Selasa, 28 Februari 2012

KETIKA AKHIR MAMPU BERCERITA

Malam terasa  sangat dingin. Ditemani lolongan anjing dan bau busuk sampah di ujung selokan. Angin berhembus melalui fentilasi jendela. Sebagian ranting pohon berderik. Bernyanyi bersama. Nyanyian malam yang menakutkan.
Aku dan Flo sedang menghabiskan makan malam bersama. Di atas meja hanya ada semangkuk sereal ditemani sebotol susu dingin.
Flo membuka matanya. Lebar. Mata itu menerobos kegelapan malam yang selalu menghadirkan suasana hantu berkeliaran. Hati Flo patah.  Orang yang ia cintai mematahkannya. Membuangnya bersama seonggok sampah di selokan.
                Flo terus berjalan diiringi malam yang sakit. Semilir angin menerpa rambutnya. Meniupkan aroma kerinduan yang menusuk dadanya. Flo sayang, lupakan kesedihan ini. Suara yang sama. Suara seseorang yang mencintai aku dan Flo. Flo dan aku. Sementara aku hanya memandang mata Flo, tatapan yang dingin dan kosong.  Jika saja waktu bisa ditarik mundur. Ketika kami hanya dua gadis kecil berkepang yang hidup bahagia.  
                Aku dan Flo sepasang adik kakak yang selalu baik-baik saja. Keluarga kami cukup bahagia. Aku mencintai Flo. Dan Flo mencintai aku. Meskipun toh tak pernah ada orang lain yang mengisi kehidupan kami. Yakinlah, Aku dan Flo selalu baik-baik saja.
Maafkan aku, apakah aku bercerita terlalu cepat? Mungkin saatnya bagiku bercerita tentang keberadaanku yang cukup aneh tinggal bersama Flo. Flo saja. Tak ada yang lain. Kemana orang tua kami? Jangan tanyakan itu padaku. Tanyakan saja pada langit. Entah kemana Ia membawanya. Ayah dan Ibu kami bercerai lima tahun lalu. Lalu ayah kami yang orang belanda itu kembali ke negrinya. Kabar yang aku dengar, ia telah menikah lagi dan memiliki anak. Sementara ibu kami. Seminggu setelah perceraian itu ibu menghilang. Menyisakan secarik kertas yang mengatakan bahwa ia ingin pergi untuk tenang.
Aku rasa orang tua cukup egois. Pergi begitu saja. Meninggalkan dua anak yang tak pernah mengenal dunia luar. Aku dan Flo tidak punya teman. Kami tinggal di perkebunan besar dan menyewa belasan orang untuk merawat kami. Orang tua kami memilih program Home schooling , alasannya sekolah di kota cukup jauh. Selain itu, konon anak keturunan bangsawan tidak boleh bergaul dengan anak pribumi.
Tapi beberapa tahun kemudian keadaan kami memburuk. Perkebunan kami bangkrut. Dan kami harus menjual sedikit demi sedikit tanah perkebunan untuk menyambung hidup kami. Pak Tom, pengacara ayah yang selalu mengurusi semuanya. Aku tidak pernah tahu pasti kondisi keuangan perkebunan ini, aku hanya mendengarnya dari Pak Tom. Sementara ayah dan ibu kami menghilang. Sama sekali mereka tak mengirimkan kabar sejak tiga tahun silam. Hanya tinggal aku dan Flo di rumah belanda yang cukup besar ini. Aku dan Flo yang sangat kikuk terhadap dunia luar.
Pembantu kami juga dipecat satu persatu. Kami tak sanggup lagi menggajinya. Hingga yang terakhir. Bik Inah, yang rela hidup dengan kami tanpa digaji sepeserpun.  Kondisi perkebunan kami memprihatinkan. Semakin gersang. Dan tak sekoin pun kami hasilkan dari perkebunan. Terlebih setelah Pak Tom jatuh sakit. Keuangan kami semakin memburuk.
                “Non Flo, ayo dimakan Non...!” Teriak Bik Inah.
