, aku datang. Mobil masih tampak jauh.
Aku berlari, tapi..aku kembali terpaku.
Melihat sosok lain menghampiri tubuhmu.
Serang perempuan yang kenal, berteduh dibawah payungmu. Sembari memberikan sekaleng minuman soda kepadamu.
Kamu menerimanya. Menyambutnya dengan senyum. Ia tak menggandeng tanganmu, atau bersikap manja sepertiku biasanya padamu. Dia hanya membuatmu tertawa, sekaligus juga membuat aku menangis. Kembali kecewa, merasa sakit yang luar biasa. Kamu punya cara sendiri menunjukkan kebenarn yang menyakitkan.
Merasa bersalah, serta hancur dan yakin pasti kehilanganmu.
Inikah persahabatan yang semestinya? Ya. kau benar sahabat, mantan wanitaku. Kau sudah melaksankan tugasmu. Memberitau diman salahku. Membiarkan mataku berair dalam kesalahan itu, bahkan meninggalkanku.

Kamu benar kawanku, tapi,

-SAKIT! KAMU TETAP MEMBUATKU SAKIT,
MAMU MENINGGALKANKU! KAMU JAHANAM!

KAMU MENYAKITIKU, KAMU MEMBUATKU MENANGIS.
“AAAAAAA...” aku kembali berteriak seperti orang gila.
Megeluarkan air mata.
Sementara truk besar melaju kencang ke arahku. Dan mataku hanya mampu menghalangi sinarnya.
...


sahabatmu yang benar itu merangkulmu, menjauh. membiarkan aku terkapar diantara orang-orang yang mungkin tak lagi mengenali jasadku. Kamu tak menangis, hanya diam terpukul tragis kematianku. Bukankah persahabatan yang salah pasti akan berakhir, tunggu waktu saja. Cepat lambat, sakit tidak. Keduanya akan terpisah karena ada di jalur yang salah. Harunya kamu meninggalkan lebih awal. Sebelum sayangku semakin besar, hingga tak mampu melepasmu, Biarkan saja lilin yang redup itu menyala tanpa kehadirnmu. Bukan malah mati dihadapanmu sebagai sahabat, dan mantan wanitamu.

