Minggu, 26 Februari 2012

REDUP


Aku mau jadi pengantinmu dengan kerudung putih, gaun, dan mahar. Tapi kamu adalah wanitaku, tak ada pernikahan, tak ada perkawinan. Yang aku tahu aku hanya terus mencintai dan menyayangi, sampai kapan? Entahlah, sampai tak tentu  waktu.

Kamu yang berjalan didepan. Aku yang mengikutimu di belakang.
Kau bilang ingin bermain. Aku menunggumu hingga kau selesai bermain. Kamu bilang aku membosankan. Carilah kawan yang lain, yang tidak membuatmu bosan. Dan aku tetap menunggu menunggu dan menunggu. Hingga kamu yang pergi bukan kerena pernikahanmu atau pernikahanku. Tapi karena kita bukan lagi sepasang sayap yang bersama.

Selamat mejauh, sementara hatiku terus mengenangmu.aku sahabatmu, dan aku mantan wanitamu. Aku dan kamu sama sama tak tahu, mana batas antara sahabat dan wanita (pacar).
Kamu dan aku menjalani semua berdua. Makan berdua. Minum berdua. Aku tak lengkap tanpa kamu, tapi apakah kamu lengkap tanpa aku? Iya katamu. Tapi nyataya kamu meninggalkanku.

Kamu dan aku sama sama tahu, semua akan berakhir dengan lilin yang mati, dengan kegelapan. Apa yang kulakukan, kau lakukan? Semua tanpa arti. Lalu kemana berikutnya? Apakah aku harus menjauh dan pergi? Lari dan mati atau diam dan menanti, yaa.. menanti semua selesai, semua kisahmu dan aku, sayangmu dan sayangku, semua berakhir.sudah.. semua berakhir.


Lentera malam masih dengan lilin yang berbinar.
Mengenangmu sayang, menantimu memelukku saat dingin menyertaiku.

“aku menyayangimu” katamu.

“benarkah, lalu?”

“aku ingin bersamamu selamanya.” jawabmu.

“kenapa?” tanyaku.

“aku hanya mau bersamamu, bukan bersama yang lain” jelasmu.

Tapi itu dua tahun lalu, sementara kini.

“masihkah kau menyayangiku?”

“tak tahu” jawabmu.

“masikah kau ingin bersamaku?”

“tak tahu”

“kenapa kau tak tahu?”

“karena aku tak lagi mau menjawabnya.”

“kenapa?”

“takut air matamu mengalir bila jujur”

“katakan, aku ingin dengar!” desakku.

“tidak”

“KATAKAN!”

“hmh..” kau menghela nafasmu.

“ya, aku tak lagi menyayangimu” lanjutmu.

Air mataku meleleh jatuh di pipi.
Kamu memandangku. Tak berkata apa-apa, tak ingin memelukku atau apa. Kamu hanya diam, diam, diam, dan terus diam.

“aku sudah tau kamu akan mengangis.” akhirnya mulutmu berkata.

“kau suka dengan tangisanku ha? Kau suka dengan air mata ini?” aku menatap murka ke arahmu. Kamu tersenyum, sedikit menyengir.

“siapa suruh kamu menangis? Bukannya kamu yang memaksaku berkata jujur? Dan bila kejujuranku melukaimu, apakah itu salahku?”

aku tak menjawab pertanyaan sadismu. Jahat sekali.
Sahabatku, mantan wanitaku, atau musuhku, entah dengan nama apa aku harus memangggilmu. Kamu melukaiku. Taukah kamu tentang hati yang menyayangi lalu ditinggal pergi dan disayati? ya. Itu hatiku. Sahabatmu, mantan wanitamu, yang mencintamu

Kembali ke kamarku. Menulis catatan detik detik sebelum kematian. Diantara cahaya dan kegelapan. Diantara berjalan dan mematung. Diantara bernyanyi dan menangis. Diantara bersedih dan tak punya hati. Diantara nayala lilin yang hidup dan mati REDUP ya, itu aku. Wanitamu.

Kamu tak lagi ingin memanggilku 'sayang' sebagai tanda kau menyayagiku. Baiklah panggil aku 'musuh'.

“tak mau” jawabmu.

“kenapa?'

“aku bukan musuhmu!”
“lalu kamu siapa? Kamu tak lagi menyayangiku bukan? Mau kau panggil aku jahanam pun aku terima”
terdiam sejenak.

“hmh..” ka
mu tersenyum bengis.

“ya, aku tak menyayangimu lagi, tapi aku bukan musuhmu. Aku mantan kawanmu. Mantan wanitamu. Untuk apa aku memanggilmu jahanam? Untuk melikaimu? Bodoh..” kamu menghela nafas dingin.

“bodoh sekali.. kamu sudah cukup terluka karena kepergianku. Lantas Kenapa aku harus membuatmu luka lagi?” lanjut
mu, dan kau semakin tampak tak berperasaan.

“JAHANAM KAU!” hujatku.

“bangga sekali kau membuat luka itu! Biar apa ha? biar apa?biar aku mati karena lukamu?jahanam!” aku naik pitam. kau memandangku tanpa ekpresi.

“agar kau dan aku terlepas, sebelum semuanya semakin sakit” Jawabmu

“semakin sakit, apa maksudmu? Tidakkah kamu mengetahui aku sudah cukup sakit saat ini?”

“aku tau. Tapi lebih sakit lagi bila melepasmu nanti..” kau menunduk, memutus kalimat yang belum kau selesaikan.

“nanti.. ketika rasa sayang itu semakin besar, aku takut aku dan kamu malah semakin sulit dipisahkan” lanjutmu.
Aku terisak. Air mataku menetes. Tak kau hapus.

