Sabtu, 01 Juni 2013

LONG DISTANCE RELATIONSHIP


Aku minta maaf, mungkin aku bukan orang yang bisa jaga hati kamu. Aku ada disini, sementara kamu? Ada di ratusan kilo meter dari tempat aku berada. Aku bingung gimana cara jaga hati kamu disana. Apa harus aku jaga jarak dengan orang-orang yang ada di sini? Gitu? Biar hati kamu tetap tenang disana. Lalu kalau ada apa-apa sama aku disini, aku minta tolong siapa? Teriak-teriak ke kamu, paling-paling kamu cuma bisa telfon dan itu nggak nyelesaiin apa pun.
            Kamu tahu, aku orang yang gampang banget bingung kalau nggak ada siapa-siapa? Aku sama penakutnya sama kamu waktu kamu sendirian. Aku jadi inget waktu kamu sendirian dan telfon aku sama marah-marah karena aku cuekin padahal kamu cuma sendirian dalam waktu beberapa jam, sedangkan aku? Aku udah ngalamin itu hampir tiap hari Dear...
            Kamu selalu ngasih hal-hal yang nggak aku minta dan nggak aku butuh kaya liburan, makan dari ujung Suhat sampai ujungnya lagi. Traktir temen-temen dan ngebiarin orang lain lihat itu semua. Seolah-olah aku yang minta itu semua ke kamu padahal nggak sama sekali!
Kamu tahu, aku nggak butuh liburan. Aku juga nggak butuh makan sebanyak itu. Aku bukan dinosaurus yang makannya banyak. Aku juga nggak butuh kamu traktir semua temen-temen aku karena itu semua nggak penting menurutku! Lebih penting kamu ada disini. Makan biasa-biasa aja sama aku. Kamu kerja disini. Kamu nemenin aku disini. Aku rasa, itu yang lebih aku butuhkan dari kamu.
            Kamu bilang, kamu kerja buat nyenengin aku. Mana? Aku jadi bingung definisi seneng itu apa. Apa kamu pikir seneng itu liburan ke Karimun Java, makan dari ujung Suhat sampai ujungnya lagi? Iya? Kamu tahu bagi aku itu semua biasa aja? Nggak ada yang special menurutku. Sekarang, aku tanya sama kamu, kapan kamu nyenengin aku? Aku bukan orang yang bakal jadi istri kamu Dear... jadi sebenernya buat apa kamu kerja jauh-jauh seperti ini? Duit juga kamu tabung-tabung sendiri buat hidup kamu. Kamu kerja bukan buat nyenengin aku Dear, tapi buat nyenengin hidup kamu sendiri.
            Kadang, aku selalu ketawa sama nangis dalam waktu yang bersamaan waktu kamu beliin aku makanan-makanan yang nggak aku suka sama sekali. Roti rasa buah-buahan, snack rasa keju, susu rasa vanilla. Dari situ udah kelihatan banget kalau kamu nggak pernah bener-bener kenal aku. Kita pacaran bukan sehari dua hari, udah setahun lebih. Tapi makanan yang aku suka dan aku nggak suka aja kamu masih nggak ngerti.
            Kalau suatu hari nanti aku selingkuh. itu bukan berarti aku nggak cinta sama kamu. Aku sudah berusaha jaga sebaik mungkin hubungan kita. Tapi ada kalanya pasti aku nggak kuat, dan aku juga butuh dijagain orang disini. Aku sakit dear, aku punya radang akut di paru-paruku. Kadang air mataku jatuh tiba-tiba karena aku nggak bisa nafas. Rasanya sesak dear. Apa lagi kalau aku lagi nangisin kamu yang keras kepala. Dadaku sering sakit dan aku Cuma bisa diem. Aku udah bilang sama kamu kalau aku sakit. Kamu bilang kamu perduli sama aku. Tapi mana? Paling-paling kamu Cuma nanyain dari telfon aku keadaanku atau bawa aku ke dokter dua bulan sekali waktu kamu pulang cuti. Itu pun juga masih nggak pasti. Kamu tahu dear, sakitku nggak Cuma kambuh dua bulan sekali waktu kamu cuti, tapi bisa aja sewaktu-waktu. Kalau sakitku kambuh waktu kamu lagi nggak ada disini. Aku gimana Dear?