Selasa, 14 Februari 2012

KINGDOM

Ku beri tahukan padamu tentang istana besar bernama rumah. besar. bagus. tapi, siapa yang mampu bertahan tinggal di dalamnya? jika yang mendiami rumah itu adalah dua monster. Yang sehari dua hari berwajah baik, namun setelah seminggu dua minggu mereka akan menyiksa siapa saja yang ada di dalamnya. Sekalipun itu, anak-anak mereka. Buah cinta yang konon katanya menjadi tombak harmonisnya suatu rumah.
harmonis apa?
tiga anak monster yang tinggal dirumah ini saling membenci. Satu diantaranya bernama Saya. Saya membenci segala yang berhubungan dengan rumah ini. Apalagi saat ramai. saat anggota keluarga monster berkumpul. Saya ingin menutup telinga saya rapat-rapat. pergi ke kamar saya. Mengungsi. Membiarkan suara-suara gaduh itu meraung.
hingga senyap-
dan saya baru memberanikan diri mendekati dapur. Mengambil sesuap nasi untuk makan. Siapa sangka jika dalam istana bernama rumah sebesar ini ada perempuan kecil yang harus mengendap-endap terlebih dahulu untuk menculik sesuap nasi. Ironi. 
tahukah anda ketika saya di kurung di dalam rumah yang lebih mirip tempat penyiksaan ini.rasanya, saya ingin keluar. karena setiap sudut dari rumah ini hanya ditenun oleh bayangan-bayangan penderitaan saya di masa lalu.
terlalu sakit untuk saya ungkapkan. Saya masih ingat saat rambut saya dijambak oleh monster laki-laki yang saya panggil ayah. Dengan bengisnya ia menarik rambut saya dan menyeret tubuh saya mengitari rumah. Saya hanya perempuan sembilan tahun saat itu. Lalu tahukah anda apa yang kemudian di lakukan lelaki bengis itu dengan rambut panjang saya? Ia memangkas rambut saya. Mahkota saya. Dan membiarkan saya menangis bersama sisa-sisa rambut panjang saya yang berserakan di lantai. Itu sebabnya, seumur hidup saya tak pernah memiliki rambut panjang. Saya takut. Saya trauma. Saya tak ingin lelaki itu melakukan hal yang sama pada saya. Lagi.  
Lalu tembok ruang tamu. Saya juga masih ingat saat kepala mungil saya dibentur-benturkan ke tembok itu, Lagi-lagi oleh laki-laki yang saya sebut ayah. Bahkan terkadang hanya karena masalah sepele, hanya karena saya merengek meminta izin keluar rumah untuk bermain.
Lalu sudut dapur. Saya masih ingat tangan besar lelaki itu terus memukul tubuh saya hingga seluruh tubuh saya memar. Dan saya terjatuh di lantai. Kulit saya yang memar bersentuhan dengan lantai yang dingin. Rasanya perih. Dan lebih perih lagi saat saya menyadari Orang biadab yang telah menyiksa saya itu adalah ayah saya. Ayah kandung saya. Entah apa yang meracuni otaknya. Tapi saya rasa, memukul saya adalah kegiatan yang paling ia sukai.
Dan tahukah anda apa yang saya katakan ketika keesokan harinya teman-teman saya bertanya apa yang terjadi pada tubuh saya, saya hanya bisa berdusta. mengatakan saya jatuh.
saya berdusta karena saya benar-benar malu dengan keadaan keluarga saya.
satu-satunya tempat yang saya rasa paling aman adalah kamar saya. tempat saya berbagi nafas dan tangis. Tempat saya menyembuhkan perih-perih memar di tubuh saya sendiri. Tempat saya bercanda dengan teman-teman saya melalui handfon. atau tempat saya berkhayal dan terus menulis melalui laptop kecil saya.
Sejuta rahasia saya simpan rapat-rapat di dalamnya. Di kolong meja, bawah ranjang, bawah tempat tidur. tulisan tentang orang-orang yang saya cintai, obat-obatan yang sering saya gunakan saat aku frustasi bahkan silet, jarum,dan juga bekas darah yang saya sembunyikan. Saya memang penuh dengan rahasia.
Tiga anak monster yang tinggal dirumah itu, menjadi anak cacat yang tak pernah terungkap. kakak laki-laki saya adalah seorang pemerkosa kecil, yang pernah hampir membunuh saya saat saya ingin mengadukannya. Lalu saya, saya rasa saya adalaah psikopad kecil, yang tumbuh dengan luka, dan sangat mencintai darah. Sementara adik laki-laki saya, lebih beruntung. Ia memilih pergi meninggalkan rumah ini saat ia masih benar-benar kecil. Ia memilih tinggal di tempat dimana ia tak akan menerima banyak luka seperti kedua kakaknya.
