Sabtu, 27 Oktober 2012

B


Jakarta diguyur hujan,
27 Oktober 2012
Hujan mempersilahkan siapapun untuk menangis. mengingat bagian memori yang terlepas.
Hujan mengetahui apa yang pantas didapatkan dan apa yang pantas dilepaskan.
Hujan dan jarak menjauhkan kita dari orang-orang yang tidak seharusnya bersama.
Dan mendekatkan dengan orang yang seharusnya bersama..
aku percaya itu. bagaimana denganmu?



Minggu, 07 Oktober 2012

MALANG JAKARTA IN LOVE

  

Apa bisa hubungan dijalani seperti ini? tidak saling bertemu dan berjauh-jauhan. Berkata saling memelihara hati. Saling percaya meskipun pasti saling berdusta. Saling mengkhianati satu sama lain dan lama lama berkhianat menjadi biasa. Ayolah, jangan munafik. Saat kekasihmu berada pada jarak berpuluh-puluh kilo meter darimu pasti ada sedikit rasa pudar di hatimu. Rasa berkhianat yang kian hari kian mengusik.  Memposisikan kehadiran sebagai masalah. Masalah yang semakin sulit terpecahkan bila sudah semakin sempit waktu luang untuk bertemu.
Aku-kamu.
Malang-Jakarta.
**
     Ingat pertama kali kita bertemu? Ingat aku gadis tomboy yang manis? Ingat mobil avanza putihmu yang pertama kali kau pakai untuk menjemputku? Ingat kaos oblong hitam besar yang kugenakan? Ingat sepatu confers hitam-biru yang melekat di kakiku. Ingat gelang yang bertuliskan nama salah satu distro yang terkenal di kotaku? Iya disini. Dimana lagi? Di Malang. Kota kecil tempat aku dan kamu tumbuh tetapi tidak pernah saling bertemu. Kecuali saat ini. pukul 17.30 tepat. Awal bulan puasa.
Sudah lama sekali rasanya.
‘Perkenalkan namaku Ica, kamu?’
‘Bayu’
**
            Kita makan bersama bukan? Ini pertama kali buka puasa dalam tahun ini. Anehnya baik aku dan kamu tak ingin menikmatinya di rumah masing-masing. Rumah adalah tempat untuk saling mengingat anggota-anggota keluarga.
               “keluarga?” kau mulai menertawakanku.
               “Kenapa? Ada yang salah?”
               “Tidak”
**
               “Siapa kau?”
               “Aku laki-laki”
               “Iya , aku tahu. Tapi laki-laki seperti apa?”
Kau tersenyum.
               “Tanpa terlalu banyak bertanya kau akan tahu siapa aku jika kau bersamaku”
**
Kita bersama.
Saling bercerita. Membagi kisah masa lalu yang tidak kalah jumlahnya.
               “Aku sudah puas merasakan sakit,” Kataku.
               “Sekarang ada aku disini. Maka aku usahakan agar kau tak lagi merasakannya,”
Kau memelukku.
Hening.
**
               Apa lagi yang pernah kita lewati? Kau ingat tempat-tempat makan yang biasa kita kunjungi? Banyak sekali. Hampir semua tempat makan di kotaku sudah aku kunjungi bersamamu. Kau suka makan. Itu yang membuat berat badanku naik beberapa kilo belakangan.
               Kau suka apa lagi? Kau suka hidup santai? Sama. Kau suka hidup tenang? Sama. Kau suka menjamah perempuan-perempuan sesukamu? Untuk yang ini aku berusaha tersenyum. Menarik residu nafas lebih dalam lagi. Dan kukatakan padamu,
               “Maaf, aku memang bukan gadis-gadis yang seperti itu. Yang mudah kau jamah sesukamu. Tapi percayalah, aku bisa mencintaimu dengan caraku.”
Kadang terjadi kebingungan yang kalut saat aku berusaha menilaimu. Kau laki-laki dengan banyak sisi. Busuk di satu sisi. Tapi istimewa di sisi lain. Aku tersanjung dengan caramu menjaga keluargamu. Menjaga adik perempuan dan Ibumu. Kau melakukannya lebih dari kau menjaga nyawamu. Jujur, aku juga ingin kau jaga seperti itu. Sanggupkah? 
**
               Sebenarnya hubungan seperti apa yang kau harapkan? Hubungan yang mencari kesenangan sesaat kemudian saling pergi meninggalkan? Atau hubungan yang berjalan begitu saja tanpa tahu arahnya? Yang dijalani lebih dari hitungan hari yang tak dapat dijangkau oleh kumpulan jari-jariku dan kamu? Kau memilih pilihan kedua. Baiklah. Hubungan yang seperti itu.
               “Sampai kapan?” tanyaku.
               “Sampai maut memisahkan,” jawabmu
Jawaban konyol yang berarti kau sendiri tak tahu.
**
               Ingat saat kau marah padaku?  ingat saat kau mulai membentak-bentak di telefon? Ingat saat kau mulai bersikap luar biasa dingin? Ingat saat kita berpisah dalam hitungan 24 jam hingga 48 jam kau akan datang menemuiku dan kita akan kembali bersama. Ingat saat kau mengatakan jika kau sangat menyayangiku? Apakah ini bagian dari permainanmu yang sudah sangat mahir berurusan dengan wanita berjenis apapun?
**
            Ingat boneka sapi yang kau berikan padaku saat kau akan pergi ke kota bernama Jakarta? Kau bilang padaku jika dia yang akan menemaniku saat kau tak ada disini. Dalam benakku berpikir, sudah berapa boneka yang kau berikan pada perempuan-perempuan lain sebelum aku? Boneka ini, pasti tak ada artinya sama sekali untukmu. Tapi tak apa. Aku selalu menerimamu dengan segala kekurangan yang kau miliki. Aku tak pernah mempermasalahkan masa lalumu. Itu aku.
**
            Ingat kumpulan awan yang mulai berantakan? Ingat tetes hujan yang tiba-tiba mulai memerciki kotaku? Ingat kita yang sudah berada pada jarak ratusan kilo lebih? Ingat kita yang semakin berjauhan? Ingat jika akhirnya kau harus melepaskan aku? Karena kita tak sanggup bertahan saling menjaga hati pada jarak ratusan kilo meter lebih? Bukan. Tapi karena sesuatu yang lain terjadi padaku. Dua hari setelah kepergianmu sebuah mobil kehilangan kendali menabrakku yang sedang menyebrang di jalan raya. Tubuhku sempat kritis dan akhirnya aku tak dapat tertolong. Aku tak sempat mengucapkan selamat tinggal padamu. Aku tak akan pernah sempat lagi menelfon atau mengirimkan pesan padamu yang  berada pada jarak ratusan kilo meter dariku untuk berkata aku sangat mencintaimu.

