Sabtu, 05 Maret 2011

L E X A

Suatu hari di malam yang gelap saat hujan akan turun. Jesika tak bisa pergi ke danau untuk menemui Lexa, kekasihnya. Ibu memanggil Jesika malam itu. Ada lelaki yang akan meletakkan hatinya di hati Jesika. Ibu dan Ayah setuju. Bahkan, esok pagi kabarnya lelaki itu akan kerumah Jesika dan melingkarkan sebuah cincin ke jari manis Jesika. Wajah Jesika memucat. Tidak. Ini tidak mungkin. Hati Jesika telah hilang dibawa Lexa. Dan hati Lexa kini yang ada di dalam dadanya.
Jesika berlari. Di dalam hujan yang lebat Jesika menangis. Menuju danau. Tempat Jesika dan Lexa biasa bertemu. Tapi Lexa tak ada disana. Lexa menghilang. Jesika, mencari wajah Lexa yang sangat ingin ditemuinya saat ini. Bibir Jesika bergetar. Dingin dan takut.
Sesosok tubuh memeluk Jesika dari belakang.
“Lexa...?” Ucap Jesika mencoba menerka sosok tersebut.
Tubuh itu mengeratkan pelukannya di tubuh Jesika. Jesika menangis. Lega. Saat ini ia masih dapat bertemu dengan Lexa. Mendapatkan pelukan Lexa yang mungkin esok tak akan di dapatkannya lagi.
Dengan gugup diiringi cucuran air mata, Jesika menceritakan semuanya kepada Lexa. Aku ingin bersamamu selamanya, kata Jesika putus asa. Sayap Lexa berkepak, air mukanya sendu. Kita tak mungkin bisa selamanya bersama, Jesika. Kau tahu kita berbeda, dan orang tuamu pasti tak akan bisa mengerti. Kembalilah pada Ibumu, dan letakkan hatimu di hati lelaki itu.


Sebelum Jesika menjawab, Lexa lenyap. Jesika menangis. Sekelilig danau menjadi gelap. Tak ada lagi cahaya para peri seperti Lexa. Jesika menundukan wajah, berjalan gontai. Menembus gelap, menuju ke tepian danau.
Tahun tahun berlalu, Jesika masih sering datang ke hutan untuk menemui Lexa. Ia sering bertemu peri peri yang lain. Yang lebih indah. Yang lebih menawan. Tapi tak ada yang seperti Lexa. Jesika bukan mencari peri yang lebih indah. Ia hanya mencari Lexa. Lexa. Hanya Lexa.
Hingga akhirnya, Jesika mendengar berita dari peri lain, jika Lexa telah mati. Alkisah, Lexa merobek sayapnya sendiri sehari setelah pertemuan terakhirnya dengan Jesika. Kemudian Lexa menenggelamkan kedua sayapnya ke dasar danau. Tak lama kemudian Lexa jatuh sakit. Dan mati.
Jesika menangis mendengar cerita kematian Lexa. Hati Jesika berada di dada Lexa. Dan Lexa membawanya mati. Dan kini hanya ada hati Lexa yang ada di dada Jesika. Hanya itu yang ia miliki. Tanda cintanya bersama Lexa. Kekasih yang selalu hidup di hatinya.

Lexa, aku mencintaimu.
Jesika.