 Saya lupa menceritakan pada anda tentang ibu saya, ia adalah perempuan yang tak mempercayai saya bahkan saat saya mengadukan kakak laki-laki saya yang hampir meniduri saya.
***
Saya. panggil saja begitu. Saya tak ingin menyebut nama saya karena saya malu dengan kehidupan yang saya miliki. Saya tujuh belas tahun sekarang. Saya korban dari keluarga palsu yang punya nama dan harta. Kakak laki-laki saya pernah hampir meniduri saya saat saya berusia delapan tahun. Ayah saya suka memukul saya. membenturkan kepala saya ke tembok dan menarik paksa rambut saya. Sementara ibu saya selalu semangat menyoraki ayah saya yang sedang menyiksa saya. Kulit tubuh saya banyak terkelupas cakaran ibu dan ayah saya. Saya perempuan yang membenci hidup saya. Saya perempuan sakit yang masih bertahan hidup dengan kondisi keluarga saya yang sebenarnya jauh dari kata baik. Berulangkali pasang mata melihat saya dan hidup saya. mereka katakan itu sempurna.
orang tua yang baik? kakak yang pandai?
kamuflase.
Anda tak pernah melihat apa yang saya lihat. Anda tak pernah melihat ketika wajah baik-baik mereka terkadang dapat berubah menjadi monster saat mereka menyiksa saya dengan bengisnya.
Anda tak pernah rasakan apa yang saya rasakan, ketika saya harus menerima kenyataan ketika orang yang menghancurkan hidup saya adalah keluarga saya sendiri.
Anda tak pernah mengerti berapa bekas luka yang tercecer di tubuh saya dari ujung rambut ke ujung kaki. lengkap. Dan tahukah anda jika saya yang membalut bekas luka itu sendiri. Sejak kecil, saya terbiasa berteman dengan perih.
Saya ingat semua luka yang pernah dibubuhkan di tubuh saya oleh orang-orang yang seharusnya melindungi saya. Keluarga saya. Dan tahukah anda hal itu membuat saya tumbuh menjadi perempuan sakit?
Saya memilih hidup dengan cara saya. Saya pengkonsumsi obat dalam dosis besar. Saya penghisap rokok. Saya suka melukai diri saya sendiri. Saya menghabiskan berlinting-linting tembakau saat saya sedang frustasi atau berbutir-butir pil saat saya merasa terlalu lelah untuk bertahan hidup. bahkan terkadang berpuluh puluh sayatan saat seseorang yang saya percaya menyakiti saya.
Yang membuat saya tak mengerti adalah, saat ayah saya mengetahui bekas sayatan di tangan saya karena saya frustasi dengan kondisi keluarga saya. Ia menangis. Menyatakan menyesal. Meminta maaf dan berjanji tak akan menyakiti saya lagi. Saya pikir ia benar-benar menyesal telah membuat hidup saya menderita.  Saya pikir ia dapat berubah menjadi malaikat dalam keluarga saya. Saya pikir. Dan saya mencoba mempercayainya.
Tapi lihat? Apa yang dia lakukan. Belum genap tiga hari setelah ia meminta maaf kepada saya. Hari ini ia kembali memukul saya. menampar saya. menjambak rambut saya. Menyeret tubuh saya dari ruang tamu ke kamar mandi.
Lagi?
saya berteriak. dan dengan semakin senangnya ia memperlakukan saya.
SEPERTI BINATANG. 
kulit saya penuh lebam dan hati saya berpuluh kali lebih lebam dari tubuh saya. saya jadi tak mengerti apa itu keluarga. kata guru saya saat saya kecil, keluarga tempat berlindung. tapi tahukah anda? jika satu satunya yang melukai saya adalah keluarga saya sendiri?
Sementara ibu saya yang tak perduli dengan keadaan saya itu kembali menyoraki memberi semangat pada ayah saya untuk terus memukul saya. Keluarga macam apa ini?
Saya menangis. Menghabiskan waktu saya di kamar. Memandang pilu berbagai luka yang terlukis di tubuh saya. Saya sudah tujuh belas tahun dan saya tetap disiksa. Haruskah saya pergi dari tempat ini? Sungguh, saya ingin berteriak. Saya benci keadaan seperti ini.
Tubuh saya sakit, dan hati saya lebih sakit lagi. Saya menjejali mulut saya dengan obat tidur. banyak sekali, agar saya lekas tertidur. Agar luka di tubuh saya dan di hati saya tidak terasa sakit lagi.
saya menangis. hanya menangis. dan tidur seperti orang mati. Lama sekali.