Kuakhiri kisahku disini,
Dalam  tetes hujan dan bau tanah basah.
5 oktober 2012
Seseorang yang mencintaimu dari jauh.

Minggu, 30 September 2012

Dibalik novel JANTUNG HATI KEJORA

Alhamdulillah akhirnya novel ini terbit juga ::



JANTUNG HATI KEJORA
a novel by Anisa Elianti & Niluh Ayu Sukma
Published in July 2012

Sekilas dibalik novel :
Novel ini adalah novel pertama kami. Baik aku maupun Niluh belum pernah punya novel sebelumnya. Kita berangkat dari orang yang biasa-biasa aja. Bukan siapa-siapa tapi ingin menjadi siapa-siapa. Kita usaha. Dengan segala cara. Pengorbanan dan keulaetan dan akhirnya jadi juga. Hahahaha Sedikit Lebay. Tapi gapapa.  Kami berharap ini permulaan permulaan yang baik. Ini baru awal.
Novel ini tercipta dan terwujud tentunya atas bantuan banyak pihak. Tuhan kami yang mendengarkan doa kami. Ayah Ibu. Dan teman-teman tentunya. Sumber Inspirasi yang sebenernya nggak jauh-jauh juga dari FIB. Siapa ya? :p Hehehehe. Siapapun itu, Thanks for all :)