                “Iya Flo ayo makan,” kataku.
                “Nggak kak, Flo nggak lapar,” Jawab Flo. Air mata Flo menggenang dibawah kelopak matanya. Aku memeluk Flo. Gadis berusia 14 tahun itu hanya terisak lirih di pelukanku.
Bik Inah memandang kami. Ia tersenyum sabar melihat sikap manja Flo,
                “Non, harus makan.. Non nggak boleh nangis lagi, nggak boleh sedih. Disini ada Bibik, ada Non Clara yang selalu nemenin Non Flo,” ujar Bik Inah.
Flo masih sedih. Masih mendekam di pelukanku. Aku merendahkan posisiku. Hingga kini wajahku dan Flo berada dalam posisi sejajar.
                “Flo mau apa sekarang biar nggak nangis?” tanyaku sambil menghapus butiran air di pipi Flo.
                “Tidur yuk Kak...” jawab Flo.
Aku tersenyum.
                “Mau kakak temenin?” Tanyaku.
Flo mengangguk. Dan kami berjalan menuju ujung lorong. Tempat kamar Flo berada. Aku naik ke atas ranjang. Flo mengikutiku. Kemudian ia membaringkan tubuhnya di dekat tubuhku. Dan aku memeluknya. Mendekap tubuhnya yang mungil dan dingin.
                Mata Flo terpejam. Akhirnya, mata itu berhenti juga mengeluarkan air. Aku belum bisa terlelap. Angin dingin di luar masuk melalui celah jendela dan membuat aroma ketakutan kembali tersirat di benakku. Jadi teringat peristiwa malam itu. Aku lupa tepatnya. Yang aku ingat malam itu angin juga berhembus keras seperti malam ini.
                Gerombolan laki-laki. Mereka mengetuk keras-keras pintu rumah kami. Siapa yang datang semalam ini?  Flo membukakan pintu dan ia sangat terkejut melihat beberapa orang laki laki bertubuh besar menghadang pandangannya di depan pintu.
                “Siapa kalian?”
Lelaki-lelaki itu tertawa cekikikan sembari menatap wajah Flo.
                “Kami mau menagih untang Bapak kamu.”
                “Utang apa? Aku nggak ngerti maksud kalian.” ucap Flo.
                “Bapak kamu punya utang banyak. Dan dia menyerahkan rumah ini beserta isinya sebagai jaminannya!”
Aku mengintai Flo dari ruang makan. Sepertinya, Flo dalam kondisi yang buruk. Aku menghampiri Flo dan aku sangat terkejut melihat lelaki-lelaki bertubuh kekar itu sedang berbicara dengan Flo.
                “Tapi utang apa? Kami sama sekali nggak ngerti.” Tanya Flo.
                “Utang untuk membesarkan kalian. untuk merawat perkebunan ini! Untuk memberi makan kalian! Sudah jangan banyak tanya! Minggir! Saya mau masuk!”
                “Nggak! Kalian nggak boleh masuk!”
Flo menghadang di depan pintu. Gadis kecil itu tampak lebih berani malam ini. Sesaat kemudian Terdengar dua letupan senapan. Satu mengarah ke kepala Flo satu mengarah ke dadaku. Tepat di jantungku.
Flo mati. Dan aku menyusulnya. Bik inah berlari ke ruang tamu dan Ia melihat tubuhku dan Flo terkapar di lantai. Bik Inah memeluk haru tubuh kami. Gerombolan lelaki itu tak berhenti begitu saja. Mereka menembak kepala Bik Inah dan membuatnya hancur seketika. Kami. Tiga mayat yang terkumpul di dalam ruang tamu. Bik Inah mati memeluk aku dan Flo. Hanya dia yang menyayangi kami. Kemudian gerombolan lelaki itu menarik tubuh kami. Menyeret kami satu persatu ke halaman belakang dan menguburkannya bersama para cacing dan tanah basah.