            Dengan keadaan seperti ini aku nggak bisa sendirian sebenernya. Tapi demi kamu, aku berusaha untuk kuat kuat dan kuat. Kamu bilang kamu dan aku sama-sama nguat-nguatin hubungan ini. Kamu salah sepertinya. Kita beda misi. Beda tujuan. Kamu disana tujuanmu untuk kerja buat nyenengin hidup kamu sendiri. Tapi aku disini, tujuanku Cuma pengen seneng sama kamu. Dan konsekwensinya aku harus nunggu kamu, nunggu dan nunggu itu membosankan.
            Aku takut cintaku ke kamu habis di jalan karena terlalu jauh jarak yang membentang diantara kita. Aku juga takut cintaku nggak kuat nyebrang laut, jadi tenggelam di tengah-tengah laut. Aku juga takut cintaku udah lelah dengan keadaan yang seperti ini. Aku takut cintaku udah nggak bisa lagi sampai ke kamu. Aku takut ingkari janji kita untuk saling cinta satu sama lain. Tapi sekali lagi aku bilang sama kamu, aku bukan orang yang bakal jadi istri kamu.
            Karena…                                    
            Dear, radang di paru-paruku bukan radang biasa. Aku baru tahu kalau aku kena kangker. Dan waktu di diagnosis dokter, ternyata kangker ini udah masuk stadium akhir. Aku susah nafas belakangan dan aku jadi lebih sering batuk-batuk darah. Pernah suatu ketika waktu jam kamu kerja aku bener-bener nggak bisa nafas. Aku coba ambil handfon buat nelfon kamu, tapi nggak kamu angkat. Mungkin kamu lagi sibuk. Setelah itu badanku jatuh ke lantai baru kamu telfon-telfon aku berulang kali tapi aku nggak pernah angkat telfon dari kamu sama sekali. Aku nggak marah dear sama kamu. Tapi sekarang, mungkin aku emang nggak akan pernah bisa angkat telfon kamu lagi. Nggak lama setelah aku jatuh di lantai, aku di bawa ke rumah sakit sama Mama Papa. Tapi sayangnya, nyawa aku keburu pergi sebelum aku sampai di rumah sakit.
            Kamu tetep telfon berkali-kali ke handfon aku sampai batraynya abis. Kamu sms dan BBM berkali-kali ke handfonku tapi aku nggak pernah baca lagi. Kamu tetep nggak tahu kalau aku udah nggak ada sampai temen-temenku yang ada di BBM kamu ganti Display picturenya sama salah satu foto aku dan ganti PMnya dengan ucapan,
            “RIP Clarissa. Semoga kamu tenang di sisi tuhan 0:)”
            Badanmu terhuyun jatuh ke lantai baca PM itu. Aku tahu perasaanmu, mungkin kamu jadi orang yang ngerasa paling bodoh di dunia ini. Mungkin kamu nyesel. Tapi buat apa disesali. Mungkin emang ini jalannya cinta kita. Udah takdirya emang kaya gini. Itu sebabnya aku bilang sama kamu, kalau aku bukan orang yang bakal jadi istri kamu.
            “Dear… Kalau suatu hari nanti kamu sayang sama orang lain, tolong ya… Jaga dia lebih baik lagi, jangan tinggalin dia Cuma karena urusan cari uang dan materi. Rejeki ada dimana-mana Dear… Nggak Cuma ada di ratusan kilo meter tempat kamu kerja itu… Sebab kita sama-sama nggak tahu apa yang akan terjadi sama orang yang kita sayang pada detik yang akan datang. Kalau kamu bener-bener sayang dia, harusnya kamu ada di sampingnya… Jaga dia baik-baik Dear… Aku selalu sayang kamu.”