Minggu, 01 Januari 2012

CEMBURU


Apa yang kau rasakan jika kekasihmu masih memikirkan perempuan lain ketika ia bersamamu?
Masih mencintai perempuan lain ketika ia menghabiskan waktunya bersamamu?
Masih merindukan perempuan lain ketika ia menggenggam tanganmu?
Kau sangat mencintai kekasihmu itu.
Kau sama sekali tak meminta apapun darinya.
Kecuali satu, hatinya.
Kau ingin hatinya untukmu.

Tapi lihat. Lihat dia. Dia. Perempuan busuk yang mengambil hati kekasihmu. Hubungan mereka tak selama kau dengan kekasihmu. Apa yang ia berikan juga tak lebih dari yang kau berikan pada kekasihmu. JAHANAM! Apa yang kau lakukan pada kekasihku sehingga tiap detiknya telingaku harus tersiksa oleh namamu. Aku ingin kau mati! Aku ingin kau tak pernah ada dalam hidup kekasihku.
                Tapi hati memang lancar bicara. Tak seperti mulut yang kaku berkata. Setiap kekasihmu menyebut namanya kau hanya bisa diam. Diam. Diam. DIAM. Karena itu satu satunya yang bisa kau lakukan. Ketika kau marah pada kekasihmu, maka ia akan balik memarahimu. Itulah kekasihmu. Kau harus bersabar. Karena itu yang membuatnya tetap bersamamu. Tetap disampingmu.
                Apapun kau lakukan untuk merebut hati kekasihmu. Kau rela lelah. Kau rela mati untuknya. Apapun yang bisa kau berikan padanya, pasti kau berikan. Apa yang ia inginkan, pasti kau turuti. Karena kau mencintainya. Benar-benar mencintainya. Tapi lihat, apa yang kekasihmu lakukan padamu. Dia menyebut nama perempuan itu. Lagi. Lagi. LAGI? Ini untuk ke berapa kali sayang? Hatimu remuk. Patah berjatuhan. Kau membiarkan mulut kekasihmu menyebut namanya. Bercerita tentang perempuan busuk itu lagi padamu. Sementara hatimu. Hancur. Sanggupkah kau membayangkan sakitnya? Kau sudah melakukan apapun untuk kekasihmu. Kau rela kesucianmu direngutnya. Tapi dihatinya tak ada namamu. Yang ada nama perempuan lain. Perempuan jahanam.
                Kau ingin mengiris nadimu? Kau ingin mati? Iya. Jika aku menjadi kau aku juga pasti ingin melakukannya. Tapi tentu saja sestelah aku menyingkirkan nama perempuan itu dari hati kekasihku. Aku ingin membunuh perempuan itu. Aku ingin perempuan itu mati lebih dulu! Aku ingin kekasihku tahu, jika aku mencintainya. Jika aku yang paling mencintainya. Lebih dari siapapun.
                Kekasihmu itu. Membual. Katanya ia akan hidup selamanya denganmu. Katanya Cuma kamu yang mengisi hatinya. Mengisi dadany. Tapi, lihat. Apa yang ia lakukan padamu. Malam ini ia kembali mereobek hatimu. Ia tahu kau terluka, tapi ia sama sekali tak ingin tahu. Tak ingin berkata maaf. Dia tak perduli padamu.
                Air matamu mengalir. Membasahi lantai yang penuh dengan darahmu. Entah darah darimana saja. mungkin darah tikus. Darah mensturasi. Atau darah apa saja boleh. Kau ingin tenang malam ini. Tapi kau benar-benar tak bisa. Di otak mu hanya ada kekasihmu itu dan perempuan jahanamnya.
                Akhirnya, lagi lagi kau menegak obat tidur. Ini hal buruk kedua yang sering kau lakukan ketika kau merasa terlalu sakit untuk hidup normal. Oh ya, aku lupa memberitahumu. Hal buruk pertama yang sering kau lakukan adalah menyayat kulitmu. Dengan benda apapun. Pisau dapur, jarum, pines, atau apapun. Ketika darahnya merembes keluar. Rasa tenang mengikutinya. Dan akhirnya kau dapat tertidur. Tidur yang sakit.
                Suatu hari ketika kekasihmu melakukan hal yang sama padamu. Lebih buruknya kali ini ia melakukannya setelah ia bercinta denganmu. Kekasihmu kembali menyebut nama perempuan itu. Perempuan bangsat itu. Hatimu remuk sejak sore tadi. Terus remuk hingga kau berusaha setenang mungkin didepan kekasihmu. Padahal pikiranmu terbang kemana mana. Melayang ke semua luka yang dibuat kekasihmu. Kau ingin marah. Tapi kau tak bisa melakukannya.