Minggu, 26 Februari 2012

REDUP


Aku mau jadi pengantinmu dengan kerudung putih, gaun, dan mahar. Tapi kamu adalah wanitaku, tak ada pernikahan, tak ada perkawinan. Yang aku tahu aku hanya terus mencintai dan menyayangi, sampai kapan? Entahlah, sampai tak tentu  waktu.

Kamu yang berjalan didepan. Aku yang mengikutimu di belakang.
Kau bilang ingin bermain. Aku menunggumu hingga kau selesai bermain. Kamu bilang aku membosankan. Carilah kawan yang lain, yang tidak membuatmu bosan. Dan aku tetap menunggu menunggu dan menunggu. Hingga kamu yang pergi bukan kerena pernikahanmu atau pernikahanku. Tapi karena kita bukan lagi sepasang sayap yang bersama.

Selamat mejauh, sementara hatiku terus mengenangmu.aku sahabatmu, dan aku mantan wanitamu. Aku dan kamu sama sama tak tahu, mana batas antara sahabat dan wanita (pacar).
Kamu dan aku menjalani semua berdua. Makan berdua. Minum berdua. Aku tak lengkap tanpa kamu, tapi apakah kamu lengkap tanpa aku? Iya katamu. Tapi nyataya kamu meninggalkanku.

Kamu dan aku sama sama tahu, semua akan berakhir dengan lilin yang mati, dengan kegelapan. Apa yang kulakukan, kau lakukan? Semua tanpa arti. Lalu kemana berikutnya? Apakah aku harus menjauh dan pergi? Lari dan mati atau diam dan menanti, yaa.. menanti semua selesai, semua kisahmu dan aku, sayangmu dan sayangku, semua berakhir.sudah.. semua berakhir.


Lentera malam masih dengan lilin yang berbinar.
Mengenangmu sayang, menantimu memelukku saat dingin menyertaiku.

“aku menyayangimu” katamu.

“benarkah, lalu?”

“aku ingin bersamamu selamanya.” jawabmu.

“kenapa?” tanyaku.

“aku hanya mau bersamamu, bukan bersama yang lain” jelasmu.

Tapi itu dua tahun lalu, sementara kini.

“masihkah kau menyayangiku?”

“tak tahu” jawabmu.

“masikah kau ingin bersamaku?”

“tak tahu”

“kenapa kau tak tahu?”

“karena aku tak lagi mau menjawabnya.”

“kenapa?”

“takut air matamu mengalir bila jujur”

“katakan, aku ingin dengar!” desakku.

“tidak”

“KATAKAN!”

“hmh..” kau menghela nafasmu.

“ya, aku tak lagi menyayangimu” lanjutmu.

Air mataku meleleh jatuh di pipi.
Kamu memandangku. Tak berkata apa-apa, tak ingin memelukku atau apa. Kamu hanya diam, diam, diam, dan terus diam.

“aku sudah tau kamu akan mengangis.” akhirnya mulutmu berkata.

“kau suka dengan tangisanku ha? Kau suka dengan air mata ini?” aku menatap murka ke arahmu. Kamu tersenyum, sedikit menyengir.

“siapa suruh kamu menangis? Bukannya kamu yang memaksaku berkata jujur? Dan bila kejujuranku melukaimu, apakah itu salahku?”

aku tak menjawab pertanyaan sadismu. Jahat sekali.
Sahabatku, mantan wanitaku, atau musuhku, entah dengan nama apa aku harus memangggilmu. Kamu melukaiku. Taukah kamu tentang hati yang menyayangi lalu ditinggal pergi dan disayati? ya. Itu hatiku. Sahabatmu, mantan wanitamu, yang mencintamu

Kembali ke kamarku. Menulis catatan detik detik sebelum kematian. Diantara cahaya dan kegelapan. Diantara berjalan dan mematung. Diantara bernyanyi dan menangis. Diantara bersedih dan tak punya hati. Diantara nayala lilin yang hidup dan mati REDUP ya, itu aku. Wanitamu.

Kamu tak lagi ingin memanggilku 'sayang' sebagai tanda kau menyayagiku. Baiklah panggil aku 'musuh'.

“tak mau” jawabmu.

“kenapa?'