Dari awal penulisan sampai novel ini terbit kurang lebih butuh waktu sekitar empat bulan.  Dua bulan proses penulisan. Dua bulan proses penerbitan.  Proses yang panjang. Proses yang butuh keuletan ekstra. Awalnya kita emang Cuma bercanda dan mengkhayal punya novel kaya dua orang hebat ini, Mba Linda dan Mas Fahmi serta dosen kami Pak Yusri yang emang hebat dalam dunia kepenulisan seperti ini. Sementara kami? kami Cuma dua perempuan yang suka berkhayal dan membayangkan yang indah-indah. Tanpa tahu harus melangkah kemana atau gimana cara mulainya.
Akhirnya terbersit dalam benak kami untuk menulis sebuah Novel yang terdiri dari dua bagian : Jantung Hati (aku) dan Kejora (Niluh).  Kita berdua cari referensi, tanya sana sini gimana sih caranya bikin buku? Gimana sih caranya biar kita bisa nerbitin buku? Dan semua pertanyaan kita terjawab oleh Mbak Linda dan Mas Fahmi yang sudah pernah menerbitkan buku sebelum kita. Kita berusaha. Terus setiap hari. Saling menyemangati sampai novel ini jadi. Ini kerja keras :D . Novel ini kita persembahkan untuk orang-orang disekitar kita.

atas terbitnya novel ini aku mau ngucapin terimakasih untuk :

Ayahku tercinta. Orang yang selalu buat aku pingin pulang ke rumah.
orang yang menguatkan aku. Orang yang sangat menyayangiku 
tanpa perduli seperti apa aku, dan bagaimana keadaanku.
Orang yang selalu mengerti aku.
orang yang membuatku semangat untuk membuatnya tersenyum bangga.



 Impian masa kecilku
 Sejak kecil aku punya mimpi untuk bisa nulis buku.
walaupun tulisanku sendiri acak-acakan.
Dulu sering kena tegur guru bahasa indonesia karena tulisannya berantakan.
Ada salah satu temen bilang penulis tapi tulisanya jelek ya cuma aku.
hahahaha.
waktu aku kecil, aku pikir cuma mimpi bisa nulis buku,
tapi setelah aku dewasa aku ngerti.
kalau mimpi itu sebenarnya bisa dikejar untuk diwujudkan.



Teman-teman yang menemani hari-hariku
Tanpa kalian mungkin aku nggak pernah tahu apa artinya hidup.
Tanpa kalian aku bukan siapa-siapa.
Kalian yang membuatku belajar tentang bagaimana hidup harus dijalani.
Seburuk apapun kondisi kita sebelumnya.
Hidup harus tetap berjalan.
Terimakasih sudah menemaniku,



PANDA FAMILY
 sahabat-sahabat terhebat yang pernah aku miliki.
Niluh, Amel, Firsty :)
Orang-orang yang menghabiskan banyak waktunya bersamaku.
Orang-orang yang menerimaku apa adanya.
I love you so much :*


Orang yang mengajariku banyak hal.
 
 
 
orang yang mengejar mimpinya bersamaku.

Sebenernya sih sedikit bocoran, orang-orang yang diceritakan dalam novel kami ini ada dalam kehidupan nyata dan nggak jauh-jauh juga sih dari FIB :P. oiya. Ada yang nggak tahu FIB itu apa? FIB itu sebuah Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Brawijaya yang mempertemukan kami dengan orang-orang hebat. Termasuk juga aku ketemu sahabat sekaligus parnerku Niluh karena kita sama-sama menempuh pendidikan dalam fakultas ini. Disini banyak mahasiswa yang sudah mampu menerbitkan buku sendiri dalam usia muda. Hebat.
Dari penerbitan novel ini Kita dapat pelajaran penting tentang bagaimana mengejar mimpi. Novel ini adalah salah satu mimpi kita yang terwujud. Sebenernya mimpi bisa di kejar dengan kerja keras. Kalau temen-temen punya mimpi, apapun itu, sesulit apapun, Kejar mimpi itu dan wujudkan. Karena Tuhan nggak tidur. Tuhan pasti bantu siapa yang mau bersungguh-sungguh dan berusaha keras.
Awal kita cetak. Kita nggak berani nyetak banyak. Cuma ada beberapa puluh copy. Takutnya nggak ada yang beli. Nggak tahunya semuanya habis dalam tiga hari. Cuma tersisa dua copy.  Satu buat aku dan satunya lagi buat niluh. Bahkan ada juga yang sampai nanyain kita buat versi PDFnya novel ini atau nggak. Kita bener-bener nggak nyangka bakal sampai kayak gitu respon temen-temen. Ada yang bilang novelnya bagus, di aminin aja deh. :D semoga beneran bagus. makasiii  banget teman-teman. Tanpa kalian kita nggak ada artinya. :)

Emmmm… sekarang apa yang sedang kita lakukan? Yang pasti masih Kuliah :D masuk semester tiga. Masih tetep nulis juga pastinya. Ini baru awal dan kita belum ada apa-apanya dibanding orang-orang yang bukunya udah dipajang dimana-mana. Kita masih butiran kecil banget untuk menjadi penulis hebat. Tapi nggak papa:D Kita tetep berusaha lebih keras lagi untuk menjadi yang terbaik!  

