Sabtu, 27 Juli 2013

KAMERA ISTIMEWA

              Aku bukan perempuan yang buruk rupa. Wajahku lumayan. Lumayan  terlihat cukup cantik diantara teman-temanku. Meski demikian, aku tak lantas memiliki percaya diri yang besar. Bagiku aku hanya satu dari banyak perempuan-perempuan yang lebih istimewa. Aku sering takut berda diantara orang-orang yang tidak kukenal. Aku sering berjalan menunduk. Kurasa selalu ada yang terasa salah dari diriku. Entah apa, aku tak mengerti. Kudengar beberapa lelaki memujaku. Aku perduli pada mereka walaupun tak tahu pasti harus seperti apa aku menanggapi pujaan mereka. Menurutku, aku belum menemukan seseorang yang benar-benar pas denganku.
        Tidak bereda jauh denganmu, Laki-laki yang istimewa. Kudengar beberapa teman wanitaku memujamu. Aku selalu mengiyakan dan mendenga cerita mereka tentangmu meski aku sendiri tak tahu apa yang sesungguhnya mereka puja darimu. Dua sahabatku pernah dekat denganmu meski mereka berdua  berteman. Tapi sama saja kurasa, keduanya hanya dekat lalu tak ada cerita kelanjutanya lagi. Iya, hanya sekedar dekat saja seperti yang sering kulakukan pada lelaki-lelaki itu. Aku mencoba memposisikan dirimu sebagai aku. Mencoba merasionalkan alasan mengapa kau sering dekat dengan banyak perempuan.
         Sudah kukatakan sebelumnya kau Istimewa. Profesimu mudah sekali dekat dengan perempuan-perempuan cantik sekaligus mudah juga untuk menarik perhatian mereka. Fotografer. Profesi yang sempurna bukan? Sama seperti kamera, kau memiliki lensa untuk melihat berpasang-pasang mata terindah di dunia.  Kau juga memiliki flash untuk menebar karismamu pada yang lain. Kau juga memiliki diafragma untuk mengatur intensitas karismamu agar tak terlalu gelap namun juga tak terlalu terang. Tentu saja kau juga memiliki shutter atau pembidik untuk membuat melumpuhkan ribuan pasang mata terindah jatuh hati kepadamu.
          Sangat istimewa bukan? Tapi aku masih tak juga mengerti mengapa sahabat-sahabatku jatuh hati padamu. Aku yakin alasan ini bukan sekedar karena keistimewaanmu. Aku yakin kau memiliki hal lain. Hal yang lebih istimewa tentunya. Aku mencoba mengamati semuanya ketika tadi aku bertemu denganmu. Dari sudut mata hingga ujung kaki, tak ada yang terlewat. Mungkin kau tak merasa, tapi percayalah aku melakukannya dengan seksama. Aku hanya ingin tahu, dari mana kau membuat sahabat-sahabatku jatuh hati.
 
             Aku mendapatkan jawabanya.  Jawaban yang istimewa. Kau berbeda, itu alasan mereka meletakan hati padamu. Kali ini aku benar-benar mengerti jika kau tak sama dengan lelaki kebanyakan. Dari cara bicaramu, aku tahu lau bukan pembual seperti lelaki yang sering kutemui. Dari pengamatanku, kau pekerja keras, saat kawan-kawanmu yang lain sibuk mengemis uang mati-matian pada orang tuanya malah kau mati-matian bekerja. Istimewa sekali bukan? Bila jawaban ini tidak kau setujui, kurasa kau tak berhak untuk mengatur jawaban personal seseorang. Setiap orang  sah-sah saja memiliki personal berbada, dan ini adalah personalku. Jadi ini keistimewaanmu? Pantas saja kau membuat kawan-kawanku meletakkan hatinya kepadamu.
         Tapi pengamatanku terhenti pada suatu titik di tanganmu. Apa itu? di tanganmu? Iya di tanganmu. Kuharap aku salah lihat. Tapi aku yakin dengan pengelihatanku. Aku sudah menyipitkan mataku dan melihat dengan detil bekas di tanganmu. Seperti bekas sayatan yang dalam. Aku pernah mengenal seseorang yang suka menyayat kulitnya sehingga aku benar-benar tahu mana bekas sayatan dan mana bekas goresan benda lain. Aku mencoba merasionalkan pikiranku. Apakah mungkin laki-laki yang sangat istimewa sepertimu memiliki bekas seperti itu? Siapa yang membuatnya? Apakah kau? Apakah laki-laki seistimewa kau pernah dirundung duka yang membuatmu hingga melakukan hal seperti itu? Kau menyadari pengamatanku, kemudian dengan sigap kau menutup lenganmu,

                “ Kamu lihat apa?” Tanyamu,
                “Eng.. enggak.. nggak lihat apa-apa” Jawabku gugup.


            Hai lelaki istimewa. Tak perlu kau sembunyikan. Kurasa luka tak hanya milik manusia tak sempurna, tapi juga manusia istimewa sepertimu. Luka berhak tumbuh dimana saja bahkan dihatimu. Untuk itu, kuberi tahu kau, Jika banyak wanita yang jatuh hati padamu. Jika banyak sekali wanita yang meletakkan hatinya di tanganmu.  Kau sangat istimewa. Kau bisa menjadi pemegang belati untuk banyak hati wanita cantik. Tetap berbaik hatilah, jangan kau buat luka yang melintang di hati mereka. Ku beritahukan ini padamu karena kau benar-benar istimewa.

3 komentar:

  1. Oh My Lord..!!
    Terimakasih kepada Annisa Elianti pemilik blog http://nisalianti.blogspot.com/ Atas tulisan Kamera Istimewanya. Ketikan mu membuat orang senang, meski hanya Fiksi, setidaknya ku merasa sedikit lebih istimewa.
    Kau juga begitu Istimewa.

    BalasHapus