“aku bukan musuhmu!”
“lalu kamu siapa? Kamu tak lagi menyayangiku bukan? Mau kau panggil aku jahanam pun aku terima”
terdiam sejenak.

“hmh..” ka
mu tersenyum bengis.

“ya, aku tak menyayangimu lagi, tapi aku bukan musuhmu. Aku mantan kawanmu. Mantan wanitamu. Untuk apa aku memanggilmu jahanam? Untuk melikaimu? Bodoh..” kamu menghela nafas dingin.

“bodoh sekali.. kamu sudah cukup terluka karena kepergianku. Lantas Kenapa aku harus membuatmu luka lagi?” lanjut
mu, dan kau semakin tampak tak berperasaan.

“JAHANAM KAU!” hujatku.

“bangga sekali kau membuat luka itu! Biar apa ha? biar apa?biar aku mati karena lukamu?jahanam!” aku naik pitam. kau memandangku tanpa ekpresi.

“agar kau dan aku terlepas, sebelum semuanya semakin sakit” Jawabmu

“semakin sakit, apa maksudmu? Tidakkah kamu mengetahui aku sudah cukup sakit saat ini?”

“aku tau. Tapi lebih sakit lagi bila melepasmu nanti..” kau menunduk, memutus kalimat yang belum kau selesaikan.

“nanti.. ketika rasa sayang itu semakin besar, aku takut aku dan kamu malah semakin sulit dipisahkan” lanjutmu.
Aku terisak. Air mataku menetes. Tak kau hapus.

Aku disudut kamar gelapku. Sementara kau di atas ranjang tidurku yang kotor dan berantakan. Tubuhmu mendekat, berjalan setapak demi setapak ke arahku. Semakin dekat. Apakah kamu akan memelukku? Kuharap iya. Aku rindu bahumu. Pelukanmu. Dan kamu.
Jantungku berdegup kencang tak berirama. Jarak yang sangat dekat denganmu. Limapuluh sentimeter didepanku
Kamu berhenti. Tak lagi maju dan mendekap erat tubuhku. Kamu diam. Menatapku. Aku juga menatapmu. Dalam.

            “kenapa berhenti menangis? Lanjutkan, aku ingin mendengar tangisanmu, yang lebih keras” ucapmu kejam.
Aku terisak lagi. Kata-katamu terus menyayat. Tingkahmu membuatku tenang sesaat kemudian kembali melukaiku.
Kamu tersenyum, bengis, puas, sadis. Makhluk seperti apa didepanku ini? Senyummu, menyakitkan. Aku mendorong tubuhmu. Berlari menuju pintu, menyusuri anak tangga. Berlari. berlari terus berlari dan keluar rumah. Tetap menangis.

Menjadi manusia lingling di dalam malam yang pekat. Hiruk pikuk. Orang-orang berlarian. Kendaaan. Bunyi klakson. Suara pedagang. Suara tawa tangis anak kecil yang merengek meminta pemen. Apa yang kalian lakukan, aku bingung, kalian membuat otakku meledak.

            “aaaaaaaaaaa!” aku berteriak . Semua mata memandangku. Kemudian aku tersenyum frustasi. Dengan air mata yang tentu saja belum mengering.

Kemana kamu? Kemana kamu yang dulu? Sahabtku, mantan wanitaku yang selalu menjagaku. Kamu raib, kamu hilang. Hanya memori lama berputar kembali di otakku.
Aku dan kamu bertemu di sore yang cerah. Berjalan bergandengan menyusuri trotoar. Tersenyum, berdua, brcanda, tertawa, kemudian saling bercerita. Aku menuturkan kisahku yang pilu. Butiran air keluar dari sudut mataku, kamu menghapusnya. Kembali bercanda, membuatku tertawa. Memelukku, dan kamu berkata 'aku menyayangimu' hanya memori. Aku tak ingin semua terulang  tapi tak mungkin lagi! tak akan lagi!

tak ada aku dan kamu lagi. Tak ada KITA BERSAMA lagi. Semakin deras, air mata meleleh tak terhenti. Mengenangmu. Semua sudah berakhir sayang.
Kamu datang. Kamu diseberang alan membaa payug besar, kamu berubah pikiran?