                Kau menelan kesakitanmu sendiri. Seperti menelan lendir yang bercampur air ludah. Sangat susah. Sebab kau sama sekali tak ingin menelannya. Kau hanya tak ingin bertengkar dengan kekasihmu. Kau hanya menjaga hubunganmu dengan kekasihmu. Kau hanya ingin tak ada pertikaian. Karena kau sangat menyayangi kekasihmu. Sementara kau, kau yang harus menikmati lukamu. Memendamnya jauh jauh di dalam hatimu. Agar air matamu tak meluber kemana mana. Kau hanya ingin, kau dan kekasihmu baik-baik saja. sebab kau sangat mencintai kekasihmu.
                Tapi malam berkata lain. Malam memberikan kau waktu yang terlalu panjang untuk kau merasakan sakit. Malam kembali meneteskan air garam pada lukamu. Membuatmu merintih. Dan ini benar-benar membuatmu sakit.
                Kau mencoba bersembunyi di balik selimut hangatmu untuk mendapatkan ketenangan. Tapi tak berhasil. Kau panik. Kau meminum semua obat yang ada di dalam tas mu. Obat apa saja. kau hanya ingin tidur. Tidur, dan semuanya akan tak terasa sakit. Dan benar, obat-obatan itu berhasil membuatmu tertidur. Kau merasa tenang. Tenang yang sesungguhnya sakit.
                Hingga pagi menjemput. Sinar matahari memaksa masuk kedalam matamu. Kau membuka matamu perlahan. Membiasakan sedikit demi sedikit cahaya untuk mengisi pupil matamu. Tanganmu digenggam oleh seseorang yang sedang menangis. Siapa dia? Dari ubun-ubunnya saja kau tahu, jika dia adalah kekasihmu. Kau menggerak-gerakan tanganmu, memberi tahu pada kekasihmu itu jika kau sudah terbangun dari tidurmu. Kekasihmu menyadari gerakan kecil di tanganmu serta mata indahmu yang sedikit demi sedikit terbuka. Ia tersenyum,
                “Kamu udah baikan sayang?” Tanya kekasihmu. Ia mencemaskanmu.
                “Udah, tapi mataku berat banget rasanya…”
                “Kamu kenapa? Kamu marah sama aku?”
                “Nggak…” Jawabmu datar.
                “Kamu kenapa sayang? Aku kuatir sama kamu..” kata kekasihmu dan ia mulai menangis.
Kamu membelainya. Mencoba menghapus butiran air mata yang jatuh di pipinya.
                “Aku nggak papa.. Udah jangan nangis,” Jawabmu lembut, dan kamu memeluknya.
                “Nggak papa apanya? tangan kamu, kamu sayat-sayat kayak gini kamu bilang ngga papa…”
                “Udah, nggak usah dibahas.. Aku sayang sama kamu ”
                “Denger, sebentar lagi kita nikah. Aku nggak mau kamu kayak gini lagi.. Aku nggak suka…”
                “Aku ngerti. Maafin aku sayang,”
                “Apa aku yang buat kamu kaya gini sayang?”
Kamu terdiam. Mencoba menelan kebohongan dari mulutmu.
                “Udah… nggak papa… nggak usah dipikir lagi,”
                “Gimana aku nggak mikir. Kamu sampai kaya gini dan itu semua pasti karena aku. Meski aku nggak tahu salahku dimana, maafin aku sayang… aku nggak mau kamu kaya gini lagi…”
Kekasihmu mengeratkan pelukannya di tubuhmu.
                “Aku takut kehilangan kamu. Aku takut kamu mati…” Kata kekasihmu.
                “Aku Cuma tidur, aku belum mau mati sayang….”
                “Iya, tapi aku bener-bener takut kehilangan kamu..”
Kamu terdiam.
                “Aku juga. Aku cinta sama kamu..” jawabmu kemudian.
Dunia serasa berada di tanganmu. Kau merasa benar-benar dekat dengan kekasih yang menyita hatimu.  Andaikan waktu akan terus berada di detik-detik seperti itu. Tapi ku ingatkan padamu jika kau dan aku sama sekali tak mengerti apa yang terjadi pada menit-menit kemudian. Mungkin saja hatimu akan tergores oleh nama perempuan lain yang diucap oleh mulut kekasihmu. Apapun itu, aku hanya ingin hatimu tak lagi mudah terbakar. Aku ingin kau lebih mempercayai kekasihmu. Sebab tahukah kau? Jika kekasih yang paling mencintaimu adalah kekasih yang menikahimu.  Kubisikan rahasia kecil ini padamu, agar kelak kau menjadi perempuan yang bahagia.