Sabtu, 06 April 2013

MANTAN (satu)



Aku telah sampai di persimpangan jalan.
Dimana akan kubuat keputusan yang mempengaruhi hidupku selanjutnya.
Akankah aku tumbuh dewasa dan menjadi lebih baik denganmu.
Ataukah aku kembali pada jalan kita semula?
Apapun keputusanku. Aku harap kau tetap berada di situ.
Sebagai bagian dari masa lalu.
Serta sebagai akhir dari kisahku.
Akhir akhir.
Semoga tak akan ada luka seperti yang menemani akhir.
Semoga.

***

                Selamat datang masa lalu. Selamat masuk kedalam hidupku lagi. Apa kabarmu? Kuharap kau selalu baik-baik saja. Masih ingat siapa aku? Aku memori yang melepaskan dirinya darimu. Aku orang yang selalu takut. Takut pada apa saja. Pada orang-orang asing terutama. Orang-orang yang tak menyukaiku kurasa. Aku selalu takut jika seorang diri berada dalam keramaian. Sangat berbeda sekali denganmu. Orang yang tak pernah takut. Orang yang tak pernah sendiri. Orang yang sangat menyenangkan kurasa. Aku bersyukur kau ada disini. Denganku. Karena jika bersamamu aku tak pernah merasa takut sedikitpun. Aku merasa aman. 
                Aku tak ingin mengingat apapun tentangmu di masa lalu. Terlalu remuk kurasa. Aku ingin menelan masa lalu kita bulat-bulat. Menghabiskannya tanpa menyisakan sebutir kisah pun tentang aku. Tentang kamu.
                “Bisa berhenti membicarakan masa lalu?”
Itu kata-kata yang selalu kau ucap saat aku kembali membicarakan memori-memori lama kita.
                Selama tak bersamamu aku sering mempelajari rintik hujan yang jatuh ke bumi. Tanpa kusangka setiap rintik memiliki bunyi yang berbeda. Seperti rintik dari langit yang hanya sedikit tertutup awan, atau rintik saat langit begitu penuh dengan gumpalan awan gelap. Aku juga mencoba berjalan di bawah hujan. Mencoba mencari ketenangan dalam celahnya. Terkadang rintik hujan terasa lembut menyentuh kulitku. Tapi di saat yang lain entah mengapa menjadi terlalu tajam. Benar-benar tajam. Aku sering menahan tangis di bawah hujan. Entah mengapa hujan selalu bisa membawa seseorang terhanyut kedalam memori. 
 
Memori yang mana?
Memori yang terletak di bagian terdalam hati.
Memori yang sesungguhnya tak pernah beranjak selangkahpun dari hatiku.
Masih tentangmu sayang, masih tentangmu.
Seseorang yang hidup di masa lalu.
Seseorang yang pernah menguasai hati dan pikiranku.
Mantan.

Air mata yang kutahan ternyata meluap dari balik mataku. Semula sengaja kusembunyikan air mata itu. Aku tak ingin seorangpun melihatku dalam kondisi selemah ini. Kecuali kamu. Kamu yang dapat memahamiku hanya dari tatapan mataku.
                Segala sesuatunya dapat kau mengerti tanpa terlalu banyak aku berkata padamu.
***
                Aku mencintaimu? Tentu saja. Dan aku yakin tetap aku yang berada didasar lubuk hatimu. Meski mungkin kau tak pernah mengatakan apapun padaku. Tak pernah terlalu banyak berkata tentang apa yang kau rasakan padaku. Tapi tahukah kau? Aku juga memiliki kemampuan yang baik dalam membaca hatimu yang tampak rumit dan tak pernah memiliki kejelasan itu. Aku sering bicara denganmu dalam diam. Dalam kata yang tak pernah kita ucapkan satu sama lain.
                Lalu apa yang membuatku dan kamu terpisah begitu jauh dan begitu lama? Mungkin tak banyak orang mengerti tentang apa yang pernah kita jalani. Mungkin hanya akan mengundang tawa mereka. Bagaimana bisa dua orang yang seperti bumi dan langit saling jatuh cinta. Saling memiliki hati yang meluap satu sama lain. Sekian dalam kurasa. Serta begitu banyak kebetulan yang terjadi padaku dan padamu. Termasuk pertemuan kita. Kebetulan? Ah tidak juga. Aku rasa ini adalah takdir yang digariskan padamu dan padaku. Karena segala sesuatunya tak pernah benar-benar selesai.
                “Kau masih menyayangiku?” Tanyaku.
                “Tentu saja” Jawabmu.