Aku senang bukan kepalang.
Tersenyum dengan butiran air mata yang belum hilang.
Jesi!” aku melambaikan tanganku ke arahmu.
Kamu yang menoleh kana-kiri kebingungan, mendapatiku yang ada di seberang jalan.
Dihadapanmu, tepat lurus didepanmu.
Wajahmu memandangku, aku girang. Tersenyum.
Menoleh kanan dan kiri jalan, bersap menyeberang menuju tempatmu.
Sabar, sebentar lagi sayang, aku datang. Mobil masih tampak jauh.
Aku berlari, tapi..aku kembali terpaku.
Melihat sosok lain menghampiri tubuhmu.
Serang perempuan yang kenal, berteduh dibawah payungmu. Sembari memberikan sekaleng minuman soda kepadamu.
Kamu menerimanya. Menyambutnya dengan senyum. Ia tak menggandeng tanganmu, atau bersikap manja sepertiku biasanya padamu. Dia hanya membuatmu tertawa, sekaligus juga membuat aku menangis. Kembali kecewa, merasa sakit yang luar biasa. Kamu punya cara sendiri menunjukkan kebenarn yang menyakitkan.
Merasa bersalah, serta hancur dan yakin pasti kehilanganmu.
Inikah persahabatan yang semestinya? Ya. kau benar sahabat, mantan wanitaku. Kau sudah melaksankan tugasmu. Memberitau diman salahku. Membiarkan mataku berair dalam kesalahan itu, bahkan meninggalkanku.

Kamu benar kawanku, tapi,

-SAKIT! KAMU TETAP MEMBUATKU SAKIT,
MAMU MENINGGALKANKU! KAMU JAHANAM!

KAMU MENYAKITIKU, KAMU MEMBUATKU MENANGIS.
“AAAAAAA...” aku kembali berteriak seperti orang gila.
Megeluarkan air mata.
Sementara truk besar melaju kencang ke arahku. Dan mataku hanya mampu menghalangi sinarnya.
...


sahabatmu yang benar itu merangkulmu, menjauh. membiarkan aku terkapar diantara orang-orang yang mungkin tak lagi mengenali jasadku. Kamu tak menangis, hanya diam terpukul tragis kematianku. Bukankah persahabatan yang salah pasti akan berakhir, tunggu waktu saja. Cepat lambat, sakit tidak. Keduanya akan terpisah karena ada di jalur yang salah. Harunya kamu meninggalkan lebih awal. Sebelum sayangku semakin besar, hingga tak mampu melepasmu, Biarkan saja lilin yang redup itu menyala tanpa kehadirnmu. Bukan malah mati dihadapanmu sebagai sahabat, dan mantan wanitamu.