Menjadi hebat adalah pilihan hidup bukan takdir. SEMANGAT!

Salam

Sabtu, 29 September 2012

SAYAP CACAT (tiga)


kadang kita bingung. kenapa kita terunta-lunta. terlantar. nggak tahu mau kemana. Nggak tahu harus ngapain. Nggak tahu apa yang kita pingin. Nggak ngerti juga harus sama siapa. Mendadak jadi orang asing rasanya. Jadi semacam alien yang tersesat di bumi. Banyak banget orang. Tapi sama sekali kita nggak kenal itu siapa. Kita sendiri. Bener-bener sendiri. Kita jadi bertanya-tanya kemana semua orang. Kemana orang yang melahirkan kita. Kemana orang yang seharusnya bertanggung jawab atas kehidupan kita. Kemana orang yang ngaku cinta sama kita. Kemana temen-temen kita? Kemana?
Sebuah tanda tanya besar yang sebenernya bisa dijawab dengan satu kata, “sibuk”
Dalam kehidupan ini kadang kita bingung. Apakah kita harus berbuat baik pada semua orang? Harus selalu ada saat dibutuhkan? Harus selalu membantu. Harus selalu dapat diandalkan.  Harus jadi orang yang bener-bener baik. Lalu kemana letak orang yang nggak baik? Terasing? Atau memiliki komplotan orang yang nggak baik juga. Sebenernya apa sih baik itu? Bukannya baik itu relatif. Sama kaya cantik.
Kalau kita udah baik sama semua orang. Kalau kita udah jalanin sesuatu dengan sebaik mungkin. Apa ada jaminan orang lain juga selalu baik sama kita? apa saat kita selalu ada untuk mereka. Mereka akan selalu ada untuk kita. waktu kita butuh. Waktu kita sendiri. Semua itu nggak ada jaminan. Nggak ada patokan.
Siapapun benci sendiri. Meskipun gak bisa dipungkiri juga. Kadang kita memang butuh sendiri. Bebas dari orang-orang munafik yang baik tapi memiliki maksud lain. Bebas dari orang –orang yang mengoceh tanpa henti tanpa kita minta. Bebas dari orang-orang yang Cuma bisa bentak-bentak dan bikin sakit telinga. Jadi capek sama apa yang namanya hidup. Jadi nyerah sama keadaan yang sebenernya jalannya juga gini-gini aja. Monoton. Seneng juga rasanya gitu-gitu aja. Begitu juga dengan sakit.  Bosen? Sepertinya. Aku lelah.

Untuk semua orang yang mengenalku.
Maaf mungkin aku nggak pernah jadi orang yang bener-bener baik dalam hidup kalian.
Kadang rasanya aku pingin mundur dalam hidup kalian.
Gantiin posisi aku dengan orang lain yang lebih baik dari aku.
Maaf aku berantakan.
Aku nggak pernah tahu apa yang aku pikir dan apa yang aku lakuin.
Maaf aku yang tiba-tiba pergi tanpa sebab
Maaf buat kalian marah.
Aku masih inget waktu kita marahan. 
waktu berulang kali aku bilang Good bye
tapi nyatanya aku nggak pernah bener-bener pergi.
kalau kalian bener-bener kenal aku.
kalian pasti tahu kalau aku adalah orang yang nggak pernah tega bener-bener ninggalin orang lain.

aku juga masih inget waktu kita ketawa-ketawa. 
waktu kita nangis.
waktu kita kehilangan satu sama lain.
Aku pingin sendiri. Entah mengapa rasanya ingin aku lepas kalian semua.
Aku mau mati? Hahaha entahlah.
Mungkin aku Cuma bagian kecil dalam hidup kalian.
Yangbener-bener kecil.
yang nggak ada artinya.
Mungkin aku nggak cukup baik.
Terimakasih udah pernah hadir dalam hidupku.
Terimakasih pernah mengenalku.

SAYAP CACAT