Minggu, 31 Maret 2013

RAHASIA


Aku benci membiarkan orang lain mencari celah dari yang tak pernah kubicarakan pada mereka. Mencoba mengusik apa yang kusembunyikan. Termasuk apa yang ku tulis. Aku benci orang lain membaca sebelum waktunya. Aku benci orang lain mengobrak-abrik isi laptopku atau handfoneku. Aku benci orang lain yang merasa dekat denganku lalu membahas tentang apa yang kutuliskan.  Mencela dan memprotes tentang apa yang kutuliskan. Atau orang yang kemudian berkata aku tak boleh menuliskan yang lain selain dirinya. Angkuh sekali. Rasanya ingin kulempar kayu pada orang-orang seperti itu. Sesungguhnya aku marah. Tapi kupendam emosiku karena aku menghargaimu sebagai orang terdekatku.
                Aku sangat rahasia. Aku hanya mempercayai beberapa orang saja yang kurasa tak akan memprotes apapun yang kutuliskan atau apapun dalam hidupku. Entah mungkin ada sesuatu yang salah padaku dan membuatku tumbuh seperti ini. Aku selalu merasa risih bila orang lain yang tak ku izinkan masuk kedalam hal-hal yang kurahasiakan. Sekalipun mereka orang terdekatku. Aku tetap tak menyukai sikap seperti itu. Sikap yang terlalu ingin tahu dan tak bisa menjaga privasi.
                Aku lebih suka menutup pintuku rapat-rapat. Aku benci orang berlalu-lalang dibelakangku jika aku sedang menulis. Aku tak suka kepala mereka tiba-tiba melongok ke layar laptopku kemudian membaca satu kata atau kalimat yang kutulis dengan suara keras. Sangat mengganggu menurutku. Dan sebenarnya tak ada gunanya orang melakukan hal seperti itu.
                Kadang orang terdekatku sendiri tak bisa mengerti apa yang kulakukan dan mengapa sikapku sedemikian temperamental pada rahasia-rahasiaku. Aku seperti orang sakit yang menyembunyikan semuanya rapat-rapat. Aku sangat pandai bersembunyi. Kadang jika bukan karena mulutku sendiri yang  bicara, jarang sekali orang dapat mengetahui apa yang kurahasiakan selama bertahun-tahun. Entahlah. Bahkan aku sendiri tak mengerti mengapa aku menyembunyikan semuanya padahal tak ada yang penting menurutku. Aku hanya tak menyukai orang lain yang terlalu mau tahu dan ikut campur dalam urusnku.

Sudahlah, Sudah.
Aku menuliskan ini terutama untuk orang-orang terdekatku.
Yang kadang merasa angkuh menjadi sosok yang paling mengerti aku.
Mengerti apa?
Jika benar kau mengerti,
Seharusnya kau biarkan apa yang menjadi rahasiaku untuk tetap menjadi rahasia.  
Tidak untuk diketahui, Siapapun.
Termasuk kamu.

Kamis, 29 November 2012

PEREMPUAN DRAMA

Aku jadi ingin tahu apa pendapatmu jika kutanyakan padamu tentang keluarga?
Apa itu keluarga?  Mengapa harus punya keluarga? Siapa itu keluarga?
Bagimu. Mungkin keluarga adalah tempat yang menyenangkan. Ada orang yang kau panggil ibu dan ayah disana. Orang-orang yang selalu menyayangimu. Mencintaimu. melindungimu.
Dan bagimu yang lain, mungkin kau merasa tak memiliki apa yang ku sebut keluarga? Mungkin ayah dan ibumu telah bercerai? Atau ayahmu pergi entah kemana? Atau ibumu bersuami lagi, dan itu bukan ayah kandungmu.

Jadi mengapa aku bertanya-tanya. Aku hanya ingin tahu, apakah ada yang sepemikiran denganku.
Mendekatlah. Lebih dekat lagi.
Untukmu yang merasa tidak memiliki keluarga karena kondisi keluargamu sangat mengecewakan hatimu. Yang hanya memiliki satu orang saja,  Ayah atau Ibu tanpa pernah melihat mereka bersama lagi. Bisa jadi hidupmu lebih bahagia dari pada mereka yang memiliki keluarga utuh tapi tidak saling mencintai.
                Matamu terbelalak. Kau tak mempercayai perkataanku? Percayalah. Pernah aku jumpai sebuah keluarga yang utuh tapi hancur di dalamnya. Ada anak perempuan yang cantik tapi dihancurkan sendiri oleh edua orang tuanya. Anak perempuan itu berlari. Mencari kasih sayang di setiap bilik rumah, tapi tak pernah mendapatkannya. Diam-diam anak perempuan itu menyusup dari jendela rumahnya. Mengambil tali yang semula tak mengerti akan ia gunakan untuk apa. Matanya merah. Setiap kali pulang ke rumah selalu ada saja yang meremukkan hatinya. Mendadak ia membenci semua hal dalam dirinya. Kondisi hidup yang mengecewakannya. Keluarga yang tak pernah perduli padanya. Dan semua hal yang kian lama kian merobohkan hatinya.
                Anak perempuan itu lelah terlihat hidup seperti drama. Jadi ia tampilkan wajah yang bahagia ketika ia bertemu orang lain. Ia tersenyum padaku. Bertingkah lucu. Berlaku konyol. Sedikit berpura-pura bahagia. Sedikit berusaha lupa tentang keadaannya yang sebenarnya. Meskipun beberapa menit kemudian ia akan menangis sejadi-jadinya tanpa aku tahu apa sebabnya. Mungkin ada sesuatu yang menyiksa hatinya. Mungkin ada sesuatu yang meremukkan hatinya. Aku jadi ingin tahu apa yang sedemikian merubah emosinya.
                Siang itu ia bertemu denganku dan ia masih baik-baik saja. Ia tersenyum padaku. ku lihat dari kejauhan, seperti biasa ia sedang bertingkah lucu dan membuat teman-temannya tertawa. Beberapa jam kemudian, aku tak melihat sosoknya lagi. Selang beberapa waktu sebuah kepanikan terjadi. Perempuan cantik yang tersenyum padaku siang tadi telah tiada. Ia ditemukan gantung diri di kamarnya oleh pembantunya. Tangan peremuan cantik itu penuh dengan sayatan. Di kamarnya juga banyak sekali obat-obatan terlarang. Aku baru tahu jika ia seorang pemakai. Di sudut-sudut kamarnya. Ku dengar banyak ditemukan foto-foto dengan kondisi yang mengenaskan.  Robekan Foto keluarganya. Foto ayah dan ibunya yang ia coret-coret dengan sempurna. Yang semua orang tahu tentangnya Ia anak orang kaya dengan kondisi yang bahagia. Tapi kenyataan kali ini membuat semua orang sadar, bahwa selama ini perempuan cantik itu tengah bermain drama.
                Hatiku terasa berongga.  Seperti ada oksigen yang memaksa masuk dari celah-celah hidungku. Rasanya sesak. Jadi begiini cara tuhan memberitahu tentang tidak adanya kesempurnaan. Tentang perempuan cantik dari kehidupan yang semula kukira sempurna namun ternyata jauh dari kata sempurna. Tentang kematian, tentang sayatan, tentang luka yang sengaja di sembunyikan rapat-rapat.
                Aku masih terpaku ditempatku. Diam-diam dari kejauhan entah mengapa aku jadi membayangkan sosok perempuan itu. Aku mengingat-ingat senyumnya lalu membalikkan ekspresinya. Jadi saat aku lihat ia tertawa sesungguhnya ia tengah menangis?   
                 Suasana seketika menjadi hening.  Aku masih melihat perempuan cantik itu dari kejauhan. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku memejam-mejamkan mataku tapi  sosok perempuan itu masih ada disana. Entah mengapa semua suara lenyap dari telingaku.  Perempuan cantik itu menatapku dengan tajam. Semula ia tersenyum kemudian ia menangis sejadi-jadinya. Suaranya terasa memecahkan gendang telingaku. Aku menutup telingaku dan suaranya tetap saja terdengar.  Beberapa detik kemudian tubuhku terhuyun dan jatuh. Aku ditemukan pingsan.