Selasa, 14 Februari 2012

KINGDOM

Ku beri tahukan padamu tentang istana besar bernama rumah. besar. bagus. tapi, siapa yang mampu bertahan tinggal di dalamnya? jika yang mendiami rumah itu adalah dua monster. Yang sehari dua hari berwajah baik, namun setelah seminggu dua minggu mereka akan menyiksa siapa saja yang ada di dalamnya. Sekalipun itu, anak-anak mereka. Buah cinta yang konon katanya menjadi tombak harmonisnya suatu rumah.
harmonis apa?
tiga anak monster yang tinggal dirumah ini saling membenci. Satu diantaranya bernama Saya. Saya membenci segala yang berhubungan dengan rumah ini. Apalagi saat ramai. saat anggota keluarga monster berkumpul. Saya ingin menutup telinga saya rapat-rapat. pergi ke kamar saya. Mengungsi. Membiarkan suara-suara gaduh itu meraung.
hingga senyap-
dan saya baru memberanikan diri mendekati dapur. Mengambil sesuap nasi untuk makan. Siapa sangka jika dalam istana bernama rumah sebesar ini ada perempuan kecil yang harus mengendap-endap terlebih dahulu untuk menculik sesuap nasi. Ironi. 
tahukah anda ketika saya di kurung di dalam rumah yang lebih mirip tempat penyiksaan ini.rasanya, saya ingin keluar. karena setiap sudut dari rumah ini hanya ditenun oleh bayangan-bayangan penderitaan saya di masa lalu.
terlalu sakit untuk saya ungkapkan. Saya masih ingat saat rambut saya dijambak oleh monster laki-laki yang saya panggil ayah. Dengan bengisnya ia menarik rambut saya dan menyeret tubuh saya mengitari rumah. Saya hanya perempuan sembilan tahun saat itu. Lalu tahukah anda apa yang kemudian di lakukan lelaki bengis itu dengan rambut panjang saya? Ia memangkas rambut saya. Mahkota saya. Dan membiarkan saya menangis bersama sisa-sisa rambut panjang saya yang berserakan di lantai. Itu sebabnya, seumur hidup saya tak pernah memiliki rambut panjang. Saya takut. Saya trauma. Saya tak ingin lelaki itu melakukan hal yang sama pada saya. Lagi.  
Lalu tembok ruang tamu. Saya juga masih ingat saat kepala mungil saya dibentur-benturkan ke tembok itu, Lagi-lagi oleh laki-laki yang saya sebut ayah. Bahkan terkadang hanya karena masalah sepele, hanya karena saya merengek meminta izin keluar rumah untuk bermain.
Lalu sudut dapur. Saya masih ingat tangan besar lelaki itu terus memukul tubuh saya hingga seluruh tubuh saya memar. Dan saya terjatuh di lantai. Kulit saya yang memar bersentuhan dengan lantai yang dingin. Rasanya perih. Dan lebih perih lagi saat saya menyadari Orang biadab yang telah menyiksa saya itu adalah ayah saya. Ayah kandung saya. Entah apa yang meracuni otaknya. Tapi saya rasa, memukul saya adalah kegiatan yang paling ia sukai.
Dan tahukah anda apa yang saya katakan ketika keesokan harinya teman-teman saya bertanya apa yang terjadi pada tubuh saya, saya hanya bisa berdusta. mengatakan saya jatuh.
saya berdusta karena saya benar-benar malu dengan keadaan keluarga saya.
satu-satunya tempat yang saya rasa paling aman adalah kamar saya. tempat saya berbagi nafas dan tangis. Tempat saya menyembuhkan perih-perih memar di tubuh saya sendiri. Tempat saya bercanda dengan teman-teman saya melalui handfon. atau tempat saya berkhayal dan terus menulis melalui laptop kecil saya.
Sejuta rahasia saya simpan rapat-rapat di dalamnya. Di kolong meja, bawah ranjang, bawah tempat tidur. tulisan tentang orang-orang yang saya cintai, obat-obatan yang sering saya gunakan saat aku frustasi bahkan silet, jarum,dan juga bekas darah yang saya sembunyikan. Saya memang penuh dengan rahasia.
Tiga anak monster yang tinggal dirumah itu, menjadi anak cacat yang tak pernah terungkap. kakak laki-laki saya adalah seorang pemerkosa kecil, yang pernah hampir membunuh saya saat saya ingin mengadukannya. Lalu saya, saya rasa saya adalaah psikopad kecil, yang tumbuh dengan luka, dan sangat mencintai darah. Sementara adik laki-laki saya, lebih beruntung. Ia memilih pergi meninggalkan rumah ini saat ia masih benar-benar kecil. Ia memilih tinggal di tempat dimana ia tak akan menerima banyak luka seperti kedua kakaknya.
 Saya lupa menceritakan pada anda tentang ibu saya, ia adalah perempuan yang tak mempercayai saya bahkan saat saya mengadukan kakak laki-laki saya yang hampir meniduri saya.
***
Saya. panggil saja begitu. Saya tak ingin menyebut nama saya karena saya malu dengan kehidupan yang saya miliki. Saya tujuh belas tahun sekarang. Saya korban dari keluarga palsu yang punya nama dan harta. Kakak laki-laki saya pernah hampir meniduri saya saat saya berusia delapan tahun. Ayah saya suka memukul saya. membenturkan kepala saya ke tembok dan menarik paksa rambut saya. Sementara ibu saya selalu semangat menyoraki ayah saya yang sedang menyiksa saya. Kulit tubuh saya banyak terkelupas cakaran ibu dan ayah saya. Saya perempuan yang membenci hidup saya. Saya perempuan sakit yang masih bertahan hidup dengan kondisi keluarga saya yang sebenarnya jauh dari kata baik. Berulangkali pasang mata melihat saya dan hidup saya. mereka katakan itu sempurna.
orang tua yang baik? kakak yang pandai?
kamuflase.
Anda tak pernah melihat apa yang saya lihat. Anda tak pernah melihat ketika wajah baik-baik mereka terkadang dapat berubah menjadi monster saat mereka menyiksa saya dengan bengisnya.
Anda tak pernah rasakan apa yang saya rasakan, ketika saya harus menerima kenyataan ketika orang yang menghancurkan hidup saya adalah keluarga saya sendiri.
Anda tak pernah mengerti berapa bekas luka yang tercecer di tubuh saya dari ujung rambut ke ujung kaki. lengkap. Dan tahukah anda jika saya yang membalut bekas luka itu sendiri. Sejak kecil, saya terbiasa berteman dengan perih.
Saya ingat semua luka yang pernah dibubuhkan di tubuh saya oleh orang-orang yang seharusnya melindungi saya. Keluarga saya. Dan tahukah anda hal itu membuat saya tumbuh menjadi perempuan sakit?
Saya memilih hidup dengan cara saya. Saya pengkonsumsi obat dalam dosis besar. Saya penghisap rokok. Saya suka melukai diri saya sendiri. Saya menghabiskan berlinting-linting tembakau saat saya sedang frustasi atau berbutir-butir pil saat saya merasa terlalu lelah untuk bertahan hidup. bahkan terkadang berpuluh puluh sayatan saat seseorang yang saya percaya menyakiti saya.
Yang membuat saya tak mengerti adalah, saat ayah saya mengetahui bekas sayatan di tangan saya karena saya frustasi dengan kondisi keluarga saya. Ia menangis. Menyatakan menyesal. Meminta maaf dan berjanji tak akan menyakiti saya lagi. Saya pikir ia benar-benar menyesal telah membuat hidup saya menderita.  Saya pikir ia dapat berubah menjadi malaikat dalam keluarga saya. Saya pikir. Dan saya mencoba mempercayainya.
Tapi lihat? Apa yang dia lakukan. Belum genap tiga hari setelah ia meminta maaf kepada saya. Hari ini ia kembali memukul saya. menampar saya. menjambak rambut saya. Menyeret tubuh saya dari ruang tamu ke kamar mandi.
Lagi?
saya berteriak. dan dengan semakin senangnya ia memperlakukan saya.
SEPERTI BINATANG. 
kulit saya penuh lebam dan hati saya berpuluh kali lebih lebam dari tubuh saya. saya jadi tak mengerti apa itu keluarga. kata guru saya saat saya kecil, keluarga tempat berlindung. tapi tahukah anda? jika satu satunya yang melukai saya adalah keluarga saya sendiri?
Sementara ibu saya yang tak perduli dengan keadaan saya itu kembali menyoraki memberi semangat pada ayah saya untuk terus memukul saya. Keluarga macam apa ini?
Saya menangis. Menghabiskan waktu saya di kamar. Memandang pilu berbagai luka yang terlukis di tubuh saya. Saya sudah tujuh belas tahun dan saya tetap disiksa. Haruskah saya pergi dari tempat ini? Sungguh, saya ingin berteriak. Saya benci keadaan seperti ini.
Tubuh saya sakit, dan hati saya lebih sakit lagi. Saya menjejali mulut saya dengan obat tidur. banyak sekali, agar saya lekas tertidur. Agar luka di tubuh saya dan di hati saya tidak terasa sakit lagi.
saya menangis. hanya menangis. dan tidur seperti orang mati. Lama sekali.