Aku disudut kamar gelapku. Sementara kau di atas ranjang tidurku yang kotor dan berantakan. Tubuhmu mendekat, berjalan setapak demi setapak ke arahku. Semakin dekat. Apakah kamu akan memelukku? Kuharap iya. Aku rindu bahumu. Pelukanmu. Dan kamu.
Jantungku berdegup kencang tak berirama. Jarak yang sangat dekat denganmu. Limapuluh sentimeter didepanku
Kamu berhenti. Tak lagi maju dan mendekap erat tubuhku. Kamu diam. Menatapku. Aku juga menatapmu. Dalam.

            “kenapa berhenti menangis? Lanjutkan, aku ingin mendengar tangisanmu, yang lebih keras” ucapmu kejam.
Aku terisak lagi. Kata-katamu terus menyayat. Tingkahmu membuatku tenang sesaat kemudian kembali melukaiku.
Kamu tersenyum, bengis, puas, sadis. Makhluk seperti apa didepanku ini? Senyummu, menyakitkan. Aku mendorong tubuhmu. Berlari menuju pintu, menyusuri anak tangga. Berlari. berlari terus berlari dan keluar rumah. Tetap menangis.

Menjadi manusia lingling di dalam malam yang pekat. Hiruk pikuk. Orang-orang berlarian. Kendaaan. Bunyi klakson. Suara pedagang. Suara tawa tangis anak kecil yang merengek meminta pemen. Apa yang kalian lakukan, aku bingung, kalian membuat otakku meledak.

            “aaaaaaaaaaa!” aku berteriak . Semua mata memandangku. Kemudian aku tersenyum frustasi. Dengan air mata yang tentu saja belum mengering.

Kemana kamu? Kemana kamu yang dulu? Sahabtku, mantan wanitaku yang selalu menjagaku. Kamu raib, kamu hilang. Hanya memori lama berputar kembali di otakku.
Aku dan kamu bertemu di sore yang cerah. Berjalan bergandengan menyusuri trotoar. Tersenyum, berdua, brcanda, tertawa, kemudian saling bercerita. Aku menuturkan kisahku yang pilu. Butiran air keluar dari sudut mataku, kamu menghapusnya. Kembali bercanda, membuatku tertawa. Memelukku, dan kamu berkata 'aku menyayangimu' hanya memori. Aku tak ingin semua terulang  tapi tak mungkin lagi! tak akan lagi!

tak ada aku dan kamu lagi. Tak ada KITA BERSAMA lagi. Semakin deras, air mata meleleh tak terhenti. Mengenangmu. Semua sudah berakhir sayang.
Kamu datang. Kamu diseberang alan membaa payug besar, kamu berubah pikiran?

Aku senang bukan kepalang.
Tersenyum dengan butiran air mata yang belum hilang.
Jesi!” aku melambaikan tanganku ke arahmu.
Kamu yang menoleh kana-kiri kebingungan, mendapatiku yang ada di seberang jalan.
Dihadapanmu, tepat lurus didepanmu.
Wajahmu memandangku, aku girang. Tersenyum.
Menoleh kanan dan kiri jalan, bersap menyeberang menuju tempatmu.
Sabar, sebentar lagi sayang, aku datang. Mobil masih tampak jauh.
Aku berlari, tapi..aku kembali terpaku.
Melihat sosok lain menghampiri tubuhmu.
Serang perempuan yang kenal, berteduh dibawah payungmu. Sembari memberikan sekaleng minuman soda kepadamu.
Kamu menerimanya. Menyambutnya dengan senyum. Ia tak menggandeng tanganmu, atau bersikap manja sepertiku biasanya padamu. Dia hanya membuatmu tertawa, sekaligus juga membuat aku menangis. Kembali kecewa, merasa sakit yang luar biasa. Kamu punya cara sendiri menunjukkan kebenarn yang menyakitkan.
Merasa bersalah, serta hancur dan yakin pasti kehilanganmu.
Inikah persahabatan yang semestinya? Ya. kau benar sahabat, mantan wanitaku. Kau sudah melaksankan tugasmu. Memberitau diman salahku. Membiarkan mataku berair dalam kesalahan itu, bahkan meninggalkanku.

Kamu benar kawanku, tapi,

-SAKIT! KAMU TETAP MEMBUATKU SAKIT,
MAMU MENINGGALKANKU! KAMU JAHANAM!

KAMU MENYAKITIKU, KAMU MEMBUATKU MENANGIS.
“AAAAAAA...” aku kembali berteriak seperti orang gila.
Megeluarkan air mata.
Sementara truk besar melaju kencang ke arahku. Dan mataku hanya mampu menghalangi sinarnya.
...


sahabatmu yang benar itu merangkulmu, menjauh. membiarkan aku terkapar diantara orang-orang yang mungkin tak lagi mengenali jasadku. Kamu tak menangis, hanya diam terpukul tragis kematianku. Bukankah persahabatan yang salah pasti akan berakhir, tunggu waktu saja. Cepat lambat, sakit tidak. Keduanya akan terpisah karena ada di jalur yang salah. Harunya kamu meninggalkan lebih awal. Sebelum sayangku semakin besar, hingga tak mampu melepasmu, Biarkan saja lilin yang redup itu menyala tanpa kehadirnmu. Bukan malah mati dihadapanmu sebagai sahabat, dan mantan wanitamu.

1 komentar:

  1. asyik. tapi lebih asyik kalau tokoh akunya perempuan seperti penulisnya. karena kerasa perempuannya dari pada maconya hehehe...

    